1483077534898

Oleh : Jang Rahmat

Hidup selalu dihadapi dengan suatu yang cair, padat dan memuai. Ketiga hal tersebut hal yang fitrah yang Tuhan ciptakan kepada seluruh makhluknya. Jangan semua makhluk-Nya ia ingin kita amati, coba kita perhatikan satu jenis makhluk saja yakni Manusia.

Coba tafakuri proses penciptaan-Nya, awal dari proses keikut sertaan makhluk lain-Nya dalam penciptaan tersebut. Bukan berarti Tuhan itu lemah tidak bisa menciptakan langsung Makhluk tanpa keikutsertaan Makhluk lain-Nya, akan tetapi banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.

Pertama Tuhan mau Manusia itu berfikir dari proses kejadian tersebut sehingga dengan begitu manusia tersebut semakin dekat serta bermesraan dengan-Nya, kedua Bisa Jadi Tuhan tidak mau Ego layaknya manusia yang diberi Ego oleh-Nya, kemudian dengan Ego tersebut dia lebih memilih untuk Ego-is-me (Kehendak diri sendiri/Semaunya sendiri), dan masih banyak kemungkinan lainnya yang mampu membuat kita semakin dekat serta mesra bersama-Nya.

Berbicara cair, padat dan memuai kesemuanya itu bisa di ambil dari salah satu contoh benda kemudian upayakan untuk tak terlalu fokus kepada kepada bendanya namun kepada sifatnya.

Pertama cair bisa diambil contoh Air, ia memiliki sifat yang lembut, lunak, elastis, fleksibel, dan lain-lainya bisa mendalami lagi melalui sifat-sifat air. Air kalau pun dipukul, dibelah, dihajar, dihantam seperti apapun ia akan kembali pada keadaanya.

Kedua padat bisa diambil contoh Es Batu, ia memiliki sifat salah satunya keras, mengelompok, dan lain-lainya bisa diamati sendiri. Es batu kalau dipukul akan hancur, pecah, retak, berserakan, hancur, dan sebagainya.

Ketiga memuai bisa diambil contoh embun, ia memiliki sifat lebih mendalam halus, kasih sayang, cinta, kasat mata, dan lain-lainya bisa diamati sendiri. Kalau pun embun itu mau dipukul, dihancurkan, dipecah bela, dimusuhi, di adu domba itu tidak bisa.

Sebenarnya bukan Air, Es Batu dan Embun yang literlek itu pesannya, akan tetapi bagaimana fenomena Alam (Sunntulloh) yang terjadi di Alam itu juga terjadi dalam kehidupan kita. Perlu meneliti lebih mendalam kapan saatnya kita mencair, memadat dan memuai.

Karena Rosululloh pun juga begitu kepada sahabat-nya, ketika dalam bergaul bersama sahabat ia lebih cenderung mencair serta memuai, karena sifatnya yang lembut penuh kasih sayang dan cinta. Dan sesungguhnya  Alloh serta seluruh Malaikat bersholawat kepadanya dan Tuhan pun mengajak orang-orang yang mau meng-aman-kan jiwa, martabat, harta, aq’l, keyakinan orang lain untuk bersolawat kepadanya juga.

Subhanalloh, betapa mulianya Rosululloh.
Amatilah, dirimu sendiri melalui Alat canggih yang Alloh telah tanamkan pada setiap dirimu. Tinggal engkau saja mau dan mampu atau tidak untuk meng-upgrade hal tersebut. Sehinnga engkau perlahan tahu, mengetahui, benar-benar tahu, paham, memahami diri sendiri dan pada Psaat proses perjuangan tersebut Tuhan akan mengenalkan diri-Nya kepada engkau melalui Hidayah-Nya.

“Man Arofa Nafsahu, Faqod Arofa Robbahu” (Siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhan yang mendidik, mengajarkan, memberi, memperjalankan, menuju hidayah-Nya).

 

Penulis bisa ditemui di : rahmatajaaaa@gmail.com