Kolom Jamaah

Domba dan Serigala

Oleh: Acang

Domba. Hewan yang biasanya hidup berkelompok. Alkisah, dalam sebuah kawanan domba, ada seekor domba yang suka jahil sesama domba. Si domba ini seringkali tiba-tiba lari kencang sehingga membuat kaget tidak hanya kawanannya, tetapi juga sang gembalanya. Suatu hari ia menunjukkan gelagat sebagaimana domba apabila ada serigala. Sang gembala langsung menuju arah si domba berlari sambil membawa tongkatnya, bersiap mengusir serigala. Sedangkan kawanan si domba langsung berlindung di balik si gembala. Jebulnya, si domba ini hanya iseng saja. Dalam bahasa domba, mungkin saja ia berkata pada kawanannya, “kena prank, deh!”. Demikian terjadi berulangkali.

Pada suatu waktu, kawanan serigala mengendap-endap dan mengintai kawanan tersebut. Si domba jahil ini melihatnya dan kemudian berlari panik serta mengembik keras. Mengira kawanannya akan berlari menjauh dan sang gembala melindunginya, ternyata kali ini ia keliru. Sang gembala dan kawanannya sudah kebal atas kejahilannya sehingga kali ini memilih untuk tidak mengindahkan si domba jahil ini. Singkat kata, sang gembala terlambat mengantisipasi serangan serigala, sehingga banyak korban dari kawanan dombanya yang menjadi menu makan malam kawanan serigala tersebut.

Fabel tersebut dulu banget sangat akrab dengan masa kecil saya, setidaknya.

* * *

Kita tinggalkan dulu kawanan domba. Nanti kita kunjungi lagi ketika butuh wol -nya atau butuh digulingin dan menjadi domba guling.

* * *

Beberapa waktu lalu, viral di mana ratusan orang melakukan demonstrasi menyampaikan aspirasinya yang tidak menyetujui penyekatan di sebuah tempat, sebagai upaya screening yang menjadi bagian dari penanganan pandemi Covid-19 di Jawa Timur. Sebelumnya, ramai disebut betapa bebalnya masyarakat yang diimbau untuk tidak mudik, tetapi tetap saja mudik. Sebelumnya lagi, ramai juga di mana masyarakat (ya, lagi-lagi masyarakat) dituding tidak patuh dan taat terhadap protokol kesehatan. Sebelumnya lagi (dan hingga saat ini), masyarakat dibanjir-bandangi informasi yang simpang siur mengenai segala sesuatu yang menyebut Covid. Banyak yang teriak-teriak mengklarifikasi informasi simpang-siur ini sebagai upaya jihad mengurangi ‘noise’ di isu seputar Covid-19 ini. Meskipun sebenarnya kita tahu ketika ‘informasi yang benar’ sedang mengikat tali sepatunya untuk berlari, ‘dis- mis-malinformasi’ sudah berlari kencang dua kali mengelilingi bulatan bumi.

Di samping kecenderungan persebaran informasi yang tidak berimbang antara informasi yang benar dengan dis-mis-malinformasi, hampir secara otomatis manusia akan melihat siapa penyampai sebuah informasi: selain muatan, isi, atau konten informasinya. Bahkan dalam algoritma mesin pencari Google juga memasukkan ini sebagai salah satu parameternya dalam EAT, Expertise Authority Trustworthiness. Kredibilitas penyampai informasi ini menjadi indikator sangat penting sehingga sumber informasi itu layak dipercaya, otoritatif, dan layak menyampaikan dalam topik yang disampaikan.

Dalam khazanah Islam, hal ini sudah diteladankan dengan sangat gamblang dalam kisah hidup Muhammad, Sang Nabi. Kepribadian beliau sejak kecil telah terbangun sebagai pribadi yang layak dipercaya, menjaga amanah, dan menjaga integritasnya. Sehingga tidak mengherankan keputusan beliau ketika pengembalian Hajr Aswad ke dinding Ka’bah bisa diterima seluruh kabilah. Tidak mengherankan pula para kabilah yang akhirnya mengirimkan masing-masing satu utusan ketika hendak membunuhnya di suatu malam sebelum peristiwa hijrah. Sehingga ketika beliau saw. menyampaikan sebuah informasi yang ‘tidak masuk akal’ yang didapatkan dari Allah melalui Jibril, relatif mudah diterima karena konstruksi integritas dan amanah pribadi beliau sangat kokoh.

Salah satu yang menjadikan kokohnya kredibilitas seseorang atau sebuah institusi adalah konsistensi. Bukan dalam artian sempit bahwa konsistensi disederhanakan menjadi keras kepala,  ngeyel,  dan  tidak  terbuka.  Konsistensi akan  lebih  terlihat  dan  tertanam  karena kesesuaian apa yang disampaikan dan dijalankan. Walk the talk. Kondisi-kondisi yang mengharuskan penyesuaian-penyesuaian adalah keniscayaan. Namun sufficient reason yang mendasari penyesuaian-penyesuaian tersebut juga cukup kukuh sehingga tidak mengganggu konstruksi konsistensi tersebut.

* * *

Revolusi era informasi ini juga menghadirkan sebuah fenomena yang makin membesar dan dominan. Yakni viralitas yang berdasarkan amplifikasi. Fenomena ini sebenarnya adalah juga hukum alam. Bahwa ketika sebuah informasi diamplifikasi sedemikian rupa, ia akan menjadi lebih terdengar. Semakin besar amplifikasinya, semakin nyaring pula keterdengarannya. Dunia internet dan media sosialnya semakin memudahkan proses amplifikasi tersebut. Tidak peduli bagaimana kualitas informasinya, apa isi informasi, dan siapa penyampai informasinya, amplifikasi bisa membuatnya mendominasi ruang publik. Demikian pula sebaliknya. Semakin kecil amplifikasi, dapat menenggelamkan sebuah informasi dan semakin  cepat dilupakan, tidak peduli seberapa penting dan bermanfaat informasinya. Amplifikasi yang ada saat ini juga tidak peduli siapa yang mengamplifikasinya. Apakah ia pengguna nyata, bot, ataupun sekadar pendengung–amplifikasinya bisa terus membesar. Sebuah simalakama dari satu pilar demokrasi sebenarnya, one man one vote. Tidak peduli bagaimana seorang chef menjelaskan makanan sehat, informasi ini akan tenggelam kalau satu juta penikmat makanan cepat saji mengamplifikasi informasi produk baru resto siap saji akan produknya yang kurang sehat. Sebuah studi MIT pada 2018 menunjukkan hasil mengejutkan, di Twitter berita palsu 70% lebih sering di-retweet daripada berita yang benar. Bayangkan keterdengarannya dengan persentase tersebut.

* * *

Jadi  kalau  ada satu  pihak  atau  institusi  dalam beberapa  peristiwa  menyebut  informasi misalnya tenaga kerja lokal akan diprioritaskan, dengan kenyataan banjirnya tenaga asing; menyebut korupsi sebagai penyakit dan mendukung semua upaya memberantasnya, dengan kenyataan upaya pemberantasannya semakin lama semakin melemah; dan beberapa informasi lainnya, maka mudah membayangkan akibatnya.

Atau juga ketika satu komponennya mengatakan sebuah obat bisa diterapkan sebagai pengobatan sebuah penyakit, sementara komponen lainnya kemudian membantahnya. Atau ketika satu komponen memperbolehkan mudik sebelum tanggal tertentu, yang kemudian komponen lain meralatnya. Akan terlihat seperti seseorang yang mengatakan sebuah tempat terlarang untuk dikunjungi, tetapi kaki dan badannya melangkah menuju tempat tersebut.

Pada satu titik, tidak peduli seberapa valid dan rigid informasi yang disampaikannya, khalayak tidak akan lagi memperhatikannya.

Tidak peduli seberapa benar dan valid menyerukan tentang penanganan wabah Covid-19, atau berbusa-busa membuat regulasi penanganan Covid-19, tidak akan mengejutkan jika implementasi di masyarakat tidak akan efektif.

Meskipun pada akhirnya, kawanan domba lagi yang akan menjadi korban sang serigala. Sedangkan si domba jahil tetap selamat. Hanya tinggal kemarahan sang gembala yang mungkin bisa menyelamatkan sisa kawanan yang lain. Dengan mengeluarkan si domba jahil dari kawanan yang digembalakannya, mungkin?

Penulis yang arsitek ini adalah seorang yang dahaganya pada validitas data, sains , dan pembahasan teori kompleksitas tak pernah terpuaskan. Ia juga menjadi kontributor bagi symbolic.id, BangbangWetan, dan Wiksadipa. Bisa disapa melalui akun IG dan twitternya @acan9

Leave a Reply

Your email address will not be published.