Sublimasi

Cempreng Yang Merdu

Oleh: Julak Imam

Dulu. Iya, dulu sekali. Ketika kelas 3 SD, aku selalu suka mendengar harmoni nada shalawat Nariyah, yang sedang dibacakan ibu-ibu jamaah pengajian lewat TOA Masjid Al Jihad Kalibokor. Setiap hari Kamis ba’da dzuhur, di masjid yang menjadi nama gang yakni Gang Masjid Kalibokor Lapangan itu, digelar pengajian rutin, yang diasuh oleh ibu ustadzah Muniroh Munir.

Suara ibu-ibu itu menurutku cempreng. Bahkan sangat cempreng. Namun entah kenapa, di telingaku terdengar merdu. Apalagi suara ibuku bila mengawali pembacaan, yang notabene beliau adalah istri ketua ta’mir masjid, bapakku, yang menurutku jua cempreng, terdengar betapa merdunya. Makin merdu suara cempreng ibu-ibu itu bila terdengar sayup-sayup dari kejauhan.

Iya, dari kejauhan. Sebab bisa jadi di saat yang sama, aku dan teman-temanku sedang asik slulup di sungai Kalimas Ngagel. Gak peduli merebaknya isu alap-alap pemangsa anak-anak yang adus kali. Sehingga ganjaran yang aku terima, jika aku ketahuan ebes adus kali, maka satu ranting lamtoro (petai cina) beserta daun-daunnya bisa langsung ludes gundul, karena buat nyambleki sikile bocah mbuethik, yoiku aku.

Tapi aku tetap membandel adus kali. Ditengah asik slulup, sayup-sayup terdengar suara cempreng ibu-ibu yang sedang membaca shalawat nariyah. Duh, betapa nikmat dan  merdunya.

Atau bisa saja saat itu aku sedang asik bermain di ban-spoor alias rel kereta api. Bersama teman-teman, kami memipihkan paku besar untuk dijadikan sebilah pisau. Sambil bersorak-sorai ketika kereta datang dan roda-roda besinya melindas melindas paku-paku kami, batangan besi silinder yang sejejap menjadi pisau kebanggaan.

Begitu suara gemuruh kereta berlalu dan menjauh, di antara riuh-rendah cocot cuwet bocah-bocah teman-temanku, Kamis siang itu, kupingku selalu tak bisa lepas dari magnet merdu suara cempreng ibu-ibu yang sedang shalawatan. Semakin merdu rasanya bila terdengar sayup-sayup lewat corong masjid.

Sejurus kemudian, selalu tiba-tiba mencuat perasaan sedih yang menyergap diriku. Iya, rasa sedih yang menyergap. Namun aku selalu gagal serta tak mampu paham untuk memaknai perasaan sedih itu. Persisnya sedih karena apa?

Tapi aku selalu suka, bahkan jatuh cinta, dengan suara cempreng ibu-ibu yang sedang membacakan salah satu shalawat nariyah itu terdengar sayup-sayup dari kejauhan.

Ah, tiba-tiba aku kangen suara cempreng ibu-ibu. Terutama suara cempreng ibuku.

Desa Tlogo – Ambar Ketawang, pukul 01.24 wib : Selasa, 08 Maret 2022

Terlahir di Surabaya dengan nama Imam Bukhari, Julak Imam adalah penggiat sastra yang melintasi jarak Surabaya, Kalimantan Selatan hingga Yogyakarta. Sambil menunggu selesainya buku kumpulan karya esai dan cerpen, antologi puisinya sudah diterbitkan. Pernah menjadi jurnalis di beberapa media cetak, saat ini Imam berfokus pada warung kopi yang ikut terimbas global pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *