Redaksi

Delapan Belas Lampion Putih, Catatan Kecil dari #BbW1dekade

img_7466Sore yang masih menyisakan panas di Tugu Pahlawan hari itu layaknya generik belaka. Beberapa pengunjung “reguler” tekun membaca keterangan di patung tokoh, benda bersejarah dan informasi teknis tentang tugu yang konsep dasarnya dibuat sendiri oleh presiden pertama Indonesia. Anak-anak kecil berlarian dan pose coba-coba dari mereka yang asik ber-selfie ria adalah pemandangan lainnya.

Yang membedakan adalah kerja tergesa dan amatiran dari orang-orang yang sedang menyiapkan panggung, steger, tata lampu dan suara serta pernik pementasan lainnya. Semakin jelas apa yang akan terjadi malam itu ketika latar belakang panggung telah dihiasi paparan menyala: Bangbang Wetan, 1 dekade; Menemami Waktu Mengarungi Jaman.

Ketika surya hilang di Barat Daya dan malam menunjukkan eksistensinya, getaran satu dasa warsa itu kian terasa. Nyala putih dari 18 lampion, 3 layar monitor,  pojok ilmu yang juga menjadi pusat pergerakan “panitia”, karpet di depan panggung, dan lalu lalang orang menghangatkan malam yang dibayangi kekhawatiran akankah turun hujan.

Tambahan dari yang rutin dihaturkan, pembukaan Bangbang Wetan berupa Sholawat dan wirid Maiyah kali ini ditambah bacaan tahlil. Secara khusus, tahlil ditujukan bagi dulur-dulur yang sudah lebih dulu mendapat “panggilan”.

Setelah cak Amin meneriakkan salam pembuka, acara dilanjutkan dengan meresapi bersama lagu Bangbang Wetan yang disusul dengan hentakan musik rock dari group “3B”. Pada salam pembuka, cak Amin menyampaikan bahwa BbW September terasa lebih istimewa dengan tampilan Lampion yang menjadi media bagi foto-foto BbW selama 10 tahun dan pengumpulan jajanan “dari kita untuk kita”. Ya, BbW bulan ini adalah tahun kesepuluh Bangbang Wetan menjadi bagian tak terpisahkan dari Surabaya.

Halaman berikutnya, beberapa jama’ah diminta ikut duduk di panggung. Ditambah dengan perwakilan beberapa simpul JM dari Banyuwangi, Madiun, Semarang, Yogya dan Blitar, panggung dan atmosfir malam terasa kian hangat saja.

Refleksi yang disampaikan jama’ah dan perwakilan simpul dilanjutkan dengan refleksi dari Gubermur Bangbang Wetan yang datang bersama wak Mad dan Acang sebagi wakil Sifat serta mas Sabrang MDP sebagai rektor BbW.

Sabrang MDP yang karya dan suaranya juga akrab kita dengar bersama group Letto memberikan kado istimewa bagi penggiat BbW dengan beberapa pertanyaan yang menandaskan pemahaman kembali tentang makna waktu, periodesasi dalam kehidupan serta peluang untuk menemukan sesuatu yang sangat mungkin kesadaran tentangnya ditetmui berpuluh tahun lagi.

Cak Nun yang berkenan hadir didampingi Kyai Muzzamil, Beben Jazz , pak Suko Widodo serta dua tamu istimewa dari kalangan militer. Mereka adalah Letjen Marnir (PURNAWIRAWAN) Suharto dan Brigjend. (PURNAWIRAWAN) Adityawarman Thaha. Untuk menghormati tamunya, Cak Nun memepersilakan Letjend (Purn.) Suharto melakukan prosesi potong tumpeng.

Acara dipungkasi dengan sholawat dan do’a. Cak Nun dan Kyai Muzzamil melayani satu persatu dari kisaran 2000 jama’ah bersalaman. Meluapkan kangen, rasa percaya juga harapan dan #katresnan#. Diiringi sholawat badar, fragmen ini merupakan sesi yang selalu ditunggu di even Maiyahan.

Dingin dini hari tak lagi menyapa. Ia memilih bergaul dengan pepohonan diseputaran spacia Tugu Pahlawan yang tetiba terasa kosong serelah sekian banyak pemuda-pemudi, orang tua, anak-anak juga bayi meninggalkannya dalam rutin metropolis yang riuhnya hanya melahirkan sepi.

Kesetiaan, rela dan tanpa pretensi, juga keajegan dan kesediaan untuk hanya menanam tanpa berpikir bilakah panen bisa dirayakan adalah manifestasi dari empat kata ini: Menemani Waktu, Mengarungi Jaman.

–000—000—
*Catatan: secara pribadi saya sampaikan terima kasih dan apresiasi untuk beberapa nama berikut dan sekian banyak lainnya yang belum disebutkan:
Cak Nun dan keluarga, mas Sabrang MDP, kyai Muzzamil, keluarga besar JM Padhang mBulan, Kenduri Cinta, Tong Il Qoriyah, WK, GS, Rampak Osing, MM Balitar, mas Chairul Suryanto, mas Beben Jazz. Terakhir meski bukan terpinggir: dulur-dulur Bangbang Wetan; jama’ah, penggiat, simpatisan padat, cair dan gelombang….