Apa yang paling membuat kita kangen untuk kembali datang ke Maiyahan? Karena ilmu yang bisa kita dapatkan dari Marja’ Maiyah, guyub rukunnya, bermacam suasana yang terkadang bisa tak terduga, sajian hiburannya, atau beragam opsi jawaban lain yang saya yakin kesemuanya terangkum dan bisa kita dapatkan –salah satunya– pada Tanggal 7 September 2017 yang lalu.

Bertepatan dengan milad Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan (BbW) yang kesebelas di halaman kantor TVRI Jawa Timur, seluruh Marja’ Maiyah: Mbah Nun, Ustadz Fuad, Syekh Nursamad Kamba berkenan hadir. Beliau duduk sejajar bersama Mas Sabrang SMDP dan Kyai Muzzammil. KiaiKanjeng dan Bu Novia Kolopaking yang turut serta membayar tuntas kerinduan Jannatul Maiyah (JM) BbW.

Malam yang bukan sekadar seremonial peringatan tahunan belaka, namun juga sebagai sarana “Nggayuh Welasan”-e Gusti Pangeran dalam perjalanan panjang BangbangWetan hingga tahun ke 11 ini.

  • Sinyal welas asih-Nya pada kita

Mbah Nun memulai dengan melontarkan. pertanyaan kepada JM,  “Siapakah subyek yang disebut Allah masuk ke surga secara kaffah (bersama) tersebut?”. Sebuah pertanyaan yang berdasar dari sebuah ayat “Udkhulu fis-Silmi Kaffah”.

Masih banyak kita temui kotak-kotak perbedaan di dunia ini sehingga kesamaan langkah dalam kebenaran merupakan hal yang sulit. Satu kotak besar negara saja masih terpecah menjadi golongan-golongan tertentu. Di dalam agama Islam sendiri terdapat banyak golongan dan aliran.  Jika seperti itu, siapa atau kaum manakah yang masuk surga bersama-sama?

Siapa yang ingin nggayuh perubahan pada Allah?”, tanya Mbah Nun. Universalitas sistem nilai kebaikan tidak bisa sangat mudah diwujudkan, apalagi dalam lingkup dunia secara keseluruhan. Langkah perubahan skala luas tentu akan memberatkan jika dimulai oleh satu manusia saja. Maka Allah memberi sinyal welas asih-Nya melalui ayat “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha”, bahwa ada takaran kemampuan dan tugas yang hubungannya sangat privat antara Allah dan makhluk-Nya. Setidaknya diri sendiri harus memegang dan berlaku sebaik-baiknya dulu agar menemukan kemerdekaan diri. Karena penting memerdekakan diri terlebih dahulu untuk membantu mewujudkan kemerdekaan bersama.

Lalu bagaimana cara seseorang agar bisa merdeka? Merdeka yang dimaksud adalah bebas dari keinginan ketika belum bisa tercapai. Jarak antara harapan dan keinginan seringkali menjadi penunda kemerdekaan diri. Dalam situasi seperti itu, manusia sering kali membohongi diri sendiri.

Manusia harus punya titik penerimaan yang tegas. Menysukuri kenyataan yang ada dan tidak mudah dikelabui pernik atau hiasan duniawi. Ketika individu sudah bisa melakukan hal tersebut maka kita bisa menemukan keaslian atau substansi berbagai hal.

 

  • Ragam Fakultas di Universalitas Maiyah

Maiyahan tidaklah seperti forum pada umumnya. Bisa saja muncul beragam simulasi agar kita semakin mudah memahami suatu tema yang sedang dibahas. Seperti malam itu, menggunakan personifikasi pohon, Mbah Nun mendaftar satu persatu sesuai tempat tumbuhnya menjadi tiga. Hutan, di mana semua tumbuh begitu saja secara liar. Di kebun, ketika tumbuhnya perlu dirawat dan diusahakan sedemikian rupa sehingga menghasilkan kebermanfaatan. Dan taman, ketika sudah otomatis tinggal dinikmati fungsinya. “Maiyah adalah kebun yang ada pohon-pohonnya dalam ruang dan selama waktu”, tutur Mbah Nun.

Berbagai pohon dalam kebun Maiyah ini punya masing-masing jenis dan jangka waktu tumbuh. Pohon di sini diartikan sebagai nilai-nilai belajar yang diserap dalam setiap Maiyahan. Ada bagian Maiyah yang rumput, jagung, atau jati. Tiap jenis memiliki umur panen berbeda, sehingga tidak bisa seseorang yang pertama kali ikut Maiyahan kemudian langsung paham seluruh khazanah ilmu kehidupan. Di sisi lain, ada pula nilai yang bisa jadi segera dinikmati hikmahnya pada saat itu juga. Jamaah dibiasakan untuk siap menerima proses, karena hidayah Allah datang tanpa rencana dan tak disangka-sangka. “Kalau baru Maiyahan sehari, jangan buru-buru ingin membuat rumah dari kayu jati”, tutur Mbah Nun.

Lebih lanjut kemudian JM diajak terlibat untuk mengidentifikasi percabangan pohon ilmu yang ada di dalam universalitas Maiyah dan mengibaratkannya menjadi sebuah ‘fakultas’. Banyak sekali yang dikemukakan oleh para JM. Ada sekitar 53 fakultas yang tercatat oleh Mas Sabrang. Di antarannya adalah: Maiyah dan Tauhid, Maiyah dan Kemerdekaan, Maiyah dan Kepenasaran Atas Ilmu, Maiyah dan Musik, Maiyah dan Kesehatan, Maiyah dan Pancasila, serta ada banyak lagi baik yang tercatat maupun tak tercatat.

Banyaknya pohon fakultas dalam universitas Maiyah sengaja ditunjukkan Mbah Nun agar JM tidak terjebak pada definisi bahwa Maiyah adalah sebuah padatan yang dikategorikan seperti forum pada umumnya. Maiyah menampung semua kemungkinan dan keadaan, sehingga tidak mudah berpikir dikotomis bahwa yang Maiyah itu benar dan selain Maiyah menjadi salah.

 

  • Surga; Hutan, Kebun, dan Taman

Mbah Nun menyebut dua kata: Substansi dan Metodologi. Cara pandang substansi dan metodologi ini perlu ditinjau kembali agar bisa mengenali mana alat dan mana tujuan. Beliau mengakrabkan JM pada ketelitian cara berpikir, supaya terus berhati-hati mengolah inforamai serta menemukan persambungan Maiyah dalam kehidupannya. “Menurut anda, orang modern melihat alam itu sebagai apa?”, tanya Beliau. Jamaah lantas menjawab: sebagai alat. Pengertian alat yang dimaksud adalah bahwa alam digunakan untuk memenuhi kepentingan manusia saja.

Dalam tradisi Jawa, alam diperlakukan sebagai sesama makhluk. Dihormati keberadaannya sebagaimana manusia seyogyanya memperlakukan sesama. Serta diberi nama dan dihormati selayaknya manusia memperlakukan manusia lain.

Dari sudut pandang Islam, alam diperlakukan sebagai ‘saudara tua’ karena ia sudah diciptakan lebih dahulu daripada manusia. Alam sering dijadikan analogi terbaik untuk belajar kehidupan dan kebijaksanaan.

Kini, surga (Jannah – dalam bahasa Arab) memiliki kedekatan arti kata dengan ‘taman’. Sebab, di sana semua tidak lagi harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan di dalam Maiyah, perjuangan menanam dan merawat pohon lebih dekat analoginya dengan kebun. Selayaknya pohon jati, kita butuh waktu lama untuk benar-benar bermanfaat sesuai fungsi optimalnya. Di sini, JM dipandu Mbah Nun untuk melihat tahapan Maiyah secara umum maupun tahapan Maiyah pada diri masing-masing Jamaah. Mbah Nun membacakan pula Q.S. Ibrahim:24-26 yang menyebut pohon sebagai perumpamaan perbuatan manusia semasa hidup. Kepada pohon kita diajak Allah untuk belajar cara pandang. Tadabbur ayat tersebut merimbun hingga pada bahasan Hutan, Kebun, dan Taman.

 

  • Generasi Maiyah dan Transformasi

Menurut Syekh Kamba, Maiyah adalah way of life. “Di sini (Maiyah) semua diajarkan untuk jujur pada diri sendiri. Selalu bertransformasi, mengusahakan untuk menjadi yang lebih baik dari tidak baik,” papar Syekh Kamba. Misi manusia beragama adalah agar berubah menjadi lebi baik. Minad dzulumati ilan-nuur. Dari kegelapan menuju cahaya. “Maiyah merepresentasikan transformasi dalam beragama”, sebut Beliau.

“Istilah Maiyah dimulai bahkan sejak zaman Rasulullah.” sebut beliau. Generasi pertama Maiyah adalah ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menemani Nabi Muhammad saw di Gua Hira’. Rasulullah berkata, “Innallaha ma ‘ana (karena Allah bersamanya)” pada Abu Bakar yang sedang bersedih dan khawatir akan keselamatan rasulullah dari tentara Quraisy.

Generasi Maiyah kedua adalah sebagaimana konsep Ibnu Arobi tentang tauhid. Pengertian manunggal atau tauhid salah satunya adalah implementasi dari niat yang tulus. “Manusia berusaha dan berjuang untuk memurnikan niat, semata-mata hanya kepada Allah.” jelas Syekh Kamba. Konsep Maiyah manunggal ini adalah tentang senantiasa melakukan transformasi sikap sejak dalam niatan.

Generasi ketiga adalah dari Syekh Yusuf Al-Makassari, pejuang kedaulatan nusantara yang tangguh pada masanya. Perjuangan Beliau diceritakan oleh Syekh Kamba memegang salah satu unsur tauhid yakni berkeyakinan bahwa Allah selalu bersamanya di manapun berada. Maka tak heran jika Syekh Yusuf mampu membuat Belanda kesulitan menangkap kelompoknya.

Generasi Maiyah keempat adalah yang sedang kita jalani sekarang. Apa yang sedang diperjuangkan Maiyah generasi keempat ini berada pada titik komprehensif, zaman di mana banyak upaya penegakan syariat Islam yang ternyata tidak sesuai dengan konsep sebagaimana yang diajarkan pada zaman Nabi Muhammad saw. Sedangkan tantangannya adalah membangkitkan akal sehat di tengah gempuran kepentingan institusional.

Di Maiyah, manusia diperlakukan secara santun untuk mengenal Tuhannya. Seperti apa yang diaplikasikan oleh Rasulullah saat berdakwah yaitu Iqna’ yang bermakna persuasif sekaligus akomodatif terhadap perbedaan pendapat.

Maiyah tidak memaksakan kebenaran kepada siapapun. Kegiatan keilmuan yang dilakukan di Maiyah adalah mengantarkan kepada terbukanya pemahaman bahwa Allah sendiri yang mengajarkan pada masing-masing individu.

Hal kespritualitasan Maiyah juga disoroti oleh Syekh Kamba. Dalam Maiyahan, JM diajak mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah. Sisi spiritual orang-orang Maiyah ditempa terus-menerus agar terbiasa luwes dan berlapang dada terhadap pelbagai keadaan.

 

  • Maiyah; Tempat yang Menarik Bagi Tranformasi

Kata transformasi yang dilontarkan Syekh Kamba memantik Mbah Nun untuk merespons dan mengelaborasi lebih dalam. Transformasi berpikir diperlukan agar kita lebih memahami yang sejati dan semakin dekat dengan tauhid. “Hakikat agama bukan pada Islam, tetapi  tauhid, menjadi ruh“, tegas Mbah Nun. Tuhan tidak diwujud-wujudkan sehingga ia menjadi berhala. Tuhan adalah kutub lain dari benda, maka Ia tidak bisa dijasad-kan.

Semestinya yang dilakukan oleh manusia selama hidup adalah menggunakan jasad untuk nggayuh ridho Allah. Suami nguntal raga. Kalimat tersebut dikatakan Mbah Nun untuk mengungkapkan bahwa manusia perlu melepaskan diri dari sifat jasadiah (kebendaan). Keterlepasan diri dari kebendaan ini berarti tidak terikat oleh kepentingan duniawi. Menyatu dengan Allah harus menaklukkan jasad. Megatruh, Mbah Nun meminjam isilah salah satu jenis tembang Jawa yang berfilosofi: Megat segala kepentingan duniawi, sehingga menuju Allah dengan bentuk sejatinya Ruh.

Perihal transformasi juga dibahas lebih meluas oleh Mas Sabrang. Transformasi berpikir diperlukan untuk memperkecil bias pengetahuan manusia. Jika digambarkan sebagai piramida, tauhid terletak di ujung paling atas. Semakin ke bawah, semakin banyak ekspresi pemahaman manusia.

Kita harus siap ketika kebenaran yang saat ini kita pegang suatu saat berubah dan menemui kebenaran yang baru. Maiyah adalah tempat menarik bagi transformasi, karena di sini kita terbiasa menyerap semua bias. Dan dihubungkan dengan tauhid, Mas Sabrang berpendapat, “Tidak bisa kita mencapai tauhid jika kita masih terjebak berpikir bias“.

Mbah Nun kemudian memadankan istilah Bias dengan Khayal. Cara berpikir khayal misalnya pada konsep nilai bahwa hidung mancung lebih cantik daripada yang pesek. Transformasi juga ditarik Mbah Nun dengan pengandaian bahwa gabah mesti ditumbuk menjadi beras, lalu ditanak menjadi nasi, barulah bisa dikonsumsi.

Produk transformasi adalah solusi. Oleh sebab itu, Mbah Nun mengamini ucapan bahwa Maiyah adalah tempat transformasi yang baik karena di sini kita semua sedang menggodok formula untuk solusi permasalahan Indonesia yang dimulai dari skala kecil individu manusia-manusianya.

Maiyah bukan forum yang memaksakan kebenaran, karena Al Haqqu mir Robbikum – kebenaran selalu datangnya dari Allah. “Hijrah itu tidak ada kemungkinan lain kecuali kepada Allah”, pungkas Mbah Nun. Di Maiyah kita terus menerus belajar tauhid hingga bertransformasi menyatu dengan Allah.

Tentunya masih sangat banyak ilmu dan pemahaman lain yang tersaji malam itu. Semuanya bersatu-padu di bawah celorot sinar yang membelah cerah langit Surabaya tepat di atas JM BangbangWetan yang khusyuk tuk bersama Nggayuh Welasan.

 

Redaksi ISIMBangbangWetan