Oleh: Rio NS

 

Seusai menjalani prosesi sesuai arahan, saya sama sekali tidak menemukan makna atau kepanjangan kata yang pantas untuk tiga huruf, DJD, itu. Beberapa hipotesa, rumusan atau othak-athik mathuk yang coba saya susun berakhir buntu. Bisa ditebak, tidur nyenyak menjadi epilog dari rangkaian letih hari Minggu.

 

Nampaknya, ada dorongan kuat semacam kasih tak bisa menanti dari Mbah kepada anak cucu. Setidaknya, pilihan untuk lebih sering menjadi “talang” menyebabkan keluarnya Tajuk yang bagi saya adalah guiding star yang sesungguhnya. Semacam penegasan dan seruan yang crystal clear untuk disikapi hanya dengan sami’na wa atho’na.

 

Indonesia, seperti apapun ia hari-hari ini, memiliki posisi istimewa bagi saya dan keluarga. Seperti halnya faktor herediter, tetangga dan milieu yang bersinggungan dengan keseharian, ia bersifat menetap dan tak terelakkan. Seburuk apapun ia, masih terus kunyanyikan lagu tentang indah alam dan kaya raya bentangan tanah juga airnya. Hampir selalu dengan air mata, nada sumbang sepenuh jiwa itu adalah lullaby, pengantar tidur bagi anak lanang.

 

Namun nyatanya, Indonesia yang oleh Simbah ditegaskan sebagai “bagian dari desa saya” bukan hanya mooy Indie dimana sungai kecil yang jernih bertabur bebatuan membelah rimbunan pohon hutan tropis, mengalir terus hingga keluasan petak-petak sawah yang kuning padinya siap dituai. Latar belakang gunung dan cuaca cerah sungguh amboi…mangimbau, melambai-lambai.

 

Indonesia dalam kenyataannya adalah dua ratus sekian juta penduduk yang untuk mendapatkan satu pemimpin tertingginya hanya menyisakan kandidat kurang dari rentang lima jari. Ia adalah satu negara yang karena kekayaannya, tak pernah henti mengundang lirikan birahi kuasa dan penguasaan pihak-pihak luar yang bermaksud meluaskan koloni.

 

Bersyukur tiada habis atas mana telah Allah perkenalkan saya kepada Simbah yang tenaga dan kecintaan kepada siapa saja tak sekalipun mengharap kontrapretasi, panen dan imbalan. Kuat tertanam bahwa prasyarat terus berputarnya roda perjalanan hanya adagium sederhana dari Rasul terkasih: apapun itu asal Engkau tak murka, Tuhan.

 

Demikian halnya dengan kejadian lima tahunan yang sungguh istimewa kali ini. Segala eksplanasi, uraian dan prediksi yang coba saya susun–deduktif atau induktif–tak kunjung berakhir logis. Temuannya lebih sering bermuara pada takjub dan pertanyaan tiada habis. Sesekali, risau dan letih memproduksi gumam serapah berkepanjangan.

 

Kembali kepada lingkup peradaban paling domestik sambil melanjutkan upaya menebar kejernihan di lingkup yang saya mampu adalah pembacaan terbaik atas DJ’s Day. Inilah formula dan invensi genuine yang untuknya hanya khidmat, pelaksanaan dengan kesungguhan serta Al Fatihah yang sanggup saya persembahkan.

 

Sementara rengeng-rengeng kecintaan yang berkelanjutan kepada Indonesia kunyanyikan senantiasa, biarlah mereka teruskan itu pesta.

 

Kepanjen Kidul, Rabu pungkasan 2019

Rio N. S, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.

*penggalan lagu Master of Puppets dari Metallica