Captiva Madina

Tatanan masyarakat Madinah telah menjadi semacam dreaming society bagi umat Islam. Seperti kita tahu, di era inilah Islam bukan hanya menjadi aturan peribadatan dan dogma ketuhanan yang bersifat personlistik. Di kota inilah kaum muhajirin dan anshor bahu membahu menyusun struktur bangunan masyarakat islami yang sungguh ideal.

Kecuali bagi mereka yang mendalami disiplin ekonomi Islam, hampir semua diskursus mengenai masyarakat madani hanya terkait dengan jejaring sosial, politik yang turunannya menjadi pembelajaran dalam bagaimana mengelola negara dan pemerintahan. Aspek-aspek perekonomian skala makro maupun mikro mendapat porsi yang terbilang kecil.

Padahal salah satu pilar utama tegaknya bangunan sosio-antropologis sekumpulan manusia terletak pada bagaimana kebutuhan barang dan jasa bisa terpenuhi dan terdistribusikan. Tanpa ekonomi yang kuat sebagai prasyarat, mari tidak bicara ideologi. Demikian Karl Marx pernah tegaskan.

Hal ini cukup mengherankan. Meski Nabi Muhammad dibesarkan di–dan bahkan pernah menganjurkan agar kita menekuni–dunia perniagaan, tak banyak dari kita mau mengupas sisi-sisi teknis dan keilmuan perdagangan, aspek moneter dan pengaturan financial yang telah secara nyata beliau contohkan. Nampaknya, untuk segera mendapatkan jawaban, inilah contoh betapa agama masih berada di sisi sakral yang cukup diametral dengan sisi kehidupan lain yang bersifat profan.

Dan kali ini ketika forum BangBang Wetan masih harus patuh pada regulasi Adapatasi Kebiasaan Baru, mari bahas satu potongan kecil dari glossari ilmu ekonomi bernama pasar. Seperti satu momentum yang secara sengaja dihadirkan, tema pasar ini merapat kepada event Pasar Etan. Perhelatan suka cita dengan ketersambungan ekonomi sebagai elemen dasarnya.

Konstelasi Madinah yang begitu mempesona kita hadirkan. Dalam hal ini, bagaimana Kanjeng Rasul membangun sebuah pasar bagi umat Islam. Catatan bergaris bawahmya adalah bahwa predikat khusus itu hanya melekat di awal. Tak lama setelah pembukaannya, pasar ini segera menjadi pasar percontohan dan diramaikan oleh kaum Yahudi, Nasrani dan kabilah lain yang kepencut dengan konfigurasi dan mekanisme uniknya.

Sedikit menyinggung keunikan pasar itu, tercatat bahwa secara geografis letaknya berdampingan dengan area pemakaman. Sederhana saja, Nabi Muhammad mengajak siapapun yang berkunjung ke pasar selalu mengingat mati sebagai destinasi tak terelakkan.

Pasar dan interelasi yang berhubungan dengan jual beli memang punya talenta untuk mengajak siapapun didalamnya melakukan kecurangan. Motifnya pastilah keuntungan optimal. Menyandingkan pasar dengan “rumah masa depan” memang tergolong cerdik. Dari sudut pandang arsitektural, hal ini menyiarkan semiotika bahwa keuntungan tanpa batas bisa kau raih namun tetaplah ingat ada ajal yang akan selalu menjadi batas akhir semua pergerakan.

Captiva Madina, sebuah frasa yang mengandung makna Madinah nan jelita adalah ajakan agar kita selalu merujuk kepada tatanan Madinah dalam menyusun tata kelola kehidupan bersama. Satu pola yang bukan saja mengundang minat akan kupasan analisa namun lebih sebagai keharusan bagi kita untuk mengupayakan realisasinya di kenian.

Dan perumusannya ke arah sana mari kita mulai di Bangbang Wetan November ini. Rutinan yang selalu kaya dengan kerutan dahi dan tawa bahagia sebagai satu unifikasi.

 

Oleh: Team Tema Bangbang Wetan