Oleh: Rio NS

 

Assalamualaikum, Aksana…

Dua almanak di rumahku telah kami tanggalkan. Ya, tahun baru sudah menunjukkan keberadaannya. Aku sendiri menganggap sebagai datangnya hitungan waktu baru berdasarkan putaran dua belas bulan. Sederhananya, kalau bulan-bulan sebelumnya kita hanya menyobek lembaran dua atau tiga bulanan untuk sampai ke lembaran berikutnya, kini kita mengganti secara menyeluruh satu bundelan tahun secara utuh. Sesederhana itu. Romantisme pergantian tahun tak lagi bisa kunikmati getarannya. Meski demikian, semoga ucapan Selamat Tahun Baru untukmu dan keluarga tidak teramat artifisial bila tetap kusampaikan.

Ucapan itu lebih sebagai penegasan syukur kita atas rentang segala nikmat yang telah Tuhan curahkan serta berlaksa harap yang terus menjaga tercurahnya tenaga bagi hentak langkah kita di keseharian.

Di keluarga kecilku, dina urip hanya berlaku bagi Jagat. Istilah ini aku dengar pertama dari almarhum Pak Ndut sebagai majas dari hari-hari dimana kita terikat atas satu kewajiban yang melibatkan orang lain dengan periode waktu terbangun rapi. Sebut saja itu adalah hari kerja. Hari-hari yang berwarna selain merah di sistem penulisan tanggalan manapun. Bagi si kecil yang belum terlihat ketertarikannya pada dunia sastra dan teater ini, dina urip adalah haru-hari dimana ia harus kami mandikan, sarapan sereal, dan mengenakan seragam saat pagi belum mengantar episode mimpinya ke segmen penghabisan. Kami berdua secara otomatis terhanyut juga dalam irama hari-hari kesibukannya.

Sedangkan aku sendiri, setelah dua tahun kutinggalkan kantor dan area kerja separo Indonesia, memiliki hari libur yang nyaris sama banyak dengan hari kerja. Hari kerjaku tiada mengenal libur karena duniaku berhubungan makhluk hidup dengan segala kebutuhan biologis mereka. Di saat yang sama, aku dengan mudah menentukan kapan aku bisa ambil “cuti” karena everything depend on me. Satu kondisi yang telah kau raih jauh sebelum aku tahu betul gambaran pastinya.

Aksana, tempatku tinggal adalah daerah tingkat dua yang secara adminsitrasi pemerintahan terbagi atas Kabupaten dan Kota. Dari kota kecil ini dihasilkan tak kurang 510 ton telur ayam setiap hari. Tak diragukan lagi, sebagian besar pasokan telur Jawa Timur hingga DKI Jakarta berasal dari daerahku. Bisa kau bayangkan berapa banyak ekor ayam yang menghasilkan sekian ribu butir telur itu! Data statistik tahun lalu menyebutkan angka 20 juta total populasi ayam  yang terdiri atas 2.6 juta ayam kampung (buras), 1.7 juta ayam pedaging, dan 16.8 juta ayam petelur. Angka ini belum termasuk ternak unggas lain seperti bebek dan mentok serta golongan aves (burung puyuh).

 

Kalau kita berpikiran sedikit lebay, mengambil, inspirasi dari novel atau film-film, akan muncul kejadian luar biasa bila penyakit-penyakit unggas dari strain tertentu yang bermutasi dan menyerang manusia. Total penduduk di daerahku hanya 1.29 juta. Hanya 6.4% dari populasi ayam. Sebagian dari mereka hidup dari dan tergantung pada putaran produksi (pemeliharaan, pengolahan, distribusi) sektor peternakan unggas. Misal, telah terjadi perubahan struktur sel dari virus penyebab penyakit tetelo (New Castle Diseasei) sehingga manusia bisa terjangkit. Karena prognosis dan penyebarannya berlangsung sangat cepat, makam ef wabah leher berputar semacam extra pyramidal effect akan diidap oleh sebagian besar penduduk. Satu kondisi dan peristiwa yang semoga tidak akan pernah terjadi di manapun dan kapanpun.

Lalu bagaimana orang-orang daerahku sendiri menyikapi hal-hal yang nampaknya musykil itu? Ada dua gambaran yang bisa kuceritakan. Pertama, sesekali cobalah datang ke persawahan atau lahan pertanian di mana saja—karena kupikir situasinya akan sama. Lihatlah di pematang-pematang, persimpangan saluran air atau di bawah rerumpunan semak liar. Akan kau temui berbagai macam kemasan kosong larutan kimia bernama dagang dari insektisida, fungisida, herbisida, maupun pupuk penambah unsur hara. Tak terlihat pengaruh kampanye bernafaskan lingkungan seperti Go Green, Safe Our Environment, atau yang lebih sederhana “Jangan Buang Sampah Sembarangan”. Ini masih menyangkut bungkusnya dan belum kita bicarakan dampak jangka pendek maupun panjang dari molekul yang digunakan. Kesadaran itu masih memerlukan pembangunan sikap mental 2-3 generasi ke depan.

Kedua, bagi orang-orang di desaku, setiap nyeri perut dan dampak ikutan yang menyertainya selalu disebut sebagai sakit “lambung”. Ini sungguh simplifikasi yang menurutku agak menggelikan. Meski dari pola konsumsi mereka yang tidak mengenal irama dan pembatasan ngopi, bisa kita tarik garis sederhana patofisiologinya namun istilah “lambung” bagi apapun derita di sekitar abdomen bagiku adalah simplifikasi yang berpotensi memperburuk perjalanan penyakit.

Kedua contoh di atas kumaksudkan sebagai gambaran betapa ketidakpedulian masyarakat, pelaku aktif dunia peternakan dan pertanian serta dinas atau instansi terkait terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk sebagai dampak negatif semua budidaya ini masih memprihatinkan.

Pada saat yang sama, kuajukan hipotesa dalam gumam kesendirian, ini pulakah sikap mental yang secara bercanda sering diungkapkan kawan-kawan sebagai “Gusti Allah sugih”; dan tak jarang dilanjutkan dengan “Sing kere…arek-arek”.

Sampai di sini dulu, Aksana. Salam sayangku untuk Risa dan Sula.

–oooOOOooo–

 

Sekilas tentang penulis : Karena miilleu di sekitarnya lebih banyak millenials, Penulis terbawa rasa untuk selalu muda. Walau rambut perak di kepala kian membuncah, sebanyak ide yang belum tuntas dituangkannya.
Komunukasi bisa dijalin melalui FB N. Prio Sanyoto