Syekh Kamba melihat ajaran Rasulullah yang murni dapat terpresentasikan di Maiyah, beragama yang tulus apa adanya tanpa ada riya’.

Terasa sangat spesial penyelenggaraan BangbangWetan (BbW) pada 28 September 2018. Acara yang bertepatan dengan momen milad ke-12 BangbangWetan dihadiri oleh Mbah Nun, Bu Novia Kolopaking, Syeikh Nursamad Kamba, KiaiKanjeng, dan Cak Kartolo. Lebih spesial ketika memasuki tempat acara, pelataran Balai Pemuda, kita disambut oleh peci Maiyah ukuran besar dan dekorasi panggung yang berbeda dari biasa. Sebuah hal yang memang telah dipersiapkan sedemikian rupa selama sekitar tiga minggu dan dikonversi secara apik oleh penggiat BangbangWetan bersama Bonek Maiyah, SWS (Serdadu Wirid Surabaya), Maiyah Gardu Pucang, Bonek Sisik Boyo, dan juga jamaah Maiyah lain demi acara istimewa bertajuk “Berlusin Keberuntungan”.

Mas Acang dan Mas Fauzi membuka sesi awal majelis malam itu dengan mengambarkan suasana Balai Pemuda. Mas Fajar dan Mas Yasin membeberkan beberapa proses pengerjaan peci maiyah, logo di belakang panggung, dan suasana BangbangWetan malam itu. Rifi, salah satu perwakilan dari Bonek Sisik Boyo menyampaikan bahwa dirinya turut serta berpartisipasi membantu proses 12 tahun BangbangWetan guna membayar hutang bakti Sisik Boyo kepada Mbah Nun yang telah berperan serta menebar nilai-nilai kebaikan kepada dulur-dulur Bonek. Begitu juga pemaparan dari Mas Ariawan, salah satu perwakilan dari Bonek Maiyah, yang ikut andil dalam pembuatan kaos merchandise BangbangWetan. Mas Fauzi juga mengingatkan kembali bahwa Mas Sabrang pernah mengatakan bahwa kita harus hidup sesemutan dan mengambil peran masing-masing. Begitu juga dengan yang telah dilakukan dulur-dulur dalam nyengkuyung proses persiapan 12 tahun BangbangWetan. Itu merupakan pengaplikasian dari ilmu urip sesemutan.

Cak Rudd dari Blora menambahkan bahwa BangbangWetan ada dan bertahan sampai 12 tahun tak lain karena cinta kita terhadap Allah Swt. dan Rasulullah saw. Beliau menceritakan kembali awal terselenggaranya BangbangWetan adalah karena kerinduan. Pada tahun 2000-an di Surabaya pernah diadakan Haflah Shalawat di Masjid Al-Akbar dan Pengajian Tombo Ati di Hotel Elmi, Surabaya. Kedua acara tersebut vakum sehingga rasa rindu muncul dari para jamaah Maiyah yang pernah mengikuti acara tersebut.

Salah satu penggiat BangbangWetan sekaligus koordinator Simpul Jatim-Bali, Mas Hari, memaparkan bahwa saat ini di setiap kota terdapat beberapa Simpul Maiyah. Beliau juga memaparkan bahwa jamaah Maiyah harus siap untuk suatu saat mbeber kloso di BangbangWetan. Karena di BangbangWetan tidak ada panitia penyelenggara. Mas Rizky dari Juguran Syafaat menambahkan bahwa BbW bisa sampai tahun ke-12 bukan karena sebuah fanbase atau pengemar Cak Nun, tetapi kita berkumpul karena ada banyak ilmu yang bisa diserap dengan kapasitas masing-masing jamaah.

Sesi selanjutnya yang dipandu oleh Pak Suko dibuka dengan lantunan shalawat yang dipimpin oleh KiaiKanjeng. Mbah Nun mengawali Maiyahan malam itu dengan kalimat pengantar bahwa kalau ada sore, malam, pasti selanjutnya akan datang pagi. Kalau ada kegelapan, sebentar lagi akan ada terang benderang. Jika ada kematian, Allah pasti sudah menyiapkan kehidupan yang baru. Demikian juga pohon, alam, dan sejarah manusia. Indonesia saat ini mengalami banyak kematian-kematian, jadi pasti Allah akan menyiapkan generasi-generasi dan kehidupan yang muflihun. Orang yang mendapatkan keberuntungan-keberuntungan, yang dalam Al-Qur’an disebutkan hingga 12 kali. Mbah Nun menjelaskan agar orang hidup itu harus melakukan dua hal setelah mendapatkan limpahan rahmat dari Allah Swr., yakni:

  1. Mujahada, yaitu perjuangan melawan nafsu membebaskan ego, sesuatu yang sebelumnya sudah ada tetapi mencoba memberikan inovasi atau
  2. Mukasyafah, yaitu bisa mencapai sesuatu ilmu dari secara intuisi, mencoba menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum

Belajar dari Pakdhe KiaiKanjeng

Mbah Nun memberi pernyataan kepada semua yang hadir bahwa di KiaiKanjeng tidak ada pemimpin. Mereka sinau bareng dan semua ikut mengatur, sehingga dari KiaiKanjeng tercipta harmoni-harmoni yang indah.

Selama ini, personel KiaiKanjeng yang berlatar belakang musik tradisional Jawa yakni Mas Sariyanta (saron), Mas Gianta (saron), dan Mas Bayu (bonang). Sedangkan yang berlatar belakang musik modern barat yakni Pak Bobiet (keyboard), Mas Ari (biola), Mas Joko SP (gitar), Mas Yoyok (bass), dan Mas Jijit (drum). Kemudian ada juga yang berlatar belakang teater, akan tetapi mereka menjadi salah satu pemusik di KiaiKanjeng, yakni Pak Nevi (demung) dan Pak Joko Kamto (demung). Susunan itu diperindah oleh sang vokalis yakni, Mas Islamiyanto, Mbak Yuli, Mbak Nia, Mas Imam, dan Mas Donny.

Untuk karakter atau komposisi musik, KiaiKanjeng sendiri merujuk pada Pak Nevi. Selanjutnya Pak Nevi bercerita tentang awal terciptanya KiaiKanjeng pada era musik puisi dan perkembangannya hingga era Maiyahan sekarang ini.

Gamelan KiaiKanjeng bisa melayani berbagai macam nada, baik musik Jawa, Arab, hingga barat. Jamaah diajak belajar memahami musik KiaiKanjeng dengan sebuah lagu berjudul Kalimah dari Majidah El Rumi, seorang penyanyi asal Lebanon. Lagu tersebut dibawakan dua kali, yaitu dalam versi asli dan dalam versi yang sudah diaransemen oleh KiaiKanjeng.

 

KiaiKanjeng; Perekat Dua Bangsa

Setelah beberapa nomor lagu bernuansa Timur Tengah, Syekh Nursamad Kamba menceritakan pengalamannya saat mengundang KiaiKanjeng ke Mesir.

Menjelang pertengahan tahun 2000-an, mahasiswa Indonesia ingin mengundang Mbah Nun. Waktu itu betapa sulitnya untuk mengundang beliau, namun proses penyelenggaraan acara dimudahkan oleh Allah. Pertama kali Mbah Nun diundang untuk menghadiri seminar mahasiswa. Kemudian dalam rangka menjalin hubungan kerjasama dengan Dinas Kebudayaan, akhirnya KiaiKanjeng turut diundang ke Mesir.

Pengelola gedung teater waktu itu menceritakan bahwa salah satu acara di gedung itu yang dihadiri oleh penonton sampai penuh adalah saat pentas KiaiKanjeng. Penonton sangat terpukau dengan penampilan KiaiKanjeng yang membawakan lagu Umi Kultsum berjudul Sukaro.

Kalau di Indonesia, orang melihat KiaiKanjeng sebagai suatu hal yang biasa saja, di Mesir penampilan KiaiKanjeng begitu dihormati karena membawa misi budaya. Walikota ikut hadir dan mendampingi Mbah Nun untuk diajak berziarah ke Makam Syaikh Ahmad Al-Badawi di Tanta, Mesir. Syekh Kamba melihat sosok Mbah Nun bukanlah orang biasa, di Mesir Mbah Nun disambut sangat baik oleh pejabat. Pementasan KiaiKanjeng bisa merekatkan hubungan antar kedua bangsa, Indonesia dan Mesir.

 

Output Maiyah bagi Sekitar

Mbah Nun menyampaikan bahwa beda alam dengan manusia adalah dibekalinya manusia sebuah “alat” untuk memaknai, yaitu akal dan pikiran. Saat ini kita berada di peradaban di mana akal tidak bisa dinomorsatukan, sehingga kita berada di gerbang peralihan peradaban dunia. Tidak hanya ideologi dan pengetahuan, tetapi peradaban yang seluas-luasnya. Indonesia oleh Allah disayangi untuk diberi pengalaman paling dahsyat dan membingungkan yang tidak dialami oleh bangsa lain. Kita akan memasuki masa baru dengan pemaknaan matahari baru, dan yang diminta untuk menjadi garda depan peralihan itu adalah Maiyah.

Ketika Allah menciptakan kematian, sesungguhnya Allah menciptakan kelahiran. Ada Bangsa Indonesia yang bagian senja, ada Bangsa Indonesia bagian lain yang mengalami fajar hari. Maiyah adalah pancaran bangbang wetan fajar hari. Maiyah bertahan untuk tidak kelihatan, Maiyah bertahan untuk menjadi ruang yang membimbing bangunan-bangunan, bidang-bidang, dan garis-garis.

Mbah Nun mengingatkan kembali kepada kita supaya mulai hari ini memacu lagi kesadaran agar ahli di bidang masing-masing. Apapun profesinya kita harus ahli. Jadilah manusia profesional yang terpercaya. Di Maiyah tidak ada kebesaran, tidak ada ketinggian, yang dicari dan dibangun adalah kepribadian dan watak manusia di wilayah yang berbeda-beda. Saat ini kita sedang dituntun dan dibimbing untuk menjadi pelaku perubahan zaman. Keberuntungan terbesar Maiyah ini adalah menemukan kembali yang hilang selama 14 abad. Islam yang kita kenal di Indonesia saat ini adalah Islam yang telah terkontaminasi politik dan kepentingan golongan.

Di Maiyah terminologinya sangat lengkap, sangat beruntung bertemu di komunitas yang tidak menonjolkan kepintaran, tetapi kebijaksanaan satu sama lain. Sekarang yang berlangsung di Indonesia adalah mencari benarnya sendiri-sendiri. Di Maiyah Anda tidak mau hidup di garis yang memihak salah satu, tetapi menganggap semua sebagai anak asuh dan  ingin membantu satu sama lain. Maiyah sudah melewati pembelajaran tentang kebenaran, sebagai contoh jika kita bersyahadat artinya bersyahadat kepada Allah. Urusan manusia dengan Allah adalah syahadat dan tauhid. Urusan manusia dengan manusia adalah kebaikan dan akhlak. Maiyah tidak mempertengkarkan kebenaran, Maiyah berlomba-lomba menebar kebaikan dan kemanfaatan bagi orang lain. Kebenaran hanya bahan mentah yang harus diolah menjadi kebaikan, kebenaran jangan dipertengkarkan. Kebenaran itu bukan bikinan manusia, tetapi ciptaan Allah yang dipinjamkan untuk manusia. Setelah kita bisa menciptakan kebaikan maka output-nya adalah kebijaksanaan.

Setelah pemaparan panjang oleh Mbah Nun, jamaah diajak rehat sejenak dengan mendengarkan lagu Cucak Rowo ala KiaiKanjeng. “Apa gunanya ultah BangbangWetan ke-12 jika tidak ada Cak kartolo”, canda Mbah Nun sekaligus mempersilakan Cak Kartolo untuk menyapa jamaah. Kehadiran Cak Kartolo di panggung mengundang tawa para jamaah. Gurauan renyah dan pesan moral tentang pentingnya menuntut ilmu disampaikan Cak Kartolo melalui tembang parikan. Semoga Cak Kartolo sehat dan diberi Allah umur panjang. Tak lupa Mbah Nun mengajak jamaah untuk membaca Al-Fatihah untuk saudara-saudara kita di Palu yang terkena gempa dan tsunami.

 

Perluas Diri untuk Menampung Ilmu

Syekh Nursamad Kamba menambah khasanah keberuntungan 12 tahun BangbangWetan dengan menceritakan tentang pertemuan awal dengan Mbah Nun. Menurut beliau, sosok Mbah Nun ini orang yang dikaruniai ilmu oleh Allah sehingga bisa menyampaikan secara gamblang isi kitab Futuhat Al-Makkiyah karya Ibnu Arabi. Syekh meyakini bahwa Mbah Nun seperti sosok yang dikaruniai ilmu laduni. Dari situ beliau menulis sebuah artikel yang berjudul “Untung Ada Maiyah”. Di dalam ritual agama sesungguhnya diarahkan untuk membentuk kepribadian yang mujahadah. Itu artinya supaya kepribadian kita mengarah pada membebaskan hawa nafsu. Yang dilakukan di Maiyah adalah mujahadah, untuk mendapat ilmu dari Allah. Setiap orang bisa belajar kepada Allah.

Kata Islam sesungguhnya sudah dipopulerkan sejak Nabi Ibrohim, Islam dimaknai sebagai kepasrahan. Dalam makna syahadat sesungguhnya iman adalah mempercayakan hidup dan mati kepada Tuhan. Kepasrahan kepada Allah diukur dengan lima hal. Pertama syahadat; jika syahadatnya benar, dia otomatis pasrah kepada Tuhan. Kemudian dilanjutkan dengan terpanggil untuk melakukan shalat, zakat, puasa, dan haji.

Agama ada 3 dimensi: Islam, iman (mempercayakan hidupmu pada Tuhan), dan ihsan (aktualisasi kepercayaan dirimu kepada Tuhan). Semua ritual dalam shalat itu output-nya untuk menciptakan akhlak yang baik, membebaskan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Rasulullah mengajarkan untuk bersifat lapang dada, pada saat isro miroj Rasulullah dibersihkan dadanya oleh Malaikat Jibril agar terhindar dari sifat iri, dengki, dan hasad.

Syekh Kamba melihat ajaran Rasulullah yang murni dapat terpresentasikan di Maiyah, beragama yang tulus apa adanya tanpa ada riya’. Dalam beragama kita sukarela melakukannya karena cinta. Apa yang dilakukan Mbah Nun adalah persuasif dengan memberikan pengertian kepada kita untuk melakukan sendiri tanpa memaksa. Inilah yang disebut dengan keberuntungan kita bermaiyah. Dalam Maiyah kita belajar menemukan kelapangan dada, kesucian diri, belajar mencintai Allah dan Rasulullah. Dengan begitu kita dapat merasakan keindahan beragama. Itulah sesi yang dapat dimaknai sebagai keberuntungan 12 tahun BangbangWetan. “Selamat ulang tahun yang ke-12, semoga jaya selalu”, pungkas Syekh Kamba.

Dari penyampaian Syekh Kamba, Mbah Nun mengharapkan setiap simpul dan jamaah agar merekapitulasi apa yang didiskusikan di setiap Maiyahan untuk melatih perluasan diri dan menampung ilmu. Ilmu itu tidak tergantung berapa banyaknya, tetapi berapa daya serap dan daya tampung yang disiapkan. Ilmu itu hakikatnya seberapa jauh kamu memperluas dirimu secara spiritual maupun intelektual. Kedengkian dan hasad adalah zat-zat yang ditaruh oleh Allah ke dalam jiwamu untuk mempersempit dirimu. Ilmu itu dinamis, setiap detik kamu harus mensyahadati Allah. Malam ini kita belajar memahami kembali ketepatan agar hati kita seimbang. Jangan merasa pintar dan teruslah belajar.

Sebagai ucapan selamat ulang tahun dari KiaiKanjeng, malam hari ini dibawakanlah lagu ‘Bangbang Wetan’ dan ‘Padhang Bulan’. Selanjutnya sesi tanya jawab dipandu oleh Pak Suko. Setelah sesi tanya jawab, Mbah Nun mengajak para penggiat BbW untuk ikut naik ke panggung untuk memungkasi acara tasyakuran 12 tahun BbW. Jamaah dipersilakan berdiri bermunajat dengan diiringi tembang ‘Lir-ilir’ dan shalawat. Mbah Nun berpesan bahwa Allah itu konsisten, begitulah hidupmu masing masing. Kita oleh Allah telah ditumbuhkan pohonnya, insyaallah Maiyah ini pohon yang baik di mata Allah. Akan tiba saatnya Allah memberi panen kepada Maiyah yang bermanfaat untuk Indonesia dan dunia.

Sebagai penutup Mas Rachmad mengungkapkan banyak terima kasih kepada Mbah Nun, Bu Novia, KiaiKanjeng, Syekh Kamba, dan seluruh jamaah yang telah 12 tahun menemani BbW. Acara 12 tahun BbW bisa terselenggara karena pertolongan Allah. Acara dipungkasi dengan doa bersama yang dipimpin oleh Syekh Kamba. Mbah Nun mengajak jamaah untuk mengangkat tangan ke atas menggayuh kasih sayang Allah dengan bersikap polos kepada Gusti Allah apa adanya seraya membaca Innama amruhu idza arodza sayian ayyakula kun fayakun‘.

 

Oleh : [Tim Reportase BangbangWetan]