Kolom Jamaah

Cek Ombak Sipenmaru – Isra’ Mi’raj (4)

Kemlagen #22

Oleh: Samsul Huda

Orang Indonesia, utamanya suku Jawa memang unik. Atas apa-apa kenyataan hidup, mereka punya alat ukur, sikap, dan reaksi serta ekspresi yang aneh. Sesuatu di luar kebiasaan orang pada umumnya. Usikan peristiwa yang membuatnya menjadi sangat sedih akan membuat mereka menangis. Wajar. Namun keadaan yang sangat membahagiakan, kegagalan, puncak keberhasilan, bahkan situasi jatuh dan kebangkrutan, bisa membuatnya menangis.

Hal sama terjadi juga pada saya. Begitu melihat pengumuman hasil ujian Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) di halaman khusus koran Jawa Pos dan mendapati ada nama saya di sana, justru air mata dan sesenggukan yang keluar sebagai cermin kebahagiaan. Saya menangis lagi ketika harus berangkat ke Malang untuk melakukan registrasi dan membayar biaya kuliah. Pasalnya, uang yang dipersyaratkan belum mencukupi. Untuk menutupi kekurangan itu, Emak harus “thawaf” dari satu teman ke teman lain, dari keluarga A keluarga B, dan seterusnya. Semua beliau lakukan dalam rangka investasi ilmu dan pendidikan kepada anaknya; titipan amanah terbesar dalam hidupnya.

Di tahun 1985, setelah lulus dari Pondok Beratkulon, saya harus pergi ke Malang untuk membeli formulir tes masuk perguruan tinggi. Waktu itu namanya Sipenmaru. Formulir harus diambil dan–setelah diisi–dikembalikan sendiri di kampus terkait. Adapun pelaksanaan tes tulisnya diadakan di kampus dan beberapa gedung SMA di Malang. Artinya, sehari sebelum ujian peserta tes sudah harus datang ke lokasi atau gedung tempat ujian sehingga pada hari-H tidak terjadi masalah. Waktu itu, tempat ujian saya berlokasi di Aula Sakri (Sasana Krida) kampus IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang).

Agar lebih tenang menghadapi ujian, tiga hari sebelum ujian dilaksanakan, saya berangkat ke Malang. Tempat yang saya tuju adalah kamar kost seorang kakak senior di pondok. Saya memanggilnya Cak Nidhom. Saat ini, ia adalah pemilik sebuah Biro Haji dan Umroh terbesar di Beratkulon. Haji Nidhom sekarang menjadi besan dari K.H. Fuad (Pacet).

Saat itu, diia nge-kost di daerah Ketawanggede. Sebuah kawasan yang dipenuhi kos- kosan mahasiswa Unibraw dan IAIN Malang (sekarang menjadi UIN Maliki). Cak Nidhom sendiri kuliah di ITN Malang. Kurang lebih seminggu tinggal bersamanya, saya berinisiatif mengambil alih tugas belanja dan memasak. Beras dan uang belanjaan saya terima darinya.

Sekitar satu bulan sesudah mengerjakan ujian tulis, lolos tidaknya calon mahasiswa baru diumumkan. Pengumuman bisa dibaca di halaman khusus beberapa koran atau langsung dilihat di papan pengumuman kampus perguruan tinggi negeri. Pagi itu, saya membeli harian Jawa Pos dan langsung membuka halaman di mana deretan nama dicetak. Saya baca dan cari nama beserta nomor ujian saya dengan sangat teliti. Ternyata ada! Seperti tak percaya, saya baca lagi berkali-kali. Ternyata benar! Saya diterima di jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP Negeri Malang. Saya menangis dan mencari Emak. Saya peluk beliau dan kami menangis bahagia.

Tiga minggu sesudah pengumuman, kami diharuskan melakukan pendaftaran ulang. Bersama dengan proses itu, ada kewajiban membayar uang registrasi sebesar Rp 30.000 dan SPP semester pertama sejumlah Rp 30.000. Semuanya dilakukan dI kampus Jl. Surabaya, Kota Malang. Selain mendapat bukti pembayaran, saya juga menerima jas almamater dan topi mahasiswa.

Begitulah saya di-isra’-kan, diperjalankan oleh Allah Swt. untuk kuliah di Kota Malang. Sebuah kota pendidikan sekaligus wisata yang sangat terkenal waktu itu. Kami sekeluarga sangat bahagia. Bukan hanya karena rumah kami jauh di pelosok desa, namun kondisi hidup kami juga serba kekurangan. Bisa diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di kota yang tenar itu menjadikan kami terus mensyukuri berkah Tuhan.

Kehendak Allah Swt. meng-isra’-kan saya terus berlanjut. Dengan mekanisme yang tidak pernah kami perkirakan sebelumnya, saya juga berhasil meraih gelar S2 untuk Prodi Pendidikan Agama Islam di Institut Pesantren K.H. Abdul Halim (IKHAC) Pacet, Mojokerto. Sebuah perguruan tinggi yang didirikan oleh Prof. DR. K.H. Asep Saifuddin Chalim, MA. Alhamdulillah.

Surah Al-An’am (6) Ayat 135:

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدِّارِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan).”

Surah Az-Zumar (39) Ayat 39:

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui).

“Gak pathèken gak dadi opo-opo, nanging kudu tenanan olehe nglakoni urip. Kudu sholeh olèhe tandhang. Amergo Gusti Allah iku ugo Moho Tumandang.” (Al ‘Amil).

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *