Birahiku Pada-Mu

Oleh : Mokhammad Nasir Annas

 

Manusia-seiring berjalannya waktu-semakin menyadari dan mengerti eksistensinya pada semesta. Kesadaran tersebut akan meningkatkan kebutuhan dan konsumsi kebahagiaan dalam dirinya. Berbagai macam kebutuhan yang harus terpenuhi, seperti penenang perut, pengenyang otak, penghangat badan, pengindah wajah, dan pemolek tubuh untuk memenuhi sebagian dari kebutuhan jasmani. Tidak hanya jasmani, kebutuhan rohaniah manusia pun meningkat karena kesadaran tersebut. Kalau Karl Max mengungkapkannya dengan Agama Sebagai Candu, Jalaludin Rumi menjunjung tinggi Mahabbahnya, Rabiah pun masih terlalu kuat pada kesendirian dan kerinduan pada Zat yang dicintainya.

Kebutuhan manusia semakin larut semakin liar, tak berujung tak berakar, tumbuh menjadi nafsu-nafsu yang kekar. Hal ini menjadi sulitnya takaran dalam memenuhi kebutuhan rohani, hingga akhirnya hanya menjadi kebutuhan nafsu rohani yang tak sampai pada tingkat tauhid yang lurus. Sebab rohani merupakan kebutuhan yang tak kasat mata, maka sulit untuk menyesuaikan takaran sempurna kebutuhan tersebut.

Jalaludin Rumi dalam Al-Hikam mengungkapkan bahwa “keinginanmu untuk tarjid sedangkan Allah telah menetapkanmu pada asbab adalah syahwat nafsumu yang samar, sedangkan keinginanmu untuk asbab sedangkan Allah telah menetapkanmu pada tarjid adalah tanda jatuhnya semangat perjalananmu”.

Tarjid ialah lepasnya seseorang dari segala pengaruh duniawi, sehingga hanya Allah lah yang ada dalam hati dan pikirannya setiap saat. sedangkan asbab merupakan tingkat ketauhidan seorang salik yang hati dan pikirannya masih naik turun dalam pengaruh hal-hal duniawi. Seperti halnya zuhud, tidak dilihat dari seberapa banyak harta dan hal-hal keduniawian yang ia genggam di tangan, namun seberapa besar hal duniawi mengisi ruang-ruang dalam hati.

Manusia sejati yang benar-benar menyerahkan segala yang ada dalam dirinya, baik jiwa maupun raga, selayaknya rela pada apapun yang telah Allah berikan. Tidak pernah menuntut pada maqam apa dia akan ditetapkan, sebab kesadarannya menimbulkan keyakinan bahwa, tidak ada siapapun yang berhak atas dirinya kecuali Allah Zat yang Maha Agung, serta meyakini bahwa Allah saja yang tahu di manakah tempat yang terbaik untuk dirinya.

Keyakinan dan kesadaran yang sempurna akan lebih membimbing diri untuk selalu berhati-hati, saat melakukan perjalanan menuju kepada Allah, serta menutup celah-celah syahwat yang samar, sebab di dalam inti syahwat terdapat serpihan kesombongan yang menghijab hati, untuk sampai kepada Allah Swt.

 

 

Surabaya, Februari 2019

Penulis adalah Mahasiswa/ Ilmu Alquran Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya, bisa disapa melalui ig @cangkul_samudra