Oleh : J.Rosyidi

Mengawali tulisan ini, saya tiba tiba teringat dosen saya. Dia menceritakan bagaimana suatu ketika anaknya menanyakan kenapa bir (minuman beralkohol) itu diharamkan untuk diminum. Bukannya malah menceramahi anaknya. Sang anak -sekira umur masih sekolah dasar- kemudian diajak ke sebuah restoran. Dipesanlah bir -Entah apa merknya, saya lupa- dan es jeruk. Kemudian sang anak dipersilahkan untuk meminum keduanya. Secara bergantian tentunya. Kemudian ditanyakan kepada sang anak kesannya. Komentar yang muncul dari sang anak adalah bahwa bir pahit dan es jeruk enak.

Terlepas dari setuju atau tidak dengan metode yang digunakan dosen saya di atas. Waktu itu kami tidak berkesempatan untuk menanyakan kenapa beliau memilih metode tersebut. Namun yang jadi point penting pelajarannya adalah kemampuan berpikir out of the box. Nah itu adalah kunci apabila kita ingin meminimalisasi penggunaaan kata jangan.

Banyak psikolog, khususnya psikolog anak, menyarankan untuk tidak menggunakan kata “Jangan” kepada anak. Masalahnya sebagai orang tua, kita secara tidak sadar   sering berkata “jangan” kepada anak untuk menunjukkan “siapa yang berkuasa”. Masalahnya apakah benar kita akan membangun hubungan dengan anak dalam relasi kuasa?

Dalam buku “5 Yang DILARANG” disebutkan bahwa penggunaan kata jangan yang terlalu sering kepada anak bisa mengakibatkan anak menjadi penakut. “Eh.. jangan naik -naik. Nanti jatuh.” “Jangan main hujan-hujanan! Nanti sakit.” Terdengar familiar bukan ayah bunda? Dan kalau kita mau bisa kita tambahkan daftar larangan yang sering atau minimal pernah kita ucapkan pada anak kita.

Karena menjadi penakut, maka anak akan cenderung untuk malas mengambil inisiatif dan inovasi bahkan minder. Makanya anak yang seringkali terpapar kata “jangan” akan menjadi pribadi pribadi yang peniru. Padahal ayah bunda tentu tahu, tantangan kehidupan mendatang hanya akan mampu diselesaikan oleh pribadi pribadi yang kreatif.

Celakanya, apabila kemudian sang anak menganggap bahwa orang tuanya ini serba tahu dan selalu benar. Loh bukannya baik ya? Dalam hal ini tidak. Karena pemahaman tersebut lahir dari pengetahuan yang sifatnya top down. Anak hanya menerima, tidak mencari sendiri pengetahuannya. Bahkan bisa jadi sang anak berpikir bahwa larangan larangan yang diwujudkan dengan kata jangan yang terucap dari kedua orangtuanya adalah bersifat mutlak.

Apakah sama sekali kita tidak boleh berkata “jangan”? Salah satu tokoh -dalam Al-Qur’an- yang bisa kita jadikan role model dalam mendidik anak adalah lukman Al hakim. Pesan pertamanya adalah kepada anaknya adalah kata “Jangan”. “Jangan menyekutukan Allah!” Itu adalah sesuatu yang prinsip bagi seorang muslim. Karena menyangkut akidah. Dan tidak bisa ditawar.

Tapi coba kita perhatikan bagaimana sapaan Lukman kepada anaknya! “Ya Bunayya”. Bukan “Ya baniyya” sebagaimana sapaan Ya’qub a.s kepada anak-anaknya untuk mencari saudaranya. Ya Bunayya adalah sapaan penuh kasih. Jadi meskipun pesannya larangan, tapi penyampaiannya tetap penuh kasih. Coba bandingkan dengan praktik ayah bunda. Kata “Jangan” yang menyertai larangan biasanya kita sampaikan dengan nada sayang apa nada marah?

Dalam masalah prinsip tentu saja kita -sebagai orang tua- diperken8 untuk memakai kata “Jangan” untuk memberikan pelajaran kepada ananda bahwa memang ada yang secara prinsip dilarang. Tentu saja sesuai dengan apa yang kita yakini. Nah, untuk hal hal yang bukan prinsip, ayah bunda coba mengganti kata “Jangan” dengan kata yang lain ya. Yuk belajar bareng.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi