Oleh : Ervinna Indah Cahyani 

 

“Cinta itu suatu keadaan di dalam jiwa manusia. Suatu situasi yang bergulung-gulung di batas kedalaman jiwamu. Sedangkan mencintai adalah keputusan sosial. Mencintai adalah perilaku, langkah perbuatan kepada yang bukan dirimu. Bentuknya tidak lagi seperti yang ada dalam dirimu. Ia sebuah dinamuka aplikasi keluar diri, bisa berupa benda, barang, jasa, pertolongan, kemurahan dan apapun sebagaimana peristiwa sosial di antara sesama manusia.” Emha Ainun Najib

Cara orang untuk mencintai itu beragam. Dari yang mencintai dengan sederhana sampai fanatik. Ada yang saking cintanya, ia tak berani menyentuhnya. Seperti halnya salah satu guru Mbah Nun, Umbu Landu Paranggi, yang tak mau menginjakkan kakinya di tanah Jogja. Meskipun beliau ada di Jogja, turun dari pesawat ia langsung saja meloncat ke mobil yang menjemputnya. Bahkan untuk makan, beliau memilih untuk makan di dalam mobil.

Ada pula salah satu orang yang bahkan enggan mengenakan atribut apapun tentang Mbah Nun. Ia berlandaskan kesopanan. Baginya, memakai kaos yang bergambar wajah Mbah Nun itu tidak sopan. Bagaimana kalau ia ke kamar mandi? Atau meskipun gantungan kunci yang berlambangkan caknun itu, baginya jika digantungkan di motor akan sejajar dengan paha. Bahkan meskipun ia diberi peci merah putih yang biasa dipakai Mbah Nun dan jamaah maiyah, ia lebih memilih untuk menyimpannya rapi dalam lemari.

Tetapi, bukankah cara tersebut justru berlebihan? Apa yang dicontohkan dari perilaku orang tersebut bahwa ia tak memakai pecinya dengan alas an apapun, meski itu diberi oleh Mbah Nun, bukankah lebih baik peci tersebut diberikan kepada orang lain? Mungkin banyak orang yang senang jika diberi peci tersebut. Apalagi kalau sudah diberi doa oleh Mbah Nun sendiri. Justru lebih bermanfaat untuk orang lain.

Kukira mencintai tanpa berani menyentuh yang dicintai hanya ada dalam kitab Ramayana. Ketika Dasamuka atau Rahwana yang mencintai Sinta, namun tak pernah menyentuhnya sama sekali. Padahal dalam rentan waktu kurang lebih dua belas tahun Sinta ditawan dalam taman keputren di Ngalengka. Justru Rama yang berhasil membawa kembali Sinta ke Ayodya, ia meragukan kesucian dan kesetiaan Sinta. Hingga meminta Sinta untuk ngobong diri. Masih tak terima dengan hasil dari obong, Sinta pun dibuang ke hutan dalam keadaan hamil. Hmm.

Orang-orang yang fanatik bisa jadi saking cintanya akan mempunyai rasa memiliki. Merasa bahwa apapun atribut yang ia kenakan adalah menggambarkan betapa ia mencintai apa yang ia yakini. Membaca buku Mbah Nun, memakai peci merah putih, dan yang lainnya. Selain itu ia juga menyimpan eksistensi, agar diakui bahwa ia juga mencintai seseorang.

Berbagai cara untuk mengungkapkan cinta. Selain bahasa cinta manusia yang berbeda-beda, ada perilaku untuk menunjukkan cinta kasihnya yang beragam. Antara cinta dan perilaku cinta memang berjalan beriringan. Namun, jangan lupa jika cinta yang berlebihan itu bisa membaurkan cinta sendiri. Cinta itu butuh batasan agar tidak tenggelam di dalamnya.

Seperti kata Mbah Nun, mencintai adalah keputusan sosial. Ia mungkin butuh diwujudkan dalam wujud perilaku dan perbuatan.

 

Ervinna Indah Cahyani  : Penulis yang senang menanam dan berkebun. Bisa dihubungi melalui FB Ervinna Indah Cahyani dan instagram @ervinna29