Oleh: Rifi Hadju

 

“Sebenarnya keanehan luar biasa ini makin menggumpal di pikiran saya, Haay. Gawang hilang, pengurus sok ngurus, Pergerakan Paguyuban Gawang apalah itu yang kayak di film-film kartun. Kamu, anak kemarin sore yang kayak kamitua juga Si Kulit Bundarmu yang bisa ngomong itu…. Saya berusaha menahannya…,” curah Azrul yang dihentikan oleh topangan dagu dari tangannya yang menyiku.

Haay minim atensi. Tribun lapangan bola di Polda Jatim disepoi angin penepis kerisauan. Ia keasyikan mengelus-elus Si Kulit Bundar yang tampaknya terserang kantuk luar biasa. Azrul masih belum meneruskan kata-katanya setelah ia melirik Haay yang berupaya meninabobokan “peliharaan”-nya itu. Bermenit-menit kemudian, Haay menyandarkan Si Kulit Bundar di kasur yang dibikin dari jersey-nya yang ia lempit seempuk menurutnya.

Empat mata dan dua mulut yang bersua saling mencurahkan gelisah. Mereka coba upayakan titik yang semestinya. Haay kembali bersuara.

“Tak perlu saya jelaskan. Bapak paham, kenapa tadi waktu kumpul, saya lebih memilih menyingkir, tapi Bapak tidak melarangnya. Dan kalau boleh diizinkan, mewakili teman-teman, mengapa mereka tak sesuai dengan harapan Bapak. Eh, begini saja. Liga musim lalu yang berhenti di tengah jalan itu sungguh menguras tenaga, pikiran, dan emosi bagi kita semua, apalagi saya. Saya kasih bukti konkretnya, sederhana saja. Ketika wasit kasih keputusan yang merugikan tim, kita protes setengah mati. Tapi, ketika wasit kasih keputusan yang menguntungkan tim, mengapa kita seolah-olah nggak ngerti?”

“Lantas, bagaimana? Bukan hanya kita, semua berlaku sama. Ketika butuh poin untuk bertengger di peringkat pertama atau menghindari degradasi atau gengsi harus berada di atas rival abadi, wasit kasih keuntungan itu ya kita mafhumi. Serba salah juga, Haay. Kamu tentu ingat, saya tegas ingin membawa tim ini dengan cara yang benar, nggak ingin melakukannya dengan cara-cara yang tak semestinya, seperti rahasia umum yang ada….”

“Tapi, kenyataannya, ketika tim kita diuntungkan oleh keputusan wasit yang merugikan tim lawan, apakah bisa kita berlaku sama? Protes kepada wasit, seperti ketika tim kita dirugikan oleh keputusan wasit yang menguntungkan tim lawan, Pak?”

“Serba sukar juga…. Sebentar, sejak kapan kamu mempunyai pemikiran yang sangat berbeda dari kamu yang dulu, Haay?”

Pelik bagi Haay. Pikirnya sukar sekali menceritakan hal yang semestinya kepada Azrul meskipun ia adalah presiden tim yang ia bela.

Pertanyaan itu mengantarkan Haay pada seseorang yang menemaninya tatkala sunyi; seorang bertopi pet putih. Seorang misterius yang juga “menghadiahkan” Si Kulit Bundar untuk Haay. Si Kulit Bundar yang menjadi saksi bisu atas kegemparan yang lalu.

“Eh, Bapak. Bagaimana kalau saya kasih saran?”

“Aduh! Saran apalagi Haay, Haay…. Saya ini Presiden kamu, lho, yang kontrak kamu, yang kasih gaji kamu, yang urus segala keperluan kamu, urus pemain, tim, ofisial, segala yang berkaitan dengan Persebaya…,” sampai Azrul menunjuk-nunjuk dadanya, agak memelototkan mata ke arah lapangan yang sedang memakan siang, menyepak sepatu kanan dan sandal kirinya sejauh-jauhnya.

Melihat Presiden Klubnya yang menendang sepatu dan sandalnya itu, Haay berdiri dari sandarannya di siku cor-coran tribun lapangan. “Nah, itu! Itu, Bapak. Saya belum kasih saran, Bapak sudah langsung gerak…. Saya memang ingin, Bapak buang itu sepatu dan sandal. Jangan bilang lancang, Bapak. Tapi, besok-besok saya ingin Bapak kalau pakai sandal ya sandal, sepatu ya sepatu, gitu loh. Tidak setengah-setengah.”

Azrul kali ini benar-benar kesal, berdiri dan menyudahi. Haay sedikit terkekeh melihat Presiden Klubnya itu berjalan nyeker dengan langkah yang penuh getem-getem menuju mobil hitam mengkilatnya. Semakin jauh Azrul membelakanginya, semakin meningkat kekehnya, semakin sendiri pula ia.

Belum sempat menarik nafas, tetiba asap tipis menyembur dari sisi kirinya. Haay terjelengar. Asap itu ialah asap rokok yang sungguh ia kenali empunya. Seorang bertopi pet putih yang hobi muncul dan pergi tiba-tiba (seperti areknya). Seorang bertopi pet putih yang akrab tertawa dan seketika menepuk keras pundak Haay.

“Eh, Anda, aduh, entahlah. Tetapi begini, Anda tidak bisa seenaknya menggeret-geret saya sesuka-sukanya. Saya ini juga punya…, ah…,” kesal Haay yang selepas kedipan mata beralih ajang dari Tribun Lapangan Polda Jatim menjadi ke Tribun Gelora Bung Tomo yang sunyi, di siang ketang.

Seorang bertopi pet putih itu terkekeh, bergaya serupa ia menamati Haay di tempat yang sama, sekian bulan yang malam. Wajahnya menyirat secuil kebanggaan melihat Haay yang meningkat limit dirinya, sekali lalu juga menyiapkan “paket” berikutnya.

“Anda kalau mau ajak saya kemana, bilang dulu, dong! Ini saya telanjang dada, jersey tertinggal di lapangan sana….”

“Ha-Ha….”

“Hyah, ketawa lagi Bapak!”

Seorang bertopi pet putih itu masih dengan gaya yang sama. Sama seperti pertama kali ia menemukan Haay yang terpuruk di tempat yang sama pula. Terakhir kali mereka bertemu dalam mimpi secara maknawi. Haay mendapat kunci jika gawang yang hilang itu telah kembali. Atas titah seorang bertopi pet putih itu juga, ia menelepon Azrul, orang yang pertama kali ia forward-kan surel dari seseorang yang hingga detik ini masih abu-abu atau tidak jelas identitasnya apalagi personalitasnya.

Seseorang bertopi pet putih itu meminggang – memandangi Gelora Bung Tomo yang tersengat terik matahari. Haay berada di belakangnya, duduk di seat biru dengan memendam kesal dan buta tahu. Sesekali seseorang bertopi pet putih itu juga terbahak-bahak selepas-lepasnya, juga gawang di dua sisi yang turut terbahak-bahak. Haay menutup wajahnya, “Duh, apalagi ini,” batinnya.

“Oh, tenang Haay. Tak serumit yang kau pikirkan, juga tak semudah yang kau kira. Begini, eh, siapa nama saya? Lupa?”

“Soegiarto, pemain Persebaya yang gugur pada saat pertempuran 1945,” jawab datar Haay.

Sejenak mulut tak menyambut. Hanya angin mengembus. Sebuah alunan musik dinada-nadakan semilir yang menggerahkan. Bersamaan itu, seorang bertopi pet putih itu membalikkan badan, menatap wajah Haay yang lumayan kepayahan. “Oh iya, iya, benar. Begini anak muda. Saya tahu 11 hari lagi bakal ada uji coba. Perdana. Di sini. Saya hanya ingin satu….”

Haay memotong. “Eh, Bapak macam manajer saya saja tahu kapan main, kapan tidak. Saya ini yang pemain, belum tahu kabar itu. Dengan siapa memang?”

“Aaa, ssst. Diam. Diam. Sudah itu tak penting. Yang terpenting adalah, seperti yang saya katakan kepadamu. Tendang bola itu dengan hati, bukan dengan kaki! Sebagaimana bola yang ikhlas, sepenuh hati dikoyak ke sana kemari ribuan kali oleh 22 pasang kaki. Paham?”

“Bapak! Saya ini tidak kenal Anda. Tahu pun tidak. Kemarin, saya tanya KTP Bapak, malah Bapak kasih daun kering. Maaf saja. Anda dengan seenaknya muncul dan pergi. Lalu tunjuk sana tunjuk sini, ini dan itu. Anda seolah tahu dengan apa yang terjadi, tetapi sekalipun Anda tak kasih kejelasan kepada saya. Dan bodohnya, saya tidak ada pilihan lain untuk tidak melanjutkannya. Sekarang saya ingin bersuara. Atas dasar apa saya harus menuruti Bapak?”

Seseorang bertopi pet putih itu untuk pertama kalinya memicingkan mata dan mengerutkan dahi melihat Haay yang tampak tak memperhatikan Haay berbicara. Lantas jemarinya mengempit sebatang rokok dari saku celananya dan menyedotnya bersamaan dengan Haay yang mendongakkan kepala.

Haay tercengang. Rokok itu dibakar dengan sebuah isapan, bukan lagi dengan bantuan korek ataupun sumber api lainnya. Dengan melangkahkan kakinya menuju Haay, seseorang bertopi pet putih itu membungkukkan badan dan menyemburkan asap yang sama sekali kental di permukaan wajah Haay yang masih mengucurkan lelah. Seketika Haay pingsan tanpa aba-aba dan seseorang bertopi pet putih itu meraih kepalanya yang hampir menyentuh tanah.

“Atas dasar bahwa kamu tidak mengerti dari apa yang tidak kamu mengerti,” lirihnya.

 

Penulis Min Turobil Aqdam, Tadabbur Cinta & Gadis Pattani Dalam Hati, bagian dari Cak & Ning Surabaya 2018, Bondo Nekat. Bisa disapa di @rifihadju