Oleh: Rifi Hadju

 

Tampak di sudut tribun lapangan milik Polda Jatim, Azrul Ananda, Pak Pres yang sedang mengamati latihan perdana tim Persebaya pasca kompetisi dihentikan paksa oleh keadaan. Pagi beranjak remaja. Pak Pres mengenakan jersey alternate hijau croco dengan logo Persebaya kuning stabilo yang menyala-nyala, celana training hitam mengkilat dan sebuah sepatu di kaki kanannya, sandal jepit di kaki kirinya. Pak Pres didampingi manajer tim yang mau tidak mau harus menghadiri latihan pagi guna persiapan kompetisi liga yang mudah-mudahan tak berhenti di tiga perempat jalan lagi.

Kedua petinggi di jajaran kepengurusan Persebaya ini khusyuk berdiskusi, berkisik kecil, menutup renggang mulutnya dengan telapak tangan. Tepatnya rasan-rasan. Mereka berdua berkisik sambil melirikkan mata kepada Haay yang tengah asyik berlari-lari kecil dengan si kulit bundar yang tak pernah pisah darinya sejak peristiwa lalu. Haay latihan terpisah, tak seperti rekan-rekannya lainnya yang sedang mengikuti program latihan dari Abah Bejo, legenda hidup Persebaya.

Sejujurnya, Azrul, Pak Pres, masih memendam penasaran berlebih tentang Haay. Bukan tentang skillnya yang mumpuni itu. Bukan juga tentang mental ngeyel & ngosek Haay yang tiada duanya itu. Tapi tentang mengapa Haay seolah tahu sesuatu yang tak diketahui oleh Azrul. Terakhir, ia yang pertama tahu gawang yang hilang itu telah kembali ketika seluruh Indonesia Raya kelimpungan mencarinya dengan pelbagai ancaman-ancaman yang membuntuti.

Sejam kalakian latihan usai. Seluruh pemain melingkar di sisi lapangan – briefing. Azrul Ananda dan manajer tim turut turun ke lapangan bersama tim pelatih yang lebih dulu memberikan evaluasi dari latihan perdana. Awak wartawan mengerubungi di balik lingkaran. Tidak dengan Haay, ia bersama si kulit bundar malah bersandar letih di kaki gawang yang sedang terasuki terik matahari. Kakak Ruben, kapten tim, nyaris menghampiri, lamun ditahan Pak Pres.

“Sudah biarkan saja. Sedang butuh waktu sendiri.” Pak Pres melanjutkan, melipat kedua tangannya di dada. “Oke, Assalamualaikum, selamat pagi. Salam Satu Nyali.”

Wani,” serempak selingkaran.

“Terima kasih teman-teman atas kehadirannya di latihan perdana Persebaya. Akhirnya kita berkumpul kembali setelah…, eh singkat. Saya, Azrul Ananda, Presiden Persebaya, meminta kita semua untuk melupakan apa yang telah kita alami bersama. Saya mohon dengan sangat, sorot mata dunia yang sedang dan makin menoleh kepada kita, tidak membuat fokus teman-teman menyongsong liga jadi berpaling. Maaf, saya koreksi, tidak ada lagi target tim di papan tengah agak ke atas seperti yang sudah-sudah. Logo di dada kalian bukanlah sekadar logo tim sepak bola. Persebaya adalah marwah. Maka, target kita musim ini adalah mutlak juara!” lantang Azrul Ananda disambut riuh tepuk tangan.

“Kemudian teman-teman semua, permintaan saya yang kedua, bermainlah dengan hati, bermainlah dengan penuh rasa bangga, bermainlah dengan rasa untuk ingin selalu menebus tuntas dukungan Bonek yang tiada henti-hentinya, yang selalu ada dimanapun kita berlaga. Ini Persebaya, sekali lagi, ini Persebaya!” lantang Azrul Ananda disambut tepuk tangan yang tak seriuh yang pertama tadi.

“Ketiga, wajib kita berdarah-darah menggapai juara. Tak masalah cedera, pasti ada kompensasinya. Kompetisi pasti sulit, sengit, ketat! Tak ada namanya berleha-leha. Tak ada namanya terlena kata-kata santuy. Sekarang wayahe. Ini Persebaya, ini Persebaya!” lantang Azrul Ananda disambut hanya oleh satu dua kali tepukan tangan tak berirama.

Azrul Ananda, Presiden Persebaya, orang nomor satu di klub kebanggaan masyarakat Surabaya, agak bingung dengan respon yang memunggungi ekspektasinya. Kandas sudah semalam suntuk ia merangkai kata-kata agar terlihat gagah dihadapan yang menghadapnya.

Para pemain khususnya seakan tak mendengarkan igauannya. Pada sibuk dengan dirinya sendiri seperti di taman kanak-kanak. Haay yang dari kejauhan mata lamat-lamat mendengar kelantangan orang yang menggajinya itu menyunggingkan tawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Lho, ada yang salah dengan perkataan saya?!” Seluruhnya diam, tak seorang berani menjawab. Angin pun berhenti mengembus. Benar-benar diam. Tapi tak sunyi. Dalam hati masing-masing pemain sahut-menyahut sekeras-kerasnya.

Latihan perdana, pagi, dipungkasi saling diam satu sama lain. Tapi agaknya Pak Pres kurang mengacuhkan itu. Di dalam dirinya, rasa penasaran atas Haay masih mengungguli daftar kemauannya. Ingin ia berbicara dua mulut dengan Haay.

Sejumlah pemain telah beranjak dari lapangan latihan. Beberapa lainnya membantu kitman membereskan peralatan latihan. Satu dua lainnya dikerubungi wartawan yang tengah kekurangan bahan untuk menaikkan oplah mereka. Bagi media, tempat wartawan mencari upah, selain berita negatif tentang Bonek, kontroversi mengenai Persebaya adalah bak sejam hujan di tengah hamparan kemarau panjang. Bad news is a good news.

Kelelahan Haay disandaran kaki gawang itu takluk oleh sengatan matahari yang beranjak seukuran tombak. Si kulit bundar yang hampir tak terpisah darinya itu mengajaknya untuk menggeserkan diri ke tribun yang berpayung. Ia menuju tribun diiringi canda tentu dengan si kulit bundar itu. Azrul yang masih melanjutkan diskusi dan kali ini bersama tim pelatih, menamati tingkah Haay yang makin detik makin aneh.

Azrul menyimpulkan apa yang sama disimpulkan oleh psikolog tim Persebaya; Haay kehilangan gairah bersepak bola. Padahal, sebulan yang lalu, saat berseragam Timnas, ia menjadi top skor dengan 8 gol. Di pentas Sea Games. Di pentas dimana Timnas Indonesia tidak hanya berhadapan dengan sebelas pemain lawan, tetapi juga berhadapan dengan remeh tawa dunia atas kasus hilangnya gawang di Surabaya.

“Haay, saya ingin bicara sama kamu….”

“Iya Bapak silakan saja. Ada apa?”

“Jangan di sini….”

“Di sini saja Bapak. Si kulit bundar masih rindu dengan rumahnya,” sahut Haay menunjuk lapangan hijau kekuningan.

“Oh, eh, ok. Baik,” ketus Azrul. “Kalau bukan karena ini, tak mungkin aku kasih kontrak panjang ke kamu, Haay,” lanjut Azrul menggerundel dalam hati.

“Bapak, maaf, bukan saya yang minta kasih kontrak. Tapi bapak sendiri. Andai tidak di sini, sudah banyak tim di Asia yang ingin kerja sama dengan saya. Bapak tak perlu punya pikiran seperti itu. Sudah bapak, tenang saja. Saya seratus persen untuk Persebaya.”

Azrul benar-benar nanap bercampur jengah Haay mendengar gerundelannya. Wajahnya berubah masam. Keangkuhannya selama ini rontok begitu saja oleh Haay yang masih dibawah 23 tahun. Azrul mencoba mengkondisikan diri.

“Bapak, saya hormat sekali dengan bapak. Maaf saja jika tingkah saya akhir-akhir ini memang membuat bapak menyimpulkan saya aneh. Tapi bapak, bukan tanpa sebab saya demikian. Tidak mungkin saya tak dapat hikmah luar biasa pasca peristiwa lalu membuat saya shock tak berkesudahan. Banyak yang tak bisa saya ceritakan ke bapak. Bukan lantas saya tidak percaya dengan bapak. Tetapi, kesulitan yang saya alami adalah ketika andai saya tahu akan orang akan kecelakaan kapan dan di mana, tapi saya ini tidak bisa memberitahunya.”

Azrul menatap Haay serius. Alisnya meruncing.

“Bapak tahu, kenapa tadi teman-teman tak kasih tepuk tangan ke bapak?”

Azrul masih menatap, tak berucap apa.

“Begini. Saya tidak peduli dengan apa itu, federasi, pemerintah, aparat, yang setelah kejadian ini berakhir seolah-olah tak mendapatkan penyadaran dan malah masih mengulangi jalan salah yang sama. Tak ada itikad apa-apa. Eh, Pak, pernyataan tadi jangan di up di media loh. Rahasia diantara kita saja. Bisa habis saya nanti. Bapak masih ingat toh gawang yang hilang itu bilang kalau diculik?”

Azrul mengangguk. “Ia bilang kalau diculik oleh kegagal-totalan pengelolaan, dibungkam oleh keegoisan pribadi dan golongan, disekap oleh kesembronoan keputusan, disandera oleh kefakiran pengurus yang lapar oleh kekenyangan, dan kemudian hening….”

“Kita slow saja sementara ini bapak. Tak usah pakai bahasa yang belibet, tak usah tegang dulu seperti ‘Bilamana Sepak Bola Tanpa Gawang’ apalagi ‘Gawang yang Angkat Suara’ yang ditulis oleh sutradara saya. Kita berpikir kembali yang ringan-ringan, pakai bahasa yang biasa-biasa saja. Bagaimana ceritanya bapak bicara ke teman-teman, dengan lantang, menyampaikan, bahwa kita harus terbang setinggi-tingginya?”

“Maksud kamu, Haay?”

“Bukan soal juara atau tidanya. Saya paham, indeks keberhasilan tim salah satunya itu berprestasi, juara. Tapi, yaaa, sejak kapan gituloh bajol kok disuruh terbang?”

Haay melanjutkan. “Bapak, saya tidak sedang kasih ceramah atau apa orang jawa bilang, nuturi, ya?” Azrul mengangguk lagi. “Bukan bapak. Saya hanya ingin berpikir kembali. Semuanya. Eh, begini saja. Saya tanya, bapak jawab.”

“Saya gak ngerti, Haay….”

“Belum bapak, belum saya kasih pertanyaan. Sebentar bapak, sabar. Ini saya tanya, bagaimana cara bapak bisa sampai ke sebuah tujuan jika bapak tidak mengerti dimana sekarang bapak berpijak?”

Belum sempat menjawab, mencuat sebuah celetukan. “Kakak Haay, sudah jangan kasih pertanyaan macam filsuf begitu. Kakak Haay ini pemain sepak bola, bukan penyelam filsafat. Presiden kau itu saja saya haqqul yaqin, tak tahu kalau dulunya nenek moyang saya ini terbuat dari kandung kemih babi!” kekeh si kulit bundar yang segera dibungkam mulutnya oleh Haay. Haay sekonyong-konyong sungkan, sedikit menyengihi Azrul yang makin kecut.

“Presiden kok pakai sepatu di kaki kanan pakai sandal jepit di kaki kiri. Ha-ha, lucu,” lanjut celetuk si kulit bundar yang berhasil melepaskan diri dari genggaman Haay. Azrul makin kecut kuadrat.

 

Penulis Min Turobil Aqdam, Tadabbur Cinta & Gadis Pattani Dalam Hati, bagian dari Cak & Ning Surabaya 2018, Bondo Nekat. Bisa disapa di @rifihadju