Lalu bagaimana cara terbaik agar segera kita temukan orang-orang yang percaya diri? Mendapati masalah, melakukan pemetaan atas metode dan solusi atas nama diri sendiri straight to akar persoalan dan subyek utama pangkal dari segala yang ada?

Di BangbangWetan Februari kemarin, Mbah Nun menyinggung soal kecenderungan semakin banyaknya orang untuk memercayakan berbagai urusan ke “perantara” atau “makelar” yang lahir dari sikap mental menyerah dan tidak percaya diri. Tren ini melingkupi hubungan manusia dengan Tuhan, interaksi  personal sampai ke hajat institusi dan kelembagaan.

Skalanya mencakup dari perihal orang per orang, lokal kedaerahan hingga nasional bahkan beberapa di antaranya juga regional dan global. Kalau mau menyebut  contoh-contoh, sebut saja itu perjodohan, pekerjaan, keinginan memiliki keturunan hingga “penglarisan”, dan lalu lintas rejeki. Ruwetnya persepakbolaan, impor beras, Perpu, ormas, dan gerakan mencurigakan bagi keutuhan sebuah negeri.

Dalam upaya membicarakan fenomena di atas, setidaknya terdapat 4 hal yang menjadikannya terus berlangsung. Mereka adalah: kemalasan, rasa tidak percaya diri, kondisi aktual yang lahir dari sejarah panjang, dan logika “pasar”. Daftar ini masih bisa diperpanjang namun cukuplah empat di atas untuk kali ini.

Tinjauan antropologis mungkin bisa sedikit menjawab pertanyaan “mengapa” serta “bagaimana seharusnya”. Indonesia yang punya sederet catatan ironi dalam perjalanan usianya menegaskan fakta saling bertolak belakang: alam yang kaya dan manusia yang kemiskinannya terjaga. Bahwa kondisi alam menjadi alasan kondisi fakir yang menetap pada orang-orangnya mungkin ada benarnya. Meski demikian, terasa tidak adil bila kesalahan ditimpakan hanya kepada mereka. Usikan dari luar dalam bentuk kolonialisasi, pergerakan pemikiran besar dunia, serakahnya ambisi kekuatan modal, aneksasi serta penguasaan manca merupakan faktor utama yang tidak bisa diabaikan.

Kemungkinan lain yang menjadikan lebih banyak dari kita memilih memercayakan urusan kepada “makelar” adalah minimnya penerapan konsep kesetaraan. Dari era pemerintahan lokal bersifat kerajaan, masuknya agama, dan keyakinan primer, datangnya kabilah dagang yang menjadi super body penguasaan, kemerdekaan yang nyatanya hanya peralihan nama, bendera dan lagu kebangsaan sampai tumbang tumbuhnya gaya dan judul pengelolaan. Semuanya menempatkan khalayak pada hegemoni atasan-bawahan. Walhasil, konsep equal hanya tercetak di buku pelajaran dan orasi kepemimpinan.

Lalu bagaimana cara terbaik agar segera kita temukan orang-orang yang percaya diri? Mendapati masalah, melakukan pemetaan atas metode dan solusi atas nama diri sendiri straight to akar persoalan dan subyek utama pangkal dari segala yang ada? Terus belajar dan menajamkan sensitivitas pertimbangan serta keputusan. Meniatkan diri bahwa langkah terbaik menuju penyelesaian adalah menggantungkan diri kepada “tali langit”. Bersungguh-sungguh dan meminimalisasi kelelahan dalam terus melanjutkan perjalanan.

Dari itu semua, meja pembelajaran dan kelas-kelas persekolahan tepat guna sekaligus berdaya guna bisa kita peroleh dari, di dalam, dan bersama agenda Sinau Bareng, Maiyahan, forum rutinan dan berpuluh lingkaran. Tak lupa, pastinya, modal kemauan masing-masing kita untuk segera berubah atau diam, nyaman dalam keterpurukan.

Red – Penulis adalah, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.