Oleh: Rifi Hadju

 

Osvaldo Haay menggaruk kepala tak gatalnya setelah sekedipan mata lalu menerima umpan membelah lautan dari Aryn Williams yang menjadi jenderal lapangan tengah Persebaya. Ia berdiri tepat empat meter di garis terakhir pertahanan lawan. Masih menggaruk kepala tak gatalnya, melongok ke arah asisten wasit di sisi lapangan yang tak kalah tercengang. Kiper lawan yang sedari tadi sedikit fokus membungkuk bersiap mengantisipasi tendangan kidal Haay, perlahan-lahan menegapkan badannya. Kiper lawan menoleh ke belakang dan yang ia dapati gawangnya hilang entah kemana. Padahal sedetik lalu baru saja ia menyentuh tiang kanan gawangnya untuk menentukan posisi.

Gawangnya sang kiper lawan hilang. Juga gawang Miswar Saputra, kiper Persebaya. Penonton gempar. Sebab, tak ada satupun yang mendapati hilangnya gawang. Gawang hilang dalam tak kurang satu kedipan mata. Kegemparan sore ini seperti de javu kala istana Ratu Balqis berpindah sebelum Nabi Sulaiman tuntas mengedipkan mata oleh salah seorang saleh dari kaumnya.

Kedua puluh dua pasang mata pemain, perangkat wasit dan kedua official tim tertitik pada si kulit bundar yang diinjak cekat oleh Haay di nyaris menyentuh kotak dua belas pas. Seluruh kaki lari – terhenti. Haay menekukkan lengan nan merekatkan kedua telapak pada pinggangnya – masih melopak-lapik bola yang tertancap di pul sepatu metaliknya. Insiden mencengangkan itu terjadi kurang lebih seperempat jam perjalanan.

Wasit tersadar dari cengang, beranjak sedikit berlari mendekati Haay sembari meniup tiga kali peluit pendek agar Haay yang tengah menginjak si kulit bundar; membuangnya ke luar garis lapangan. Fair-play ball. Sayup-sayup penonton di tribun stadion tampak semakin menggema seiring menggelindingnya si kulit bundar. Wajar, saat ini Persebaya sedang tertinggal dua bola dari lawannya. Dan pertandingan babak kedua hanya menyisakan tiga ratus helaan nafas. Apalagi, tekanan dari pendukung agar Persebaya memenangkan pertandingan di Surabaya sungguh besar. Maklum, Persebaya raja seri di partai kandang. Dari sepuluh laga terakhir, mereka hanya membubuhkan tujuh kali seri dan sisanya hanya berakhir kemenangan.

Announcer di tepian lapangan bergegas meraih pengeras suara nan memenangkan penonton dengan pekikan khas, “Salam Satu Nyali!” yang serentak disahuti “Wani!” oleh siapa saja yang mendengarnya, siapa saja yang mengerti maksudnya. Sayup-sayup mereda berbarengan dengan wasit yang memanggil kedua kapten tim, kedua manajer tim, kedua asisten wasit, wasit cadangan dan ketua panitia pelaksana untuk berdiskusi. Mereka berkumpul di sisi samping tengah lapangan dan membentuk agak lingkaran.

Wasit mem-prolog, menghantarkan sebagaimana kenyataan yang sama-sama mereka lihat. Manajer tim lawan beranggapan pertandingan disudahi saja. Lamun jelas ditolak mentah-mentah oleh manajer Persebaya karena pertimbangan selain masih ada waktu pertandingan, mereka juga haus kemenangan untuk melegakan hati pendukungnya dan sekaligus mendongkrak posisi Persebaya di klasemen sementara Liga Indonesia. Wasit juga tak bisa begitu saja memutuskan. Lebih-lebih pertandingan sore ini disiaran langsung oleh tv swasta dan setiap keputusan menentukan marwah sepak bola Indonesia.

Ketua panitia pelaksana tampak asan tak asan mengawasi bawahannya yang sedang berhamburan mencari kemana hilangnya gawang yang ketika sempat dicek di tempat kejadian perkara, sama sekali tidak menyisakan jejak. Lubang tempat menancapnya tiang itu ternyata tak berlubang, tertutupi rumput yang rata. Ketua Panitia Pelaksana, melalui Handy Talky-nya, mengondisikan kepada aparat keamanan yang sedang bertugas, agar memanggil ahli forensik yang bersiaga, namun nihil ditemukan bekas sidik jari di rumput. Semua semakin gelisah, langit makin temaram. Lampu sorot stadion yang wajibnya menyala, pertandingan sore ini tak kunjung menunjukkan itikad baiknya untuk menerangi lapangan. Kegemparan yang menjadi sebuah kasus pertama kalinya dalam pagelaran persepak-bolaan Indonesia.

Ditengah perdebatan sengit kedua manajer, hingga wasit pun tak sanggup menengahinya, Ruben Sanadi, kapten tim Persebaya tetiba bercongkong dan mencopot sepatu kanannya. “Wasit, bagaimana jika pertandingan dilanjutkan? Gawang kita ganti pakai sepatu ini,” katanya membolak-balik sepatu kanannya, “atau kita pakai gawang dari batu bata biar jadi batasnya, atau pakai sepeda yang dibalik, atau pakai tabung pemadam kebakaran,” bidasnya mengacu tabung pemadam yang tegap berdiri di sentel ban stadion. Semua perwakilan terhenyak, sedikit meminang usulan Ruben. Wasit mengangguk sepakat. Tapi tidak dengan manajer tim lawan yang ngotot agar pertandingan disudahi. Kapten tim lawan se-iya sekata dengan manajernya, barangkali ia takut dipotong gaji jika bersilang pendapat.

“Nah! ini sudah gelap. Bagaimana bisa?”

Ruben memegang dagunya, lalu menelunjuk. “Eee, Pak, kita pakai saja flashlight handphone penonton? Pasti bisa?”

Usulan kedua Ruben disambut lirikan manajer tim Persebaya kepada sesudut tribun stadion. Penonton malah berbondong-bondong meninggalkan tribun sambil mengumpat-umpat tak jelas. Mereka menganggap pertandingan ini selesai dan Persebaya akan kalah di kandang untuk pertama kalinya di musim ini.

Wasit menyergah. “Tidak bisa Ruben. Itu akan menyalahi statuta federasi, nanti akan menimbulkan sanksi. Selain itu, apa kata jika nanti FIFA tahu? Akan memalukan. Sudah, ini sudah gelap, mustahil kita lanjutkan pertandingan. Mustahil juga untuk kita putuskan bahwa pertandingan ini selesai. Baiknya nanti panitia pelaksana yang melaporkan ke federasi.”

“Sudah semua masuk ke locker-room, kita diskusikan di dalam. Ini force majeur! Gawang hilang di tengah laga, tak ada satupun yang tahu! Gila!” sahut Ketua Panitia Pelaksana menjambak rambutnya. Semua perwakilan kurang setuju, tapi tak ada jalan selain jalan masuk ke dalam.

Wasit sekali lagi meniup peluit, mengintruksikan kepada seluruhnya masuk ke dalam. Semua tampak berjalan tertunduk lesu, terlebih pemain-pemain Persebaya yang sedang tertinggal dua bola. Announcer mengumumkan bahwa pertandingan dihentikan sementara. Penonton yang masih tertinggal kompak berteriak ‘huuu’ tanpa komando. Sebagian dari mereka meluapkan kesebalan dengan melemparkan botol plastik kemasan, kertas minyak bekas lumpia dan sandal jepit ke arah lapangan. Sebagian dari mereka bergegas melepas spanduk-spanduk dukungan yang sedari pagi terpampang di pagar tribun. Sebagian dari mereka berlalu. Sebagian lagi dari mereka turun ke lapangan dan mengejar perangkat pertandingan – meminta penjelasan.

Wasit hanya mampu mengangkat tangan ke arah pendukung yang mendekatinya sembari berlalu. Aparat keamanan menghadang sekumpulan pendukung itu dan menggiring mereka keluar dari lapangan. Tak butuh waktu lama melengangkan stadion. Lampu masih tak menyala, hanya beberapa, itupun redup. Haay yang masih tercengang menyisahkan diri di dalam stadion. Hasratnya untuk mencetak gol pupus. Padahal ia sudah one on one dengan kiper tim lawan. Gawang yang tiba-tiba hilang dari pandangan membuatnya bertanya-tanya. Sebab, ia yang terakhir berada di barisan pangkal kesempatan. Paling tidak, andai ia berhasil mencetak gol, gol tersebut membuka asa Persebaya melakukan come-back seperti tim-tim di Eropa sana.

Haay melepas kostum dan duduk membungkuk tepat di depan si kulit bundar yang kesepian sedari tadi. Ia serius memandanginya, tak peduli peluh keringat memandikan tubuhnya. Sesekali ia memantul-mantulkan si kulit bundar itu, lalu meletakkannya, kemudian ia terlentang beralaskan rumput tak bergoyang dan arkian menangis seorang diri, menangisi tak tahu apa yang sebenarnya ia tangisi. Haay yang terakhir memegang bola sebelum juga ia yang pertama kalinya mengetahui jika gawang telah lenyap entah kemana. Pasti ia akan dinobatkan sepihak menjadi tokoh kunci atas kasus hilangnya gawang di tengah pertandingan sepak bola yang ramai, tetapi tak satupun ada yang mengetahui dimana, kapan dan bagaimana hilangnya. Sementara seseorang bertopi pet putih dan satu-satunya yang tersisa di tribun VIP, memandang sinis tangisannya dari kejauhan seraya mengisap lezat sebatang rokok yang terhimpit di jemarinya.

 

Bersambung….

 

Penulis Min Turobil Aqdam, Tadabbur Cinta & Gadis Pattani Dalam Hati, bagian dari Cak & Ning Surabaya 2018, Bondo Nekat. Bisa disapa di @rifihadju