Mbah Nun melatih kita berpikir tidak seperti orang pada umumnya. Jika orang yang mainstream sedang berpikir tentang piala dunia, di BbW kita justu membicarakan pialang.

Setelah dua bulan berturut-turut nyawiji di sumur Maiyah Padhangmbulan, BangbangWetan Juni 2018 diselengarakan kembali di halaman Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo No. 15, Surabaya, dengan tema “Piala[ng] Dunia”. Pialang[ng] Dunia menjadi tajuk yang sangat kompatibel dengan peristiwa yang sedang gencar-gencarnya terjadi di bulan Juni yakni Piala Dunia. Seperti biasa, setelah pada pukul 20.00 wib dilakukan nderes Al-Quran dan bersama melantunkan sholawat nabi, moderator yang kali ini digawangi anak muda mulai memaparkan tema malam itu.

Pak Dudung sebagai kumendan BangbangWetan ikut bersuara pula di atas panggung. Beliau memutar kembali lagu Padhang Bulan yang dipopulerkan oleh Franky Sahilatua yang liriknya ditulis oleh Emha Ainun Nadjib dan tentu juga di-tadabbur-i oleh Pak Dudung.

Mengawali diskusi awal, ketiga moderator mengundang jamaah untuk menuturkan sedikit pengalaman bersinggungan dengan Maiyah. Malam itu hadir Mbak Fitri yang jauh-jauh menyeberangi lautan untuk bersua dengan jamaah BbW. Wanita ini adalah Jamaah Maiyah Syafaat Batangbanyu, Kalimantan Selatan. Selain itu, cowok tambun bernama Ridho yang usianya masih 15 tahun dari Gedangan, Sidoarjo, menceritakan niat baiknya datang ke Maiyahan yaitu untuk mencari “sangu mati”.

Tim tema yang juga digawangi para pemuda memantik tema Piala[ng] Dunia di atas panggung secara runtut. Piala adalah persembahan untuk pemenang sebuah kontes atau perlombaan. Sedangkan pialang bisa diartikan sebagai broker atau makelar. Pialang terlahir dari kultur ekonomi untuk mendapat keuntungan tertentu dari bisnis jual beli. Tim tema menyimpulkan bahwa ternyata piala dunia tidak terlepas dari unsur ekonomi. Mari kita tadabburi, kalau dalam sisi ekonomi pialang dapat diartikan sebagai broker, maka dalam arti konotatif bisa diartikan sebagai arti positif. Untuk bisa cinta kepada Tuhan ada “PIALANG” yaitu Muhammad saw. sebagai yang menjembatani kita kepada Tuhan.

Mas Acang juga mengingatkan kembali bahwa Mbah Nun dan Kyai Muzammil pernah memaparkan bahwa ada 3 jenis profesi yakni :

  1. Ziro’ah (Menanam)
  2. Sina’ah (Produksi)
  3. Tijaroh (Perdagangan)

Menurut Mas Acang, kata pialang digunakan untuk pasar saham dan penyertaan modal. Dalam bahasa Belanda pialang yang dimaksud adalah makelar. Tetapi dalam hal-hal tertentu pialang dibutuhkan karena kita tidak bisa mengerjakannya sendiri. Dalam nada konotatif pialang menjadi penghalang sebuah tujuan.

Dalam kesempatan malam itu, hadir pula Cak Rudd dari Blora yang kangen dengan BbW. Seperti kita ketahui bersama, bahwa Cak Rudd adalah pegiat awal ketika BbW terbentuk sebelas tahun lalu. Dengan memanfaatkan kerinduan Cak Rudd, moderator mempersilakan beliau untuk berbagi ilmu dan pengalaman di atas panggung.

Rasulullah juga menjadi Makelar untuk umatnya tetapi tidak mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Beliau juga menjadi perantara antara barang dagangan milik Khadijah r.a. kepada pembeli. Bedanya dengan masyarakat modern, beliau menjadi perantara untuk kepentingan banyak umat dan tidak mengambil keuntungan besar. Cak Rudd juga menyampaikan bahwa Mbah Nun juga menjadi perantara untuk menyampaikan cinta kita terhadap ajaran Rasulullah saw. dan memperoleh cinta Allah Swt. Cak Rudd menyampaikan kembali apakah setelah pulang Maiyahan kita bisa menjadi perantara untuk mengambil keuntungan positif atau negatif.

Koordinator Simpul Jawa-Bali Mas Hari tak ketinggalan juga ikut berbicara. Beliau menyampaikan bahwa sebenarnya BbW ini juga sebagai makelar. Kalau di acara seminar biasanya ada poster yang mencantumkan sponsor acara, BbW tidak demikian. Forum BbW tidak pernah menargetkan berapa infak yang didapat meskipun sangat kita sadari bahwa BbW tetap membutuhkan infak untuk keberlangsungan acara. Mas Hari juga berharap semoga forum ini dapat dijadikan sebagai ajang untuk menemukan kesejatian diri. Forum ini bisa menjadi perantara untuk membahas lebih dalam ilmu-ilmu yang disampaikan Mbah Nun. Bisa jadi forum Maiyah ini sebagai pialang kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Disambung oleh Wak Mad yang sudah ada pula di atas panggung. Mengambil sudut pandang pilkada, yang paling terlihat adalah lamaran penjual nasib rakyat terhadap pialang dunia. Sesungguhnya para calon yang ingin dipilih di pilkada itu melamarkan diri sebagai pialang dunia. Jadi kemandirian adalah kunci.

Wak Mad menambahkan, obat kita ketika terombang-ambing oleh pialang dunia adalah Kanjeng Nabi seorang. Bermodalkan shalawat dan doa agar setiap masalah kita diselesaikan oleh Allah. Kita tidak bisa melihat agama orang lain apabila kita masih terpaku dengan kapitalis yang ada.

Mas karim dari Wonosobo mengaitkan Maiyah dan Mbah Nun sebagai penawar. Maiyah memberikan ruang bagi diri kita untuk menemukan kesejatian diri yang baru. Sebagai contoh dulu ada jamaah yang menganggap wanita yang memakai celana itu hal yang tabu, tetapi setelah bersinggungan dengan Maiyah ia menganggap itu sebagai hal yang biasa. Apapun yang Mbah Nun sampaikan, beliau menawarkan praktek sebagai orang yang selalu terlahir kembali, orang-orang perlu berkumpul dari Timur.

Mas Karim juga menceritakan awal pertemuannya dengan Maiyah ketika SMA gagal mengikuti tes UMPTN, berkali-kali gagal. Kemudian kembali merubah niat yang ditemukan dalam Maiyah yaitu niat sekolahmu untuk apa? Yang perlu ditata adalah niat sekolah untuk nyenengo wong tuwo, bukan untuk adu gengsi atau sekadar mendapatkan ijazah.

“Mbah Nun melatih kita berpikir tidak seperti orang pada umumnya. Jika orang yang mainstream sedang berpikir tentang piala dunia, di BbW kita justu membicarakan pialang.” Tukas Kyai Muzammil membuka pembahasan tema. Sekarang banyak orang terfokus perihal menang dan kalah. Di Maiyah tidak boleh begitu, kita harus berfikir lebih dalam, ini sesungguhnya beneran menang atau jangan-jangan semua kalah. Bisa jadi kemenangan yang dirayakan adalah kekalahan yang dimanipulasi. Sebetulnya orang jadi pialang dalam Islam itu sah, yang tidak boleh itu jadi “pialangistis”. Orang bisnis dan berdagang boleh tetapi jangan jadi pedagang yang semua dipialangkan. Rasulullah berdagang pun sampai tidak cari untung. Sekarang banyak orang tidak jujur karena cari untung. Dalam hal ini jangan menjadikan untung sebagai tujuan utama. Maka, malam hari ini kita mewaspadai kehidupan bahwa kita tidak akan jadi pialangistis. Mari kita mulai dari diri kita sendiri melakukan apapun karena Allah,  menggunakan ilmu semoga bisa bermanfaat bagi orang lain.

Mas Karim menyampaikan bahwa kunci keamanan adalah keseimbangan. Bagaimana kita bersikap kepada sekitar untuk menciptakan social movement yang tidak menyakiti satu sama lain. Beliau menuturkan bahwa Maiyah ini bukan ormas dan bukan tarikat. Karena kita bukan lembaga, ke manapun kita merasa aman dengan teman-teman Maiyah.  Sebagaimana islam itu mengamankan.

Di akhir acara, Mas Acang kembali mengingatkan jamaah untuk merenungi kembali lirik lagu Padhang Bulan yang ditulis Mbah Nun dua puluh tahun yang lalu, betapa konsisten dan sabarnya Mbah Nun menemani kita semua. Seakan akan kita berkumpul tiap malam di acara Maiyahan seperti saat ini.

Oleh : [Tim Reportase BangbangWetan]