Cengengesan Itu (tidak) Gampang, Mas Wendo

Ada segurat sesak yang menyergap ketika istri saya memberi kabar tentang berpulangnya Mas Wendo. Namun karena kesibukan di luar jadwal rutin cukup mengungkung ruang gerak bagi agenda lain, catatan ini baru bisa saya buat beberapa jam setelah karangan bunga kawan-kawan sampai di halaman rumah duka.

Bagi saya dan ribuan remaja lain yang tumbuh di era 70-80an, nama majalah Hai adalah bagian tak terpisahkan. Arad dan Maya, Lupus, Catatan Si Roy, dan Keluarga Cemara merupakan unsur pendukung yang melekat kuat. Cengkraman adhesif yang dimilikinya menancap hingga usia kian jauh dari fase belasan.

Ketertarikan akan dunia tulis menulis, mengarahkan saya kepada satu keharusan untuk mengkhatamkan buku wajib para pengarang muda: Menulis Itu Gampang. Walau benturan kenyataan yang masih saja saya temui menunjukkan betapa sungguh tidak gampang untuk bisa menulis, buku itu tersimpan rapi di deretan buku favorit di lemari ingatan.

Ketika umur terus beranjak dan saya mulai menikmati Musashi, muncul Senopati Pamungkas yang menjadi semacam counter attack sekaligus teriakan nyaring bahwa kita juga punya banyak ksatria; dengan ilmu katuranggan mumpuni dan bermental baja bagi ketetapan atas satu tujuan.

Hampir semua nama di atas digubah oleh tangan seseorang bernama Arswendo Atmowiloto. Seorang yang menulis protes keras terhadap perilaku semau gue Yngwie Malmsteen dari hasil interaksi sangat dekatnya di pesawat dan selama hari-hari konser dewa gitar itu di Jakarta dan Surabaya.

Seseorang yang mesti meringkuk 5 tahun di penjara akibat pengabaian sentimen sektarian dan penggunaannya di sebuah langkah statistikal. Seseorang yang di perjalanan pengidolaan saya menyadarkan bahwa mesti ada pemisahan departemental kepada bentuk kekaguman seperti apa layak kita curahkan untuk seseorang.

Dari seseorang itulah saya benar-benar tergerak untuk memulai dan terus menulis. Gaya tulisannya yang lincah, renyah dengan ide yang liar sekaligus kaya pernah menjadi patron dari bagaimana saya menulis. Singkatnya dialah guru sekaligus panutan di masa-masa awal etape kepenulisan.

Seseorang yang gaya bicara cengengesan dan percaya dirinya pernah mewarnai beberapa forum wacana. Seseorang yang di sisi imajiner saya sapa dengan Mas Wendo dan kepergiannya saya dengar tetiba di teriknya panas kota Surabaya.

 

Rio NS
Surabaya, 20 Juli 2019