Oleh : Prayogi R. Saputra 

Sontak, seisi rumah terperanjat. Jeritan bahagia bercampur haru berhamburan di udara, memenuhi ruang belakang rumah Pak Bogank yang sempit dan pengap. Seketika, para tetangga yang sudah pulang kembali berkumpul dirumah Pak Bogank. Mereka ingin mengetahui kabar tentang pulangnya Pak Bogank. Orang-orang berusaha merangsek masuk. Parti, kerabat jauh Pak Bogank yang baru saja menyampaikan kabar bahagia itu memeluk erat Lek Su. Mereka menangis sesenggukan. Beberapa tetangga berusaha menenangkan. Satu orang lain mengambilkan air putih dari rumah tetangga.

Di luar, suasana riuh rendah. Orang-orang semakin banyak berdatangan. Mereka  mulai membicarakan keampuhan “orang pintar” wetan kali. Bagaimana tidak? Kepulangan Pak Bogank sama persis seperti ramalan orang pintar itu: pada hari ke tujuh. Maka, para lelaki Tjigrok pun mulai menghitung-hitung kemungkinan nomor buntut yang akan keluar dengan angka-angka terkait kepulangan Pak Bogank. Bisa hari ketujuh, tanggal berapa atau jam berapa. Bagi orang Tjigrok, semua hal memiliki  potensi bisa diotak-atik jadi  angka yang senantiasa menjadi sasaran ramalan buntut.

Setelah beberapa saat, Lek Su dan Parti mulai tenang. Di kejauhan, Adzan Maghrib berkumandang. Para tetangga meminta Parti untuk menceritakan peristiwa kepulangan Pak Bogank. Parti, kerabat jauh keluarga Pak Bogank yang tinggal berjarak beberapa desa dari Tjigrok.

“Tadi, kira-kira jam 5. Waktu itu aku baru saja selesai mandi, Yu.” Parti mulai bercerita.

Dari luar rumah, suara-suara mulai berisik.

“Limo” Bisik seseorang.

“Limo.” Sambung yang lain.

“Limo.” Seperti pesan berantai, kalimat pendek itu segera menyebar.

“Kang Legi, juga sedang di dapur. Mendadak ada seseorang  muncul di depan pintu dapur. Dia seperti orang bingung. Pakaiannya lusuh. Rambutnya acak-acakan. Tubuhnya sangat kotor. Kami kira orang gila. Setelah diamati benar-benar oleh Kang Legi, ternyata Lek Bogank.”

“Dia nampaknya seperti orang linglung dan belum bisa diajak bicara, Yu. Kasihan Lek Bogank.” Parti kembali menangis.

Diluar, bisik-bisik kembali terdengar.

“Wong edan.” Seru satu orang.

“Wong edan.” Sambung yang lain.

“Wong edan.” Begitu pesan itu terus menyebar.

“Lha sekarang Pak Bogank dimana, Ti?” tanya seorang tetangga.

“Masih di rumah, Pak Dhe. Ditemani sama Kang Legi. Kang Legi khawatir kalau ada apa-apa. Atau Lek Bogank hilang lagi. Makanya, saya yang disuruh memberi kabar kemari.”

Orang yang dipanggil Pak Dhe manggut-manggut.

“Ya sudah kalau begitu, kita susul Pak Bogank. Biar diajak pulang. Cari pinjaman motor, Le!” Perintah orang tua yang dipanggil Pak Dhe kepada seseorang.

“Motor siapa, Pak Dhe?”

“Ya sudah! Cari pinjaman motor siapa saja yang ada.” Laki-laki yang disuruh pun beringsut pergi.

“Kamu ikut pulang, Ti?” Tanya laki-laki yang dipanggil Pak Dhe kepada Parti.

“Iya. Iya, Pak Dhe,” jawabnya masih dengan sesenggukan.

“Tadi kesini naik apa?”

“Lari, Pak Dhe.”

“Lari?”

“Parti mengangguk.”

Orang yang dipanggil Pak Dhe menghela nafas.

“Ya, sudah. Kita tunggu dulu Maidi pinjam motor. Nanti biar Maidi yang menjemput Pak Bogank,” katanya kepada para tetangga yang mengerumuni Lek Su.

Menjelang pukul sembilan malam, Maidi datang dengan memboncengkan 2 orang. Orang-orang mengerumuni motor yang baru datang. Sebagian membuka pintu lebar-lebar. Tikar mendhong sudah digelar seluas lantai rumah. Baik di rumah bagian depan maupun belakang. Sebab, malam ini para tetangga pasti akan jagongan, berkumpul bersama untuk memberi dukungan moral kepada keluarga yang sedang ditimpa kesusahan. Sementara para keluarga dekat, sanak kerabat kemungkinan juga akan menginap.

Pak Bogank dipapah turun oleh seorang tetangga. Sementara Legi, suami Parti berjalan mengikuti dari belakang. Orang-orang mulai berbisik-bisik mendekati Legi. Beberapa tetangga datang dengan membawa gula, teh dan kopi untuk suguhan para tetangga yang berkumpul. Sebagian yang lain menyalakan kayu bakar untuk menjerang air. Sebagian lagi, pinjam gelas dan piring kesana kemari untuk menghidangkan minuman. Orang-orang bekerja tanpa diperintah. Semua berjalan begitu saja seperti sudah menjadi kebiasaan.

Setelah duduk, Pak Bogank didampingi oleh laki-laki yang dipanggil Pak Dhe. Beberapa orang tua lain juga duduk mendekat ke Pak Bogank. Sementara Legi duduk agak menjauh. Dia sibuk melayani pertanyaan-pertanyaan dari para tetangga Pak Bogank.

“Bagaimana ceritanya?” Tanya seorang tetangga kepada Legi.

“Masih sulit diajak ngomong. Lek Bogank cerita juga sepenggal-sepenggal.”

“Benar, katanya diajak makhluk halus?” tanya yang lain lirih.

“Ya,” jawab Legi tak kalah lirih.

Orang-orang saling berpandangan.

“Benar, Nyi Roro Kidul?”

Legi mengernyit sebentar, lantas mengangguk.

Orang-orang kembali saling berpandangan. Yang lain mengangguk-anggukkan kepala.

“Diajak kemana?” Tanya laki-laki di sebelah kiri Legi.

“Ke keratonnya, ya?” Sahut yang lain.

“Memang, katanya sekarang Nyi Roro Kidul sedang ada hajat mantu.” Sambut tetangga yang lain lagi.

Legi hanya mengangguk-angguk.

Para tetangga yang diluar pun mulai berbisik-bisik.

“Oh, diundang Nyi Roro Kidul, mantu.” Kata seseorang.

“Hebat ya Pak Bogank.” Sambut yang lain.

“Katanya dijemput dan dipulangkan naik kereta Kencana ya?” Sahut yang lain lagi.

Cerita pun berkembang. Bisik-bisik diluar semakin seru. Gelas-gelas teh dan kopi mulai disajikan. Orang-orang sibuk saling bercerita. Sebagian sudah berkumpul di pojokan dan mulai mengeluarkan kartu remi. Sementara Pak Dhe masih duduk menemani Pak Bogank yang diam membisu. Pak Bogank masih teringat hutang-hutangnya yang menumpuk, hidupnya yang tak kunjung membaik dan mengumpati kapal yang menurunkannya ketika hendak minggat, menyeberang ke Kalimantan.

 

Prayogi R Saputra adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra