Calling All #Z

 

Manusia, zaman, dan pergerakan. Tiga kata ini adalah tokoh utama dalam setiap catatan sejarah, di mana dan kapan pun romansa itu memancarkan artikulasinya.

 

Demikian halnya dengan kejadian-kejadian yang menjadi tonggak waktu dalam buku besar kebangsaan Indonesia. Kalau kilas balik dimaksud menyentuh hitungan senturian, dengan menyimpan untuk sementara catatan penting lainnya, Soempah Pemoeda tentu menjadi bintang timurnya.

 

Perjalanan sebagai satu nation state hingga hari ini menjadi terminologi, menunjukkan penting dan strategisnya peranan mereka yang terbilang muda. Walau dengan tanda kutip harus diakui bahwa tampuk kepemimpinan tidak selalu diemban oleh mereka, semua fungsi dari penggagas hingga pendobrak ada di pundak mereka yang usianya tak sampai menyentuh angka 30.

 

Menyoal manusia di usia saat mana gelegak darah melulu tentang idiom-idiom seperti “sekarang atau tidak sama sekali” dan “akulah dunia”, muncul pertanyaan samakah mereka yang dulu dengan persona yang ada saat ini? Setidaknya pada kriteria tentang mimpi-mimpi, kapabilitas diri, dan daya juang yang menyertai.

 

 

Bila merujuk pada kategorisasi per satuan waktu kelahirannya, hari-hari kita dipenuhi oleh kaum muda dari generasi Y (milenial), generasi Z, dan generasi Alpha yang masih belum jelas karakter dasar serta ciri-ciri uniknya. Untuk purnama bulan ini, kita fokus ke generasi Z; Ketersambungan mereka dengan fenomena aktual tanah air, kesiapan, dan kesanggupan serta kadar harap dan kepercayaan dari generasi-generasi sebelumnya.

 

Beberapa hari lalu, kita lihat anak-anak SMK, yang sebelumnya kondang sebagai STM, mengambil peran aktif dalam unjuk rasa masif di seantero negeri mengusung #Reformasidikorupsi. Maaf bila karena banyak hal fokus perbincangan tidak kita arahkan pada serba-serbi demo itu. Titik berat perhatian kita arahkan pada personalitas mereka yang secara an sich merupakan generasi Z.

 

Demonstrasi itu secara nyata menunjukkan ciri-ciri generasi internet yang lahir pasca pergantian milenium. Mereka adalah manusia yang sedang bertumbuh dengan gawai selalu dalam genggaman tangannya, pesona badaniah menjadi aset utama, aktivitas bersama peer group di kafe merupakan agenda wajib keseharian, serta kelimpahan informasi yang melatari setiap keputusan. Jangan lupa, game dan K-pop adalah klangenan yang nyaris mewujud sebagai budaya wajib mereka.

 

Lalu, generasi centennial (Y), X, dan baby boomers atau sebut saja kita sebagai bangsa bisa berharap apa kepada anak-anak usia belasan yang cenderung “mager” ini? Tambahkan sedikit rasa apriori dengan misalnya membubuhkan fenomena ke-Indonesia-an yang kian jauh terperangkap di jejaring serba ketidakjelasan. Mampukah mereka menerima tongkat estafet beribu harap dan warisan beban masa lalu yang niscaya mereka terima?

 

Merujuk kepada dua hal, pertama anjuran untuk melakukan hardreset terhadap pola pikir, paradigma, dan langkah pergerakan yang diserukan Mbah Nun; serta, kedua, konsep yang diajukan Gus Sabrang mengenai keberanian generasi larva untuk secara radikal memutus mata rantai “kenyamukan” mereka untuk bermutasi menjadi sejatinya garuda, mari bicarakan bersama apa yang mesti dilakukan oleh semua dari kita.

 

Apakah generasi Z dengan apa adanya mereka betul-betul mumpuni memimpin zaman bila saatnya tiba? Ataukah justru kerelaan generasi old melepas–dengan catatan-catatan khusus–egosentris dan kenyamanan “penguasaan” mereka merupakan kunci utamanya?

 

Halaman Taman Budaya Jawa Timur di purnama yang menyertai pergantian musim menyediakan kehangatannya, bagi curahan rasa cinta yang mengendap di relung-relung sebelum cahaya kita bersama.

 

[Tim Tema BangbangWetan]