Oleh : J.Rosyidi

 

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua “bapak”nya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Demikian kurang lebih sabda nabi yang saya yakin banyak dari kita mengetahuinya. Mungkin hanya ada sedikit musykil dengan terjemahnya, khususnya pada kata “bapak”. Lazimnya kita tahu harusnya menggunakan frasa “orang tua” alih alih menggunakan kata bapak seperti yang saya tulis di awal.

Tapi, coba kita tengok teks hadisnya langsung. Kata yang dipakai adalah kata “abawa” yang dalam bahasa arab merupakan bentuk tasniyah (double) dari kata abun yang berarti bapak. Jadi secara tekstual memang artinya adalah kedua bapaknya. Rasul tidak menggunakan kata “walid” yang berarti orang tua tentunya ada pesan yang ingin disampaikan kepada kita. Mengingat segala yang diucapkannya dalam bimbingan wahyu. Nah, tugas kita lah yang kemudian mencoba mentadabburinya.

Kesan pertama yang kemudian timbul dalam penggunaan kata “abawa” dalam hadis tersebut adalah bahwa tugas pengasuhan anak oleh orang tua ini adalah tugas yang maha berat. Hingga seakan dibutuhkan dua orang bapak sebagai pengembannya. Kesadaran akan beratnya tanggung jawab mendidik anak inilah yang pertama kali harus dimiliki oleh orang tua. Bilamana tidak demikian, tanggungjawab pengasuhan tidak sebatas kebutuhan sandang pangan dan papan bagi anak, melainkan yang terpenting -dan terberat- adalah pendidikannya.

Seolah-olah ibu pun harus berubah wujud menjadi laki-laki. Tentu saja -yang saya pahami- adalah cara berpikirnya. Bukan berarti cara berpikir laki-laki lebih baik dari perempuan -karena maskng masing memiliki keunikan dan keunggulannya. Dalam konteks visi pendidikan bagi anak -yang menurut saya- seorang ayah (bapak) lah yang menentukannya karena seringkali mampu berpikir lebih rasional -meski tidak selalu juga.

Seorang ibu, seringkali terjebak pada perasaan tidak tega , meski itu dalam proses pendidikan bagi anaknya. Misal ketika diputuskan -yang terbaik bagi anak, dan sesuai persetujuan asang anak tentunya- ananda harus masuk ke pondok, bisa jadi sang ibu merasa tidak tega. Entah alasan karena dirinya sendiri atau kekhawatiran terhadap anaknya. Nah, dalam kasus seperti ini switching cara berpikir ibu menjadi “bapak” saya kira.

Selanjutnya, rasul pun seakan menekankan kepada kita betapa dibutuhkan “dua orang bapak” dalam menyusun visi pendidikan anak kita. Apakah tetap dalam fitrahnya, atau kab mengalami “pembengkokan” menjadi Yahudi, Nasrani atau bahkan Majusi.

Dalam konteks menentukan visi pendidikan bagi anak ini memang dibutuhkan banyak pertimbangan. Tak cukup satu. Karena amanah itu adalah amanah orang tua, makanya kerjasama bapak dan ibu sangat dibutuhkan. Meski dalam hal ini bapak adalah kepala keluarga, namun perspektif seorang ibu juga sangat penting untuk melengkapi sudut pandang bapak. Tentu saja, sang ibu harus mampu berpikir rasional -bukan mengedepankan emosinya sebagaimana banyak terjadi. Jangan sampai ada kata “pokoknya” yang biasa terungkap dari sisi emosional perempuan.

Celakanya, semakin kesini, dengan dalih mencari nafkah, banyak orang tua kemudian merasa tidak punya waktu lagi untuk mendidik putra-putrinya. Bahkan sekedar menetukan visi pendidikan untuk anaknya pun tak dilakukan. Prinsip seperti air mengalir saja dalam pendidikan anak banyak kita jumpai. Hingga menjamurlah institusi (baca: industri) pendidikan. Pada awalnya tugas institusi pendidikan hanyalah membantu atau berperan sebagai mitra bagi orang tua dalam melakukan tanggung jawabnya mendidik anak-anak. Tapi coba lihatlah -silahkan jujur- yang terjadi adalah seakan adanya alih tanggung jawab dari orang tua kepada sekolah.

***

Sebenarnya siapa sih yang mempunya tanggung jawab dalam pendidikan anaknya? Orang tua kan? Bukankah kita -orang tua- yang diberikan amanah? Siapa yang memberikan amanah? Allah bukan? Kenapa tidak berpikir Allah memberi kita amanah, karena kita mampu? Atau minimal Allah percaya kalau kita akan mampu! Yuk ayah bunda segera ambil kembali tanggung jawab mendidik anak anak kita. Kalau belum merasa mampu, maka yuk belajar bareng-bareng.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi