Oleh: J. Rosyidi

 

Sebagai orang tua, tentu rasa sayang kepada anak adalah sesuatu yang alami. Wajar saja. Bahkan bisa disebut aneh atau kelainan apabila orang tua tidak memiliki rasa sayang kepada anaknya. Tetapi, seringkali rasa sayang yang berlebihan mengakibatkan “pengekangan” terhadap anak.

Melihat anak hendak bermain tanpa alas kaki, eh si ibu berkata, “Jangan! Nanti kotor.” Ananda ingin memanjat pohon, giliran sang ayah berkata jangan. Nanti jatuh alasannya. Dan banyak lagi contoh kata “jangan” sebagai ekspresi dari sebuah larangan terucap dari lisan orang tua.

Sebenarnya baik nggak sih banyak melarang anak? Dikit-dikit berkata jangan pada anak. Kita tentu paham, sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik. Melarang boleh saja kalau memang memiliki basis argumen yang jelas serta disampaikan dengan baik kepada anak. Masalahnya apakah benar, larangan-larangan kepada anak-anak kita selama ini memang sesuatu yang prinsipil?

Ayah-bunda, coba kita kembali renungkan, apa sih yang sebenarnya mendasari kita untuk begitu mudah berkata jangan atau melarang anak? Kalau kemudian ini bisa kita ketahui, maka insyaallah ke depannya kita akan bisa mengubah pola asuh kita.

Hal pertama, yang seringkali menjadi pemicu seringnya orang tua berkata jangan pada anak adalah rasa khawatir yang berlebihan. Benar begitu ayah-bunda? Karena saking sayangnya kepada anak, kita menjadi khawatir bahwa aktivitas yang dilakukan oleh anak akan mencelakakan anak kita.

Yang kedua adalah adanya ketidakpercayaan orang tua terhadap anak. Mentang-mentang lebih tua, merasa memiliki pengalaman, dengan perhitungan kita sendiri, kemudian menjustifikasi bahwa anak tidak mampu melakukan sesuatu. Bukankah awalnya kita juga tidak bisa, terus mencoba berulangkali hingga akhirnya menjadi bisa!?

Informasi-informasi negatif terhadap sebuah aktivitas–yang belum kita verifikasi kebenarannya–seringkali menambah kekhawatiran kita terhadap aktivitas yang akan dilakukan oleh anak. Ayah-bunda sudah familier dengan “mbah google” kan!? Kalau tidak menemukan orang yang bisa dipercaya terkait dengan informasi tertentu, gunakanlah “mbah google”. Biar gawainya lebih berfaedah gitu. Gak cuma buat nyari hiburan dan belanja aja.

Yang lebih parah apabila banyaknya larangan yang muncul adalah karena alasan “tidak mau repot”. Apakah ada? Banyak! Tapi semoga ayah-bunda tidak termasuk, ya. Kalau masih merasa repot dengan anak, coba bayangkan saja betapa banyak orang yang mendambakan kehadiran anak dalam pernikahannya.

Apa sih dampak pada anak apabila kita sering melarang mereka? Nih, kami kasih sedikit contohnya. Dengan banyak dilarang, anak menjadi keras kepala dan cenderung suka melawan. Coba dipikir, benar tidak? Dampak selanjutnya adalah anak menjadi pemalu dan penakut, merasa kurang dihargai, tidak terpicu untuk memiliki tanggung jawab, dan kurang mandiri.

Nah, kalau demikian, masihkah kita terus sering berkata jangan kepada anak? Terus kalau mau berubah, kira-kira harus bagaimana ya memulainya?

Sebelumnya kita harus bermuhasabah terlebih dahulu. Kalau perlu, kita meminta maaf kepada anak kita. Loh, beneran meminta maaf kepada anak kita? Apa salahnya meminta maaf kalau memang kita punya salah. Apa salahnya meminta maaf kalau kemudian kita sadar pola asuh kita selama ini tidak tepat? Ingat, durhaka tidak hanya kepada orang tua loh. Orang tua juga bisa durhaka kepada anak.

Mencoba untuk selalu berpikir positif adalah tips pertama. Misalnya ketika anak hendak bermain-main dengan tanah, kita khawatir dengan ragam penyakit yang mungkin timbul serta anak akan menjadi kotor. Coba searching deh, ternyata bermain tanah itu juga bisa menyehatkan loh. Masalah kotor bukankah bisa dihilangkan dengan dicuci, bukan? Intinya coba melihat kemungkinan lawan dari kekhawatiran kita.

Tips selanjutnya adalah coba melakukan bbersam-sama. Misalnya ketika anak ingin memanjat pohon, ya ayah bisa menemaninya, bukan? Memanjat pohon bersama bisa jadi aktivitas yang mengeratkan hubungan orang tua dan anak secara murah meriah loh. Dengan memanjat bersama, ayah bisa mengawasi dan memastikan keamanan ananda, bukan? Masalahnya ada waktu nggak? Nah, kalau ini tinggal kemauan ayah saja untuk meluangkan waktu.

Tips ketiga mirip dengan tips pertama. Yaitu mencari informasi terkait dengan aktivitas yang biasanya kita larang. Sekali lagi dengan kecanggihan gawai yang kita punya, seharusnya tidak ada lagi larangan berdasarkan kata “pokoknya”.

Lantas, kalau kemudian terpaksa harus melarang, apa yang harus diperhatikan? Satu, lakukan dengan singkat dan tegas. Dua, sertai dengan alasan yang jelas serta sampaikan dengan bahasa yang dimengerti anak. Tiga, jangan lupa untuk memberikan alternatif kegiatan lain.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi