Kolom Jamaah

“Bersila Bagi Datangnya Warsa”

 

Oleh: Rio NS

Tahun baru, seperti banyak hari-hari penting lainnya tidak mengantarkan gelombang tunggal. Selalu saja kemajemukan lebih mengemuka dan kadang justru keragaman ini yang tertinggal. Mungkin ini pula alasan mengapa pada masanya, rezim Soeharto cukup produktif melahirkan tema yang secara hirarki harus dipatuhi dalam cakupan melebar dan struktur yang sangat vertikal.

Tujuannya jelas: agar tidak ada multi tafsir dan khasanah pemaknaan. Segenap jajaran hanya diijinkan melakukan apa-apa yang sudah digariskan. Tidak tersisa ruang tawar menawar atau lontaran pertanyaan.

Era pasca mahasiswa menari-nari di kolam air mancur gedung perwakilan tertinggi, cengkok kehidupan sedikit mengalami perubahan versi. Keterbukaan, keleluasaan, kebebasan dan segala yang termasuk dalam irama suka-suka menjadi warna kehidupan di hampir seantero negeri. Melegakan atau menyesakkan? Jawabannya tidak akan kita bahas saat ini.

Kembali ke perihal (perayaan) tahun baru. Nasibnya “sebelas-dua belas” dengan peringatan lainnya. Ia digugat dengan sederet pertanyaan “mengapa” dan “untuk apa”. Kehadirannya dipertanyakan dengan amunisi “bukankah” dan “seharusnya”.

Sebagian yang bisa diungkap adalah bahwa perayaan tahun baru ini cukup mengancam konstelasi keyakinan. Karena sejatinya, ia adalah pergantian tahun masehi yang terkait dengan kelahiran seorang Nabi. Saya merasa tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar tentang asal muasal perhitungan waktu berdasarkan putaran matahari. Di sisi lain, saya melihat bahwa mereka yang mempertanyakan ini dalam kehidupan praktisnya tidak menggunakan almanak qomariyah hari ke hari.

Berikutnya adalah semacam larangan merayakan pergantian tahun dengan petasan, terompet, dan kembang api. Alasannya karena ketiga benda itu dipakai oleh teman-teman Nasrani, Yahudi, dan Majusi. Sik to, berarti boleh kan merayakan tahun baru sepanjang tidak menggunakan ketiganya? Atau yang lebih parah, berarti perayaan tahun baru yang tanpa unsur-unsur tersebut adalah perayaan tahun baru yang Islami?

Mereka yang bermewah-mewah di hotel berbintang satu hingga lima, berasyik masyuk dalam geliat keintiman atau gegap gempita mengandung bahaya di jalanan serta banyak contoh lain belum tersentuh oleh himbauan yang naif dan, maaf, menggelikan.

Lebih penting dari itu adalah teladan yang bisa saja dan sangat mungkin dijadikan kebijakan oleh mereka yang sedang bertahta. Ajak dan dorong khalayak melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena alasan logis yang menyentuh pola pikir yang wajar.

Kalau masih saja dogma awang-awang yang jauh dari kian mahalnya harga beras atau sulitnya mendapat jatah tabung melon gas, maka sekian tahun ke depan kita akan tetap dalam status “aku begini, engkau begitu = sama saja”.

Pergantian tahun baru, resepsi pernikahan atau peringatan hari ulang tahun akan sekedar jadi prosesi yang segera larut dalam hidup dan perjalanan. Menjadi terpenting dari itu semua adalah membawa muatan pesannya sebagai bahan internalisasi yang mempersenjatai langkah-langkah kita, sesudahnya juga selanjutnya.

 

Selamat menanggalkan kalender usang!

 

Red – Penulis adalah, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.