Oleh: Fajar Wahyoko

Jikalau diibaratkan siklus hidup manusia, dua tahun tergolong usia belia. Belajar berlari, meloncat, melompat, mengoceh, dan menjelajahi sekitar lebih luas. Banyak yang bilang juga bahwa dua tahun merupakan usia lucu-lucunya seorang bocah. Innocent dan sangat menggemaskan.

 

Kemarau 2009, Rapih Dhoho lambat memasuki emplacement sebuah stasiun. Sejurus tampak seorang lelaki kurus berambut gondrong menuruni tangga kereta. Bersama “partner in crime“-nya, lelaki tersebut berjalan kaki keluar area stasiun, menyusuri jalan nasional ke arah timur, berbelok ke arah RS. Budi Rahayu, lalu memutar haluan ke utara hingga Makam Sang Proklamator.

Tak berhenti di situ, mereka melanjutkan ke arah barat hingga perbatasan Sanankulon, lalu berbalik melewati Jl. Tanjung, mampir sejenak di pendopo alun-alun, untuk kemudian kembali ke stasiun, dan segera meninggalkan kota itu dengan Penataran.

Apa yang mereka cari, berjalan kaki di bawah terik hingga rela kaki melepuh? Jawabannya, tak ada! Itulah cara mereka untuk berkenalan secara batin dengan kota yang baru pertama kali mereka datangi, Kota Patria, Blitar.

Blitar; from nothing to something

Kini, hampir 9 tahun berlalu. Kala telah membuktikan bahwa perjalanan batin mereka bukanlah hal sia-sia. Setidaknya satu dari mereka, terantuk rasa dan mendapatkan banyak sekali pelajaran hidup, ilmu baru, hingga hal tak terduga lainnnya.

Tak ada hal yang kebetulan, karena semua telah diguratkan oleh Sang Esa. Itu juga yang lelaki tersebut rasakan ketika bersentuhan dengan individu-individu hebat dari wilayah yang awalnya dia cap ‘nothing’.

Sejak sahabatnya dalam prolog di atas telah hijrah, lelaki yang kini tak lagi gondrong itu menemukan sosok “partner in crime” baru. Sosok asli Blitar, Cah Nggunung dari Panggungrejo. Bukan sekadar partner selaras dalam banyak hal, tetapi dari Cah Nggunung itulah dia kemudian belajar banyak tentang arti kesabaran dan dedikasi.

Lelaki itu juga merasa sangat beruntung bisa intim dengan tiga sosok luar biasa lain. Mulai dari berguru bab tulis-menulis kepada rocker puitis Cah Ndemangan, yang begitu sabarnya memandu hingga akhirnya dia pede menulis di situs jejaring maupun buletin bulanan.

Pun begitu dengan Cah Pakunden, Sukorejo, yang dia kenal di Surabaya. Sosok super multi talenta yang telah mengajari banyak hal, mulai dari bermusik hingga TI. Serta, seorang ayah tiga anak dari Gandusari, kawasan ring-1 lereng selatan Gunung Kelud, yang tak lelah mengingatkan dan mengajak tuk bersholawat kepada Sang Rasul akhir zaman.

Ooh…betapa Blitar telah bertranformasi menjadi something di hati lelaki tersebut.

MMB; si bocah ajaib

Sekitar dua tahun yang lalu, dari jagad maya lelaki tersebut mengetahui bahwa di tlatah Penataran telah berdiri sebuah simpul Maiyah. Bergumam dalam hati, “Semoga suatu saat saya diperjalankan ke sana“. Rindu Blitar berbaur dengan niat silaturahim. Sebuah angan yang akhirnya terwujud pertama kali pada Guyub Gendurenan di Pasar Desa Kebonduren, Ponggok, 16 Juli 2016. Maiyahan di pasar dan mangan bareng sembari bershalawat bersama As-Syahidah, salah seorang vokalis Santri Kanjeng sungguh merupakan warna tersendiri dalam hidup lelaki tersebut.

Jangan tanyakan apa yang dia dapat dari sana. Dari simpul yang dikenal dengan Majelis Maiyah Balitar (MMB), dia mendapatkan semakin banyak hal. Dulur baru pastinya. Selain itu dari sosok ayem nan sumeleh asal Gedog, Sananwetan, dia belajar menikmati apa itu proses melalui metode ngelinting.

Setahun yang lalu, tepat pada Tanggap Warsa di Universitas Islam Blitar, dia kembali menyaksikan langsung guyub rukunnya dulur-dulur MMB. Ketika seorang sejawat sedang diuji oleh Al-Waliyy, mereka tandang gawe bahu-membahu memberikan dukungan moril dan materiil, bahkan ikut menginap bermalam-malam di rumah sakit. Sebuah hal yang membuat lelaki itu malu karena merasa tak memberikan apa-apa.

Jikalau diibaratkan siklus hidup manusia, dua tahun tergolong usia belia. Belajar berlari, meloncat, melompat, mengoceh, dan menjelajahi sekitar lebih luas. Banyak yang bilang juga bahwa dua tahun merupakan usia lucu-lucunya seorang bocah. Innocent dan sangat menggemaskan.

Pun, begitu juga kalian. Namun, MMB bak bocah ajaib bagi lelaki lajang tersebut. Tanpa menghilangkan sifat alamiahnya, MMB mampu berproses jauh lebih dewasa melebihi umurnya. Luas dalam berpikir, bijak dalam bersikap, santun dalam ucap, guyub dalam rukun, dan tanggap dalam gawe.

Laksana kayon, lelaki itu berharap MMB bisa menjadi simbol kehidupan bagi seluruh alam raya beserta isinya. Tanpa meninggalkan cipta, rasa, dan karsa dalam sukma untuk Blitar dan sekitarnya.

Semoga masih ada waktu untuk kembali bersua. Lelaki itu masih ingin mengulang obrolan hangat bersama Cah Kanigoro seperti dulu di alun-alun Bandung, sekadar nggojloki Cah Selopuro, hingga ngudo roso bareng dulur-dulur MMB lain.

Sugeng Milad yang ke-2 tuk MMB. Salam takzim kepada kalian semua, Blitar secara umum, MMB secara khusus. Teruslah menggali hikmah, untuk menuju cahaya.

 

Penulis adalah Jamaah Maiyah BangbangWetan kelahiran Banyuwangi. Bisa disapa melalui akun twitter @wahyokofajar