Rahim

Cinta Ibu Kepada Bayinya

Oleh: Tamalia Yunia N.

Cinta paling murni adalah cinta Ibu kepada bayinya
Merawatnya seperti Malaikat menyangga alam semesta
Berkorban nyawa demi sejahtera dan bahagianya
Menghargai dirinya nol sedangkan bayinya tak terhingga
Cinta yang paling rendah dan paling hina
Adalah anak yang tidak mengabdi kepada ibunya

Sepenggal bait dalam buku Rahman Rahim Cinta karya Emha Ainun Nadjib. Puisi yang mengisahkan tentang Ibunda terasa dalam maknanya.

Menjadi ibu bukanlah perkara mudah. Membutuhkan perjuangan cinta untuk melaluinya. Berhasil mengandung, melahirkan, mengasihi dan membesarkan anak adalah impian setiap wanita. Tak jarang banyak orang yang sudah lama menikah tetapi belum dikaruniai anak melakukan berbagai ikhtiar agar keinginan tersebut diijabah oleh Sang Maha Kuasa.

Dulu ketika masih jomblo sering dijumpai pertanyaan Kapan Nikah? Giliran sudah nikah ditanya Kapan punya anak? dan ketika sudah punya anak berlanjut ditanya kapan nambah?Dan masih banyak pertanyaan turunan lainnya yang perlu kita tanggapi dengan jawaban yang bijaksana.

Sedikit berbagi cerita, puji syukur 4 bulan setelah menikah pertanyaan kapan hamil dijawab oleh Allah dengan indikator garis 2 yang artinya rahim saya ada isinya calon jabang bayi. Menjalani masa kehamilan pertama tentunya banyak ujian yang harus dilalui.  Belajar sabar adalah kuncinya. Kondisi hamil tidak menghalangi saya untuk beraktivitas, mengikuti acara rutinan maiyahan salah satunya. Kalau tidak salah pada usia kandungan 5 bulan adalah terakhir saya mengikuti acara rutinan Bangbangwetan di Taman Budaya Cak Durasim sebelum ada pandemi. Pernah ada teman kantor yang menegur saya, kamu hamil jangan capek-capek, jangan pulang malam tapi saya menanggapinya dengan berpikir positif Bimillah Allah yang jaga anak saya. Dengan niat mengajak jabang bayi mencari ilmu dan ngalap barokah bisa berkumpul dengan orang-orang Sholeh.

Bulan Maret 2020 puncak kasus covid di Indonesia, lockdown dimana mana. Kebetulan pengajuan pindah tugas dari kantor Surabaya ke Lamongan akhirnya terealisasi. Dalam hati bersyukur karena bisa kerja dekat rumah. Harapannya kelak jika jabang bayi lahir bisa diasuh di rumah tanpa harus ikut kos di Surabaya. Manusia boleh berencana, tetapi hak prerogatif tetap ada pada qodho dan qodar Allah. Hamil dalam keadaan covid menjadi kita semakin lebih eling lan waspodo. Berbagai ikhtiar dilakukan agar kelak jabang bayi bisa selamat sampai waktunya dilahirkan. Saat usia kehamilan 9 bulan saya merasakan gerakan bayi dalam kandungan berkurang, ketika diperiksakan ke dokter tidak ada diagnosa apapun, kondisi kandungannya baik baik saja. Menunggu hari perkiraan lahir (HPL) hanya  usaha dan doa yang bisa dilakukan sebagai manusia. Berpasrah kepada Allah SWT.

Saat itu malam jumat, sebelum tidur menyempatkan membaca surat Al Kahfi hingga terlelap. Tengah malam kurang lebih pukul 02.00 saya terbangun dari tempat tidur air ketuban sudah pecah. Segera saya dibawa ke RSIA, ketika di cek sudah pembukaan. Berjuang untuk melahirkan normal pada pukul 07.00 pagi bayi laki-laki keluar dari gua rahim tempat ia tumbuh selama 40 Minggu. Hening, Tanpa ada suara tangisan dan bayi itu langsung di bawa ke ruangan Nicu.

Bayinya kritis kata suamiku, kakinya tidak gerak, dan detak jantungnya lemah.

Sambil menunggu diperiksa dokter anak, aku mencoba menguatkannya. Kabeh titipane Gusti Allah, berdoa yang terbaik.

Belum sempat aku melihatnya dan menyentuhnya secara langsung. Tak lama setelah itu Allah memanggil “Ahmad Nur Kahfi” di hari Jumat tanggal 17 Juli 2020. Sebelum jenazah dibawa pulang sempat ditawari untuk melihat bayinya, tetapi aku tak kuasa. Bukan berarti Ibu tak cinta kepada anaknya, tetapi biarlah nanti Ibu bertemu dengant anaknya kelak di akhirat.

Ning ndunyo piro suwene
Njur Bali ning panggonane
Ning akhirat yo sejatine
Mung amal becik sangune

Mbah Nun seringkali diacara maiyahan menyampaikan, hidup ini mau tidak mau pasti ilaihi Raji’un, Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk dirimu, jalan Allah macam-macam, yang penting nandur, nanti ditemukan Allah. semua bermuara ke Allah. Bahagia sewajarnya, sedih secukupnya. Maka itu yang sampai detik ini selalu saya ingat agar jangan terlalu larut dalam duka.

Teruntuk semua wanita yang telah berhasil melahirkan buah hatinya, tetaplah berjuang untuk menjaga titipanNYA. Teruntuk para pembaca, mohon keikhlasan barokah Al-fatihah untuk alm.bayi yang telah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa.

Dari Ibu yang selalu merindukan anaknya.

Tamalia Yunia Nurrahmah. Alumni Teknik Elektro Polinema yang tersesat di dunia perbankan. Bisa ditemui melalui akun twitter @tamaliayunia

2 thoughts on “Cinta Ibu Kepada Bayinya

  1. Alhamdulillah, hanya kata tersebut yg bisa terucap. Segala ketetapanNya pastilah terjadi. Tiada jalan atau pilihan laen, manusia di doktrin utk menerima segala kehendakNya. Saya juga pernah diposisi ini, dan saya gk mau rugi. Dalam arti sudah kehilangan lalu terus²an meratapi atau terpuruk, tidak. Saya menolak itu. Bahagia sewajarnya dan bersedih secukupnya sangat realistis buat saya. Saya bulatkan bahwasanya saya akan mencoba lagi dan lagi, hanya itu tugas saya. Semangat ya mbak, nanti ada masanya🙏💙

Leave a Reply

Your email address will not be published.