Oleh: Rifi Hadju

 

Psikis Haay terusik. Jiwanya terguncang menadah kenyataan janggal dalam perjalanan karir sepak bolanya. Ia mengurung diri dalam kamar, mengunci rapat pintu, puasa bicara, mematikan apapun alat komunikasi, menutup jendela, menyelimuti tubuhnya yang menggeletar; berpeluh deras. Ia tak menggubris rekan-rekan setimnya yang berulang kali silih berganti mengetuk pintu kamar. Seharian itu ia telan merebah di atas kasur, menahan geletar, mengusir gelisah yang menancap pada dirinya.

Setiap ia terlelap, alam bawah sadar menjurusnya kepada detik-detik hilangnya gawang di sore lalu. Haay sungguh tersiksa, ditambah entah bagaimana ceritanya…, kala ia sedang mengasyiki perenungan di belakang si kulit bundar, tetiba dalam sebuah seliutan ia sudah tergelentang di atas kasurnya. Lengkap masih dengan kostumnya yang terlepas, kaus kaki dan sepasang sepatu metaliknya. Sedangkan wajarnya perjalanan dari stadion ke mess pemain, butuh waktu satu setengah jam.

Selepas sarapan, sebelum Haay mematikan alat komunikasinya, ia sempat meminta izin kepada manajemen Persebaya agar diperbolehkan pulang ke Papua, tanah kelahirannya, untuk menenangkan diri. Manajemen mustahil memutuskan tanpa meneruskan maksud Haay kepada Presiden Persebaya. Permintaan Haay ditolak.

“Kita dalam masa sulit. Kita harus bersatu, tak ada yang boleh berpisah. Saya juga perintahkan kepada tim pelatih untuk meliburkan latihan rutin selama dua hari. Saya tak peduli lima hari lagi kita harus bertandang ke Bogor. Kita harus selesaikan masalah pelik ini. Kok bisa itu gawang hilang. Ini harus dituntaskan. Seluruh pemain tolong menenangkan diri, latihan ringan saja di lapangan belakang mess. Beri kami waktu berkoordinasi dengan federasi, aparat kepolisian dan pemerintah untuk menentukan arah. Terima kasih,” titah Presiden Persebaya kepada seluruh pemain di grup WhatsApp.

Itu menjadikan Haay tak kenan mengisahkan kepada siapapun; bagaimana caranya ia bisa sampai di atas kasurnya seakan sekilatan cahaya, sama persis dengan bagaimana hilangnya gawang itu. Ia terngiang benar semalam lalu. Dua kejadian ‘kilat’ hanya dalam beberapa jam saja, di depan mata khalayak, di dalam kesepian.

Pertama, gempar hilangnya gawang di tengah pertandingan Persebaya yang sedang menjadi headline news skala internasional. Sekian talkshow, berita menyorot kejadian di sore lalu. Pengamat dadakan banyak bermunculan dari dalam tanah, beretorika seolah-olah kata-katanya yang paling iya. Wartawan di penjuru dunia berbondong-bondong meliput. Stadion, lapangan, si kulit bundar dan Haay yang kebingungan menatap gawang hilang menjadi objek sasaran berita yang pasti menaikkan rating mereka. Syukurnya si objek terakhir, Haay, lebih dulu mampu menyembunyikan diri.

Kedua, ketika Haay sedang duduk di belakang si kulit bundar, yang entah bagaimana, ketika ia nyaris terpejam, ia ingat betul punggungnya didorong hentak oleh seseorang hingga ia terselungkup ke tanah lapangan. Dan kemudian terlentang di atas kasur mess semalaman, digugah oleh siluet matahari timur; siuman. Rekan-rekan setimnya tak satupun ada yang sadar jika Haay terpisah dengan rombongan pemain lain sejak dari stadion. Tetapi justru Haay tiba lebih dulu dibandingkan rombongan pemain yang tiba 20 menit setelah Haay.

Rapat super darurat gelar. Federasi, aparat kepolisian, menpora, BOPI, ke-20 kontestan kasta tertinggi Liga Indonesia duduk dalam satu meja. Urgensi mereka satu, gawang yang hilang. Perdebatan sengit terjadi. Beberapa kontestan liga berpendapat jika baiknya Persebaya mengundurkan diri dari pentas sepak bola karena dianggap lalai dalam menggelar pertandingan. Apalagi pertandingan terakhir Persebaya statusnya masih menggantung, Persebaya sedang kalah dua bola dari lawannya, kendati masih menyisakan menit bermain. Beberapa yang lain menolak, sebab menurut mereka ini bukan salah Persebaya. Ini permasalahan yang seharusnya dicari bersama solusinya. Bukan malah saling menyalahkan.

Kurang lebih delapan jam rapat super darurat itu tergelar. Beberapa sebab kelelahan, mengigau. Beberapa lainnya tertidur di bawah kolong meja rapat. Beberapa tersisa berbicara sendiri-sendiri tanpa alur yang jelas. Satu dua terakhir menjadi saksi apa yang seharusnya tak terjadi. Larut, tepat pukul 23.00, keseluruhan peserta rapat super darurat keluar dengan seorang juru bicara yang menggenggam sebelah kertas. Wartawan yang sedari awal hari menanti di lobi, akhirnya ditemui.

“Tadi, seperti yang anda perhatikan dengan seksama, sebagai wujud kepedulian dan pengorbanan kami kepada sepak bola Indonesia…. Dan menimbang permasalahan pelik yang sedang kita hadapi bersama…, maka sejak pagi hingga larut ini, kami, setelah mengadakan pertemuan dan membahas secara detail permasalahan dan ketepatan solusi, saya mewakili seluruhnya, mengumumkan bahwa pertemuan hari ini mengalami dead-lock. Oleh karenanya, kami akan melakukan pertemuan selanjutnya, secara lebih intens, yakni paling lambat dua hari dari sekarang. Semacam simposium, kami akan mengundang lebih banyak insan sepak bola, juga yang berkepentingan. Karena, gawang yang hilang telah meresahkan segenap keluarga persepak-bolaan Indonesia. Akhir kata, selamat malam. Terima kasih.”

Suhu badan Haay makin tak menentu. Lima menit lalu panas mendidih, lima menit setelahnya dingin menggigil. Ia masih mengucilkan dirinya di dalam kamar. Tak ingin apa-apa dan siapa-siapa. Apalagi, dalam lelapnya yang lumayan lama dari yang lainnya, tengah malam lalu, ia memimpikan seseorang bertopi pet putih yang menerornya dengan asas-asas dasar sepak bola. Gelisahnya menjumlah.

Keesokan paginya ia baru membuka pintu kamar. Rupanya, rekan setim sudah berbaris rapi di depan pintu kamarnya. Rendi Irwan, salah seorang senior dalam tim, berujar pada Haay jika satu tim akan sarapan jika Haay tak segera membuka pintu kamar dan bergabung dengan mereka. Haay memeluk erat Rendi Irwan yang senior dan juga panutannya itu. Rekan setim lainnya juga melingkari mereka, menguatkan; mengelus-elus kepala, memijat pundak dan menepuk punggung Haay.

Suhu badannya berangsur normal ketika dokter tim memeriksa kondisinya dan memberikan beragam obat setelah sarapan. Bersamaan dengan itu, Azrul Ananda, Presiden Persebaya, mendatangi mereka yang baru saja selesai sarapan dan hendak kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap latihan ringan.

“Bagaimana, Pak?” tanya Ruben Sanadi, sang kapten, yang oleh Pak Pres, panggilan akrab Azrul Ananda, dijawab geleng-geleng kepala dan berwajah masam.

“Rapat konyol. Sudahlah, kita tetap fokus bersatu. Kita harus filter suara dari manapun, media manapun, juga berita-berita sumbang. Ini Persebaya, sekali lagi, ini Persebaya!” teriaknya lantang. “Yaaa, meskipun target kita musim ini tak jauh berbeda dari musim lalu…, papan tengah agak ke atas,” lanjutnya lirih.

“Haay, gimana kondisimu? Mengapa mengurung diri?” tanya Pak Pres.

Haay enggan menjawab. Ia menatap elang Azrul Ananda, orang nomor satu di Persebaya. Semua bubar barisan ke kamar masing-masing. Kecuali Pak Pres, Haay dan Afif Kurniawan, psikolog tim Persebaya. Mereka duduk bertiga di meja makan yang menyisakan sisa makanan.

“Pak, kalau saya pinjam bahasa bapak, sustainable, yang sedang kita lakukan justru menjauhi apa yang disebut sustainable itu.”

“Kenapa begitu, Haay?”

“Saya bukan lancang. Tapi kalau bapak ingin tahu jawabannya, bapak tak usah ikut simposium itu. Bapak tunggu saja hasil akhirnya,” saran Haay menegas.

Afif, psikolog tim menelan berat air ludah mendengar Haay. Parahnya, Pak Pres memangut-mangut. Padahal, di tubuh tim Persebaya, sebelumnya, hingga detik ini, tak ada yang berani membantah titah Pak Pres, bahkan berani-beraninya memberikan Pak Pres sebuah sikap. Padahal, di tubuh tim Persebaya, sebelumnya, hingga detik ini, jika ada yang berani, oleh Pak Pres akan digolongkan sebagai kaum yang mengaku tahu atau sok tahu atau sok menilai itu.

Dua hari, setelah press-conference, simposium tertutup digelar di sebuah villa di Puncak, Bogor. Wartawan mendapat informasi, simposium dilakasanakan selama dua hari tiga malam, lengkap dengan acara live music, barbeque dan juga pelbagai fasilitas bintang lima. Di waktu yang sama, kompetisi memang diliburkan. Seluruh stadion, lapangan di pinggiran kota, di desa-desa selama waktu yang tak ditentukan, dijaga ketat oleh aparat keamanan. Tugasnya satu, mereka menjadi penjaga gawang, mengawal agar tak ada lagi kasus gawang hilang seperti di Gelora Bung Tomo.

Dua hari berlangsung sikat, menelan kecemasan ratusan juta jiwa rakyat Indonesia yang menanti keputusan dari simposium yang lengkap dengan acara live music, barbeque dan juga pelbagai fasilitas bintang lima itu. Hingga menjelang senja, semua stasiun tv menyiarkan keputusan yang menentukan itu. Kecuali Jtv yang istiqomah dengan “Ngaji Blusukan”-nya.

Semua pemain kelar membersihkan diri pasca latihan ringan di lapangan tanpa gawang di belakang mess pemain. Hanya Haay yang masih lari-lari kecil bersama si kulit bundar yang ia pijak dengan sepatu metaliknya di peristiwa sore lalu. Ia tak mengindahkan seluruh pemain yang bersiap menuju ruang meeting-team. Sebuah layar dinyalakan, mereka sama-sama menanti.

“Baru saja kami mendapatkan laporan seluruh gawang di Indonesia yang telah dijaga ketat telah turut hilang menyusul yang terjadi di Gelora Bung Tomo, maka dengan segala urgensi, kami pemangku sepak bola Indonesia…. Memutuskan, seluruh laga sisa liga akan tetap dilanjutkan walaupun harus tanpa gawang. Pertandingan tetap berlanjut normal 2×45 menit, tanpa gawang. Setelah peluit panjang dibunyikan, akan dilanjutkan dengan adu koin tos sebanyak sebelas kali. Siapa yang paling banyak, maka tim akan menjadi pemenang. Tidak ada pertandingan yang akan berakhir seri. Untuk teknis lebih lanjut, kami akan menyurati seluruh manajer tim agar dapat dimaklumi dan dipahami secara seksama. Ini demi harkat dan martabat sepak bola Indonesia di mata dunia. Terima kasih.”

Seluruh punggawa Persebaya di ruang meeting-team bersorak menolak keras keputusan itu. Azrul Ananda, Presiden Persebaya, sampai membanting susunan berkas yang ada di hadapannya. Semuanya marah. Menganggap mereka yang terlibat pada simposium telah mempermainkan rules of the game sepak bola itu sendiri. Yang ada di dalam ruang meeting-team itu, secara off the record, menduga federasi telah mencederai kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Mereka menganggap federasi telah melakukan kloso bedah sing ditambal jadah.

Tiba-tiba si kulit bundar menggelinding di dalam ruangan. “Hakikat sepak bola yakni memasrahkan seluruhnya, sebanding lurus dengan kehendak -Nya. Kita sudah melakukannya?” celetuk Haay meniru perkataan si topi pet putih yang hadir dalam mimpinya.

Ia menyandar pintu, sementara semua mata tertuju padanya.