DARURAT DAULAT (REPORTASE BANGBANGWETAN AGUSTUS 2017)

REPORTASE BANGBANGWETAN AGUSTUS 2017 , Pendopo Cak Durasim Surabaya .

 

Agustus merupakan bulan yang istimewa kalau kita memandangnya sebagai warga negara Indonesia. Di bulan inilah negara kita diproklamirkan 72 tahun yang lalu. Dalam kaitannya dengan kemerdekaan negara ini, kata daulat sering diikutsertakan di dalamnya. Daulat –begitu juga kata berdaulat dan kedaulatan– juga diartikan sebagai salah satu syarat mutlak dari sebuah bangsa yang merdeka.

 

Apakah sebenarnya daulat itu? Pertanyaan besarnya kemudian adalah apakah kita masih berdaulat baik sebagai bangsa atau sebagai masing-masing warga negaranya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian dibahas lebih dalam pada forum bulanan BangbangWetan, 9 Agustus 2017.

 

Tentunya masing-masing Jannatul Maiyah memandang daulat dari berbagai sisi. Dari beberapa yang berpendapat, ada yang menjabarkan tentang hilangnya kedaulatan saat ini. Hal ini bisa dilihat ketika media massa dan media maya semakin mempengaruhi dan menggiring pola pikir seseorang dengan banyaknya berita hoax dan santernya tema pembahasan tertentu. Sedikit contohnya adalah pembahasan presidensial threshold, arga garam, dan penyelundupan 1 ton sabu. Ada juga yang menghubungkan daulat dengan konsep kenegaraan. Perwakilan kawan-kawan Bonek (pendukung Persebaya) yang hadir –dan juga menyumbangkan beberapa lagu– juga banyak menjelaskan kedaulatan dari sisi mereka. Contohnya mereka menceritakan bahwa Bonek sudah berdaulat saat Persebaya ter –atau lebih tepatnya di– ombang-ambing beberapa waktu yang lalu.

 

Mas Acang (M. Hasanuddin) mengemukakan sesuatu yang menarik tentang kedaulatan. Beliau memandang bahwa fenomena Bonek dan juga jamaah yang datang Maiyahan punya satu kesamaan yaitu bahwa mereka menemukan kedaulatan atas diri sendiri yang tidak didapatkan di luar. Pun begitu dengan fenomena booming-nya medsos. Yang juga menarik adalah adanya dialektika antarkedaulatan dari satu orang dengan yang lain sehingga masing-masing orang bisa punya kedaulatan tanpa saling merasa terancam. Dalam perspektif kebangsaan, Mas Acang memandang bahwa kedaulatan itu ada yang ke dalam dan ke luar. Ke dalam yaitu kemampuan sebuah negara dalam mengontrol dirinya sendiri. Sedangkan yang dimaksud ke luar yaitu ketika sebuah negara mempunyai aji bagi  bangsa lain sehingga bangsa tersebut tak mudah disepelekan. Dari dua hal itu kita bisa menilai apakah bangsa kita termasuk bangsa yang punya kedaulatan atau tidak.

 

 

  • AKHLAK DULU, BARU ILMU

Kyai Muzzamil memulai paparannya dengan menjelaskan bahwa dahulukanlah akhlak daripada ilmu. “Akhlak itu lebih utama, mendahului ilmu”, terang Beliau. Seperti adab orang Jawa yang biasa menjawab ‘sampun’ saat ditawari untuk makan, walaupun sebenarnya orang tersebut belum makan. Begitu juga dengan masyarakat –terutama warga Nahdliyyin— yang menggunakan panggilan hormat ‘Sayyidina’ sebelum menyebut nama Kanjeng Nabi. Ini menunjukkan betapa akhlak masih sangat kuat dipakai dalam hubungan kemasyarakatan.

 

Wak Mad (Rachmad Rudiyanto) juga sejalan dengan pendapat tersebut. Menurut Beliau kebebasan media sosial yang cenderung kebablasan menunjukkan bahwa tidak adanya akhlak di dalamnya. Semua bisa berbicara apa saja termasuk juga menyerang orang lain. Biasanya pihak yang diserang merespon dalam 2 hal yang berbeda kutub, yaitu: menyerang balik dan mengacuhkan.

 

Dalam menyikapi hal semacam itu Wak Mad menawarkan penyelesaian dengan cara ber-tabayyun dengan menemui pihak lawan. Atau dalam bahasa Suroboyoan yaitu dijak ngopi.

 

 

 

  • DHORURIYAT AD-DAULAH

Darurat diambil dari bahasa Arab yaitu dhoruriyat. Dhoruriyat itu sesuatu yang sifatnya penting, bukan genting seperti yang dimaksud kata darurat dalam bahasa Indonesia. “Jadi darurat bisa diartikan sebagai perkara-perkara yang sangat penting dan harus ada”, terang Kyai Muzzamil.

 

Dalam Islam ada 5 hal darurat, yaitu:

  1. Keamanan agama
  2. Keselamatan jiwa
  3. Keselamatan harta
  4. Keselamatan akal
  5. Keselamatan kehormatan

 

 

Masih menurut Kyai Muzzamil, kata daulat juga diambil dari bahasa Arab. Secara epistemologis, daulat berarti kepenguasaan terhadap sesuatu. Sedangkan secara terminologis berarti negara. Jadi, darurat daulat –dengan memakai padanan genting untuk kata darurat– bermakna sesuatu yang bersifat genting dalam hal kepenguasaan. Penerapannya bisa bagi negara maupun pribadi.

 

Makna dalam bahasa asli dan bahasa turunannya perlu dibahas agar nantinya kita tidak salah dan tepat proporsi dalam penggunaannya.

 

Kyai Muzzammil juga mengajak jamaah untuk membedah Pembukaan UUD 1945 agar kita bisa membedakan jalan dengan tujuan bangsa ini. Menurut Pembukaan UUD 1945; Merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur itulah tujuan bangsa Indonesia. Sedangkan selain itu adalah jalan untuk menuju tujuan tersebut.

 

Sedangkan menurut Wak Mad menyadur dari Mbah Nun bahwa kita Sama sekali tidak punya kedaulatan bagi diri kita. Kita tidak bisa mengatur metabolisme diri kita sendiri. Kedaulatan yang dititipkan Allah pada diri kita hanyalah dalam hal ke-khalifah-an yaitu menyebarkan kemaslahatan dan rahmatan lil-‘alamin.

 

Masih menurut Wak Mad, ada metode untuk menuju kedaulatan, yaitu ilmu dan per-munajat-an pada Allah swt, serta ber-shalawat-lah pada Kanjeng Nabi.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]

bbwmaiyah
About bbwmaiyah 169 Articles
Redaksi BangbangWetan.com ditulis oleh beberapa inti jamaah Maiyah di BangBang Wetan Surabaya. Konsep konten sebagian besar merujuk pada induk website komunitas Maiyah yaitu CakNun.com