Oleh : Wahyu Widhi W

 

“Mateng aku!” Itulah ekspresi dalam hati ketika Manajer Very meminta saya untuk menulis momen ulang tahun BangbangWetan. Saya menduga manajer meminta saya menuliskan reportase, yang selalu saya kesulitan menuliskannya tetapi gampang sekali maidonya. Namun, begitu yang dimaksudkan adalah cerita perjalanan BangbangWetan ke barat, saya langsung bernapas lega. Kalau menulis ringan-ringan gak signifikan bagi perkembangan mental ummat kayak gini saya lebih siap daripada menuliskan reportase.

Bulan September memang spesial bagi BangbangWetan yang pertama kali diselenggarakan pada 6 September 2006. Pada bulan September, penyelenggaraan BangbangWetan selalu lebih istimewa dan berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Panggung lebih semarak, pengisinya lebih beragam, jamaah yang datang lebih banyak, biaya penyelenggaraannya pastinya lebih besar, tapi biasanya perolehan infaq juga lebih besar, hehehe.

Di tahun 2020 yang dianggap penuh kejutan tidak menyenangkan bagi sebagian besar orang, BangbangWetan justru mendapat kejutan menyenangkan, yaitu menyelenggarakan Maiyahan rutinan BangbangWetan pertama kalinya di Kadipiro, kejutan yang mbarokahi. Tanpa terlalu banyak pertimbangan, tawaran itu pun diiyakan. Pendanaan aman, masih ada dana dari merchandise (maka dari itu sodara-sodara, belilah selalu merchandise resmi). Kemudian ada sumbangan dana dari donatur, dan bantingan peserta rombongan. Mengingat situasi, maka diputuskan hanya membawa satu bus medium berkapasitas 35 orang. Saya pun ketiban berkah diikutkan dalam rombongan, mungkin karena “bakat” saya menuliskan sesuatu yang tidak bermanfaat seperti ini.

Jumat pagi 11 September 2020, sebanyak 32 orang jamaah BangbangWetan berkumpul di Cahaya Grafika, Pandegiling, sebuah percetakan milik Wak Mad. Sesuai kesepakatan, bus akan berangkat jam 7 WIB. Pukul 7 lewat 10 menit, ke-32 orang sudah berkumpul. Sebuah rekor, mengingat undangan rutinan Rolasan yang tertulis jam sembilan malam biasanya dimulai paling cepat dua jam setelahnya. Satu persatu rombongan pun memasuki bus setelah dilakukan disinfeksi. Sebenarnya awalnya bus terisi penuh 35 orang, tetapi di saat terakhir, satu-satunya orang yang berhak menyandang gelar haji di BangbangWetan, yaitu Kaji Haris, tidak bisa ikut. Mustofa sang desainer yang gampang mabuk darat itu memilih mangkir dengan cara lebih ekstrim, yaitu memberitahu menjelang keberangkatan. Itu pun setelah ditelepon berkali-kali. Padahal malamnya ia masih terlihat mengemas hand sanitizer di Cahaya Grafika.

Konon, jika sebuah perjalanan berjalan lancar, akan selalu ada drama di awal. Rupanya perjalanan ke barat pada Jumat pagi itu akan berjalan lancar.

Perjalanan menuju Yogyakarta

 

Mas Ahid sang Pimred BMJ, ponselnya tertinggal di mobil taksi online yang disewanya. Meskipun rumahnya dekat saja dari Pandegiling, ia harus menyewa taksi untuk membawa makan siang rombongan dan sprayer yang digunakan untuk disinfeksi. Ia langsung berinisiatif pulang menuju rumah sang sopir taksi meminjam si Johan, motor saya.

Seisi bus langsung terlihat panik. Hari Telo pun berinisiatif menghubungi ponsel milik Mas Ahid, diangkat oleh sopir taksi online yang menyatakan kesanggupannya kembali ke rumah Mas Ahid untuk mengembalikan ponsel. Satu bus sepertinya jadi bertambah panik, bagaimana bisa dua keputusan berbeda itu akan bertemu. Mas Ahid ke rumah sopir, sedangkan sopir menuju ke rumah Mas Ahid. Apalagi ternyata Mas Ahid ndak membawa ponsel cadangan untuk dihubungi. Lha lebih panik dan bingung lagi. What if ini, what if itu …

Pada pukul 08.12, drama itu pun berakhir saat Mas Ahid terlihat kembali ke titik kumpul. Untunglah ternyata sopir taksi tersebut adalah tetangganya sendiri. Saya bernapas lega, molornya ndak terlalu lama, Mas Ahid pun kembali ke rombongan dalam keadaan selamat dan membawa ponsel… gak sido apes.

Diawali doa yang dipimpin Gus Luthfi, rombongan pun berangkat ke barat menuju Rumah Maiyah. Bus berjalan pelan dari Pandegiling menembus padatnya Banyuurip. Sesampainya di tol, bus pun ternyata tetap berjalan pelan. Rupanya sopir bus adalah seorang pecinta lingkungan. Dengan melajukan bus dengan pelan, bahan bakar bisa dihemat. Hemat bahan bakar berarti menyelamatkan lingkungan sekaligus mewariskan lingkungan bersih untuk anak cucu kelak. Sungguh sopir idaman.

Satu jam pertama perjalanan, suasana masih ramai dengan hiruk pikuk guyonan, tak lupa juga karaoke. Sukmo yang pertama kali unjuk suaranya yang biasa-biasa saja. Kalau luar biasa ya jadi penyanyi profesional lah. Di tengah perjalanan yang sungguh woles, Amin Kecil (untuk membedakannya dengan Aminullah moderator BangbangWetan) kemudian membagikan stiker, masker, dan hand sanitizer dalam botol spray kecil. Ia kemudian ganti mengedarkan kotak bantingan, kata lain dari kotak infaq. Tapi kali ini kotak bantingannya benar-benar berbentuk kotak, tak seperti kotak infaq BangbangWetan yang sesungguhnya silinder itu.

Selang jam berikutnya, suasana di bus menjadi sepi. Guyon rupanya juga tidak bisa dilakukan terus menerus. Mau karaoke juga bosen, bermain layangan juga tidak mungkin. Peserta rombongan banyak yang memilih tidur, saya pun demikian, biar nanti saat maiyahan segar bugar. Manajer Very pun mengambil momen wajah-wajah innocent yang terlelap melalui kameranya. Ada quote baru yang ditemukan, “Jika ingin melihat ganteng tidaknya seseorang, lihatlah ketika ia tidur.” Saya sendiri tak terlihat jelek, lha wong memakai masker.

Bertepatan dengan hari Jumat, maka bus pun berhenti agak lama di rest area Sragen untuk memberi kesempatan rombongan makan, istirahat, dan sholat jumat. Saya juga ikut sholat jumat demi pencitraan. Masjidnya bagus, protokol kesehatan pun dijalankan dengan cara memberi jarak renggang antarjamaah dan mengukur suhu tubuh sebelum memasuki area masjid. Yang paling penting, isi khutbah jumatnya ndak membuat saya misuh-misuh. Isinya tentang keutamaan sholat, tetapi cara penyampaiannya menyenangkan.

Selepas itu, bus pun terus melaju hingga Yogyakarta tanpa berhenti. Keluar dari pintu tol Kartasura, bus jadi ndak woles lagi. Rupanya kecintaan sopir bus pada lingkungan hanya sebatas di jalan tol. Bus medium itu pun meliuk-liuk, salip sana sini. Saya sih senang-senang saja bus berlari kencang, tetapi tak demikian halnya dengan Ayun, bonita cilik putri Ariawan, ia sukses muntah dua kali. Mungkin harusnya Ayun ndak tidur saja semalaman seperti saya.

Saya bolak balik tertidur selama perjalanan yang meliuk-liuk itu. Sewaktu bangun sepenuhnya, bus sudah memasuki tempat transit, sebuah hotel di jalan Magelang yang cukup dekat dari Kadipiro. Beberapa teman menyewa taksi online dan langsung berangkat ke Kadipiro untuk menyiapkan keperluan Maiyahan BangbangWetan malam harinya. Beberapa teman yang ndak ke Kadipiro memilih ngopi, ada yang jalan-jalan juga ke Malioboro, saya lebih memilih menghangatkan kasur hotel. Tidur lagi.

Selepas maghrib rombongan pun berangkat ke Kadipiro. Sempat ada drama kecil ketika semua rombongan sudah masuk bus.

“Wis mlebu kabeh tah rek?” Sita mengabsen.

“Mas Ahid durung. Sik adus wonge.” Sukmo menjawab. Pimred maneh, hahaha…

Tetapi keterlambatan kali itu tak selama drama awal keberangkatan. Tak sampai setengah jam kemudian bapak pimred kita tergopoh-gopoh masuk ke dalam bus sambil meminta maaf berkali-kali. Bus kemudian berangkat menuju Kadipiro, dengan jarak yang ternyata cukup jauh, sekitar setengah jam. Usut punya usut, ternyata karena bus tidak bisa memutar balik akibat sempitnya jalan. Jadi bus rombongan kami harus memutar dengan jarak yang lumayan. Ini berbeda dengan kepulangan dari Kadipiro yang memakan waktu sekitar 15 menit.

Sesampainya di Kadipiro pada pukul 19.30, saya melihat wajah-wajah yang tidak asing. Pak Slamet dan Mas Gajah jamaah BangbangWetan yang biasanya mengawal Mbah Nun di Jawa Timur rupanya sudah datang duluan, mengendarai mobil. Mas Yudhis menyambut kami dengan mengenggam pistol yang tidak menembakkan peluru, tetapi sinar infra merah untuk mengukur suhu tubuh. Ada Pak Penyo pengampu IT di Progress sedang mengobrol di Syini Kopi dengan beberapa orang, salah satunya yang saya kenal adalah Haq, cah Semarang yang sedang berkuliah di Yogyakarta. Sebelumnya di hotel, Mas Alay dan Wak Mad juga menyambut rombongan BangbangWetan yang baru tiba. Hadir pula Pak Darmaji yang bulan lalu mendampingi forum BangbangWetan di bulan Agustus. Beliau berangkat dari Surabaya pukul 10 pagi bersama sang istri. Ada pula kru belakang panggung Mas Awik, Mas Bekti aka Pentil, dan Pak Ervan sedang bersiap-siap. Dari Kiaikanjeng saya hanya bisa ketemu Pak Bobit, Mas Doni, Mas Patub, dan Pak Nevi. Rupanya pakde-pakde yang lain langsung menuju ke belakang panggung. Situasinya memang serba salah, pengen berbincang akrab dan bersalaman tapi terhalang sesuatu tak terlihat.

Berbeda dengan forum maiyahan lainnya yang antara panggung dengan jamaah tak berjarak, situasi pandemi mengharuskan jarak yang cukup jauh antara panggung dengan jamaah, sekitar tiga meter. Jamaah menempati tempat parkir, bukan di bagian dalam Rumah Maiyah. Ada kotak-kotak hitam yang menjadi tanda tempat jamaah duduk. Sebelum acara dimulai, kami dipersilakan makan dulu. Gudeg adalah menu makan malamnya. Ada pula kopi hitam dan teh nasgithel, panas-legi-kenthel yang sungguh nyaman. Mangan, turu, maiyahan, itulah intinya. Saya beneran santai dan fokus menyimak , berbeda dengan maiyahan BangbangWetan lainnya yang sering wira-wiri ke sana ke mari.

Pukul 19.30, acara dimulai dengan nderes. Kemudian ini dan itu, lengkapnya baca reportase saja ya, pokoknya menyenangkan lah. Gimana ndak menyenangkan, bisa maiyahan di Kadipiro, melihat Simbah yang nampak sehat, ditemani pakde-pakde KiaiKanjeng, serba istimewa pokoknya. BangbangWetan edisi ulang tahun di bulan September itu berakhir pukul 00.30 dinihari. Pengennya sih sampe subuh ya. Tapi kan kurang ajar jenenge, hehehe.

Selesai maiyahan ngapain? Makan-makan lagi, kali ini makan bareng-bareng nasi tumpeng. Saya juga ikutan makan lagi. Kemudian kami pun bergotong-royong membersihkan rumah dan membereskan peralatan KiaiKanjeng. Saat itulah Wak Mad membawa piring berisi nasi tumpeng.

“Iki panganen rek.” Wak Mad menawarkan kami.

“Wis, Wak. Wis mari mangan aku.” Saya menolak, sudah kenyang. Begitu pula teman-teman yang lain menolak.

“Iki bekase Simbah iki.” Wak Mad menggoda.

Brulll… langsung saja jomblo-jomblo nyaut piring di tangan Wak Mad dan mengambil sesuap dua suap untuk dimakan. Ada Rohman, Yassin, Cobus … dan saya juga dong. Bismillah barokah reek.

Setelahnya kami pun langsung kembali ke hotel pada pukul 01.30, waktu yang biasanya masih gayeng-gayengnya maiyahan di sesi tanya jawab. Saya tertidur tak berapa lama kemudian. Beberapa teman memilih jalan-jalan ke Malioboro, literally. Mereka berjalan dari hotel ke Malioboro yang menurut peta berjarak dua kilometer saja, walaupun faktanya lebih dari itu. Dari Malioboro ke hotel mereka tak sanggup lagi berjalan kaki dan memesan taksi online. Bonek juga bisa lelah rupanya.

Saya terbangun pukul tujuh pagi, tak sempat melaksanakan amanah Mbah Nun. Dalam maiyahan malam sebelumnya, Mbah Nun berpesan pada jamaah agar bangun sebelum subuh dan melaksanakan sholat dua rakaat. Saya pun segera bersiap mandi sembari menunggu metabolisme tubuh menendang saluran pencernaan. Selesai mandi saya turun ke bawah (kalau naik ke atas … paham ya) menemui teman-teman yang sedang sarapan di seberang hotel. Ada angkringan khas Jogja dan bubur ayam tepat di seberang hotel tempat kami menginap. Kami turut berkontribusi pada aktivitas ekonomi rakyat kecil dengan cara membelinya, ndak ngutang.

Tepat pukul sepuluh pagi, bus pun kembali ke Surabaya. Ada agenda tambahan yaitu membeli sekadar oleh-oleh dan … makan … lagi. Kali ini yang menjadi tujuan adalah Bakpia Mutiara dan Bakso Pikul Mas Bowo. Pemiliknya adalah kawan Jamaah Maiyah sendiri, yaitu Mas Bimo. Saya sudah beberapa kali ke outlet bakpianya di Prambanan. Pernah pula ke restorannya yang menyenangkan, Wedang Kopi Prambanan.  Letak outletnya searah perjalanan, di jalan raya Jogja-Prambanan. Beberapa teman memborong bakpia agar tak disuruh tidur di luar oleh istrinya, termasuk Irul, aktivis flat earth. Sebelumnya sewaktu berjalan-jalan di Malioboro, Irul sudah memborong kaos. Dari harga 45 ribu per piece-nya, kemudian menemukan pedagang yang menjual kaos 100rb dapat tiga, ia pun membelinya. Lanjut lagi ketemu 100rb dapat empat, beli lagi, berjalan lebih jauh ada lagi 100rb dapat lima, ia pun beli lagi. Entah apakah Irul nantinya diperbolehkan tidur di dalam rumah setelah uang sakunya habis.

Perut kenyang setelah menyantap bakso tak berapa lama setelah sarapan di angkringan, saya pun bersiap tidur. Tetapi ternyata teman-teman membuka forum diskusi dengan tema yang megeli, yaitu tentang flat earth. Siapa lagi tokohnya kalau bukan Irul. Saya paham, setelah makan memang tidak dianjurkan tidur demi kesehatan yang prima. Makanya inisiatif teman-teman untuk membuka forum lawakan agar rombongan tetap terjaga sangat saya apresiasi.

Perjalanan pulang itu kami hanya berhenti satu kali di rest area Ngawi untuk sholat dan ngopi, juga merokok sekadar satu dua tiga empat lima enam batang…lha kok suwi tibakne. Padahal sopir bus juga kembali lagi jadi pecinta alam di jalan tol. Saya memikirkan waktu istirahat sebelum esoknya pergi beraktivitas lagi, yang ternyata besoknya masih hari Minggu yang berarti saya bisa tidur seharian. Berbeda halnya dengan yang dipikirkan Irul, ia memikirkan apakah motornya nanti bisa dinyalakan. Karena ternyata kunci motornya tak bisa dicabut dari rumah kunci, pada saat kondisi motor masih on. Lak percuma oleh-oleh sebanyak itu tak bisa diserahkan anak istrinya kalo motornya mogok.

Pukul 17.00, bus beserta rombongan akhirnya tiba dengan selamat dan utuh di Pandegiling. Sebagian ada yang langsung pulang, para jomblo yang ndak punya kegiatan malam mingguan masih meneruskan ngopi di Pandegiling. Saya sendiri sebagai orang yang menurut ukuran normal sudah berkeluarga namun masih sendiri saja, memilih jalan tengah, ndak pulang duluan, juga ndak pulang belakangan. Irul? Motornya rupanya masih bisa dinyalakan. Entah apakah ia disuruh tidur di luar, saya tidak bertanya lagi.

Semoga nanti bisa ke Kadipiro lagi, maiyahan lagi dalam situasi normal. Biar nanti ndak cuma bisa membawa satu rombongan bus. Naik kapal selam mungkin?

 

Pria berotak eksakta yang berusaha menyeimbangkan diri dengan musik dan sastra. Kadang bercuit di @kakakwidhi