Oleh : Prayogi R Saputra

 

Rambut perempuan tua itu sudah sepenuhnya putih sejak Ji Khan mulai bisa mengingat. Tubuhnya kurus. Pipinya tirus. Kulitnya keriput. Sehari-hari dia tak banyak bicara. Ji Khan juga tak pernah menjumpai perempuan tua itu tersenyum, apalagi tertawa lepas. Pakaiannya selalu sama tiap hari. Kain jarik yang sudah lusuh dan atasan kutang warna putih atau coklat tua. Jarang sekali dia mengenakan baju yang biasa digunakan orang-orang, kebaya.

Ji Khan juga tak pernah tahu siapa nama perempuan itu yang sebenarnya. Sejak kecil dia memanggilnya Mbah Bunder. Ji Khan juga tak pernah tahu siapa suaminya. Kabarnya, suaminya hilang saat jaman Jepang. Dikirim kerja paksa. Jadi romusha. Berarti, sudah lebih lima puluh tahun Mbah Bunder menjanda. Suaminya pergi dengan paksa dan meninggalkannya menghidupi  3 anak perempuan seorang diri. Dengan bekal sepetak sawah kecil di belakang rumah. Serta beberapa ekor ayam betina. Beserta bayi-bayi kuthuk-nya.

Barangkali karena itu, setelah menginjak usia remaja kencur, anak pertamanya kemudian pamit merantau ke Sumatra. Mungkin ingin mengurangi beban Simboknya. Mungkin sengaja ingin pergi, lari dari kesulitan hidup di desa. Puluhan tahun, dia tak pernah pulang. Juga tak pernah berkabar. Mbah Bunder pernah mengatakan pada Ji Khan kecil kalau si Jaminem, anak sulungnya itu, hilang.

Sementara anak keduanya, Jamirah, menikah dengan pemuda desa sebelah. Anak orang kaya raya. Rumahnya besar, dengan pekarangan luas. Tiga bangunan limasan berjajar ke belakang. Ditambah bangunan di sisi kanan. Rumah itu dibangun dari kayu jati. Dengan ukuran balungan kayu yang besar-besar. Menghadap hamparan persawahan yang sangat luas. Sebagian dari hamparan sawah itu miliknya. Sapi dan kerbau tidak usah disebut. Sekarang, anak kedua itu mulia hidupnya.

Sedangkan anak ketiga, Jumarni, menunggui Mbah Bunder di rumah yang menghadap ke utara itu. Dia pernah menikah dengan pemuda desa sebelah. Melahirkan 7 anak. Semua  laki-laki. Tapi, hanya si sulung yang bertahan hidup. Sisanya, meninggal di usia belum tiga tahun. Kabarnya karena “step”,  kejang demam pada anak-anak. Di masa itu, step menjadi pernyakit yang mematikan bagi anak-anak desa. Penyakit itu pula yang merenggut nyawa anak-anak Jumarni. 6 anak semua pergi karena step.  Sang suami lalu meninggalkannya. Entah kenapa. Lalu pergi merantau ke Sumatra. Jumarni bertahan bersama anak sulungnya, dengan  masygul. Seperti Mbah Bunder, yang harus rela melepas suaminya, saat umurnya mungkin belum genap 20 tahun.

Beberapa tahun kemudian, Jumarni menikah lagi. Dengan jejaka yang jauh lebih muda dari dirinya. Pekerja di perusahaan kayu di dekat rumahnya. Entah siapa yang terpikat lebih dulu. Atau memikat lebih dulu. Mereka pun akhirnya menikah. Ji Khan belum lahir ketika itu. Kabarnya, dengan laki-laki muda itu, Jumarni juga melahirkan 2 anak. Kedua-duanya meninggal saat baru berusia belum lima bulan.

Lantas, ketika Ji Khan duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, Jumarni kembali hamil. Suaminya telah lama ganti profesi sebagai sopir truck trayek ke Sumatra. Dia jarang pulang. Jumarni khawatir kalau-kalau suaminya, nek ngaso mampir. Lalu kebablasan, tak pernah pulang.

Maka, di kehamilan ketiga bersama suami mudanya, Jumarni minta saran pada Simboknya, apa yang harus dilakukan agar bayinya selamat. Sehingga, antara dia dan suaminya ada semacam tali pengikat. Yang membuat hubungan pernikahan kian erat. Karena Jumarni juga berpikir, bahwa kalau mereka memiliki anak, itu akan membuat suaminya berpikir ulang jika berniat meninggalkannya.

Mereka pun sepakat untuk bertanya kepada “orang pintar”, yang tinggal di lereng gunung Bantjak. Limabelas kilometer barat daya rumah mereka. Si Orang Pintar pun menebak, kalau anak Jumarni akan lahir perempuan dan sekaligus Orang Pintar itu memberinya nama:  Siti Nurhaliza.  Dia juga memberi saran agar Jumarni tidak mengamalkan upacara-upacara tradisi kelahiran bayi seperti umumnya di desa selama ini.

Tidak usah “tingkepan” saat janin dalam kandungan berusia 7 bulan. Dan jika sudah lahir, tak perlu di “sepasari”, “selapani”, “telung lapani”, juga tidak usah di”pitoni”. Biarkan saja dia hidup tanpa selamatan-selamatan.

Pada hari yang ditentukan, bayi itu lahir. Perempuan. Tanpa suami muda di sampingnya. Karena laki-laki itu masih tugas nyopir ke Sumatra. Maka, seperti pesan si Orang Pintar, bayi perempuan itu diberi nama Siti Nurhaliza. Jumarni senang dengan kelahiran anaknya yang kesepuluh itu. Sekaligus gemetar dan cemas. Dia takut kalau-kalau bayinya ini juga mengalami nasib seperti kakak-kakaknya. Meninggalkannya. Saat masih sedang lucu-lucunya. Maka, selama bertahun-tahun, hatinya memendam rasa cemas.

Tapi, diluar pengetahuan Jumarni, Mbah Bunder memiliki kegelisahan sendiri soal mengapa anak-anak Jumarni nyaris semuanya meninggal saat masih bayi. Dulu, Dulu sekali. Saat Bung Karno Pemimpin Besar Revolusi sedang digoyang isu kudeta Gestok, Mbah Bunder menerima beberapa laki-laki yang diburu untuk dibunuh. Mereka diizinkan sembunyi di dalam lemari kamar rumahnya. Bunder sehari-hari mengenal ketiga laki-laki itu. Mereka orang baik. Sering membantu kesulitannya. Maka, ketika mereka dikejar-kejar orang tak dikenal untuk dibunuh, dia ingin berbalas membantu mereka.

Mbah Bunder tidak pernah tahu apa itu PKI. Seperti juga ketiga laki-laki yang sembunyi di rumahnya. Mungkin juga banyak laki-laki lain yang tidak benar-benar tahu apa itu PKI. Mereka hanya orang-orang desa yang buta huruf. Yang mudah dihasut. Untuk mengikuti ini dan memusuhi itu.

Setelah kejadian itu berlalu, dan anak-anak Jumarni berjatuhan, meninggal. Satu demi satu. Bunder berpikir apakah itu tumbal, yang harus dibayar, karena dia menyelamatkan nyawa tiga laki-laki. Sehingga, delapan cucu-cucunya, harus sowan ing ngarsaning Gusti, ketika masih bayi.

Musim demi musim berganti. Siti Nurhaliza  sudah remaja. Menjelma menjadi gadis yang jelita. Meski anak desa. Ji Khan juga sudah merantau sekolah ke Yogja. Suatu hari Ji Khan pulang ke desanya. Dia mampir menemui Mbah Bunder. Perempuan tua itu masih seperti dulu: mengenakan kain jarik yang sudah lusuh, dan kutang warna coklat pudar. Dia sedang memasak, meniup-niup bara kayu di dapurnya.

Begitu melihat Ji Khan datang, Mbah Bunder menatapnya dengan haru. Ji Khan menanyakan kabar dan satu dua obrolan sederhana. Mata Mbah Bunder berkaca-kaca. Hingga suatu saat, Mbah Bunder menunduk. Menitikkan airmata. Tangan kanannya menggengam ranting kecil, dan menggores-gores lantai tanah dapurnya dengan ranting itu. Ji Khan tahu, itu artinya perempuan tua itu enggan bicara. Dia sedang teringat kenangan hitam saat peristiwa ’48 dan ’65.

Ji Khan pun diam. Duduk di sebelahnya. Suara radio gelombang SW timbul tenggelam. Kemresek. Memperdengarkan lagu Gendjer-gendjer versi Dengue Fever. Ji Khan duduk saja di samping Mbah Bunder yang masih saja tertunduk. Lama. Dia tak berani mengganggunya. Karena tahu, salah satu dari ketiga laki-laki tadi adalah: kakeknya.*

 

Prayogi R. Saputra : adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra