Eksplorasi, Inovasi dan Invensi untuk Peradaban Baru

(Berita Sinau Bareng CNKK PENS)

 

Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka dies natalis PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya) ke-31 diselenggarakan pada Jumat, 30 Agustus 2019 di Lapangan Merah PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya). Ini merupakan Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4099; sebuah jumlah yang tentunya tidak bisa dikatakan sedikit, bahkan bisa saja jumlah sebenarnya lebih dari itu.

Acara dimulai pada pukul 20.00 diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama oleh segenap yang hadir. Tak lama kemudian Cak Nun hadir ke atas panggung ditemani oleh direktur Pens dan tamu lainnya dengan diiringi lagu Hati Matahari dari KiaiKanjeng sebagai pengiring. Melalui lagu tersebut semoga semua yang hadir selalu dilimpahi cahaya Allah Azza wa Jalla di tengah gelap zaman.

Pada Sinau Bareng yang mengangkat tema “Pendidikan Menyemai Peradaban”, Cak Nun membagi jemaah menjadi 3 grup yaitu grup eksplorasi, inovasi, dan invensi. Penamaan tersebut tidak sembarangan karena mengandung pengharapan agar nantinya kita—khususnya mahasiswa PENS—bisa mengeksplorasi diri, menginovasi ilmu, sehingga pada akhirnya kita bisa me-reka cipta (invensi) demi munculnya peradaban baru.

“Ciri orang bijak yang pandai adalah segala sesuatu yang sulit, dijelaskan secara mudah agar semua orang bisa memahaminya. Sedangkan ciri orang yang setengah-setengah pandainya adalah hal yang sebenarnya gampang justru disulit-sulitkan.” Dawuh Cak Nun—yang mengaku mendapatkan kalimat itu dari Pak M. Nuh (mantan rektor ITS)—saat memulai diskusi dengan perwakilan jemaah yang naik ke panggung. Pantikan Cak Nun itu digunakan untuk mendekonstruksi pemikiran kita bahwa…

Seperti halnya Sinau Bareng atau Maiyahan lain, tentu bahasan tidak terikat kaku pada tema. Banyak sekali ilmu-ilmu baru bukan hanya dari para narasumber, bahkan dari sesama jemaah. Seperti halnya Cak Nun yang kembali mengingatkan agar jangan menjadi manusia fakultatif, namun jadilah manusia umum dan universal.

Salah satu ilmu baru yang bisa didapat adalah beda ponokawan dengan punakawan. Menurut Cak Nun ponokawan adalah seseorang yang menemani dengan ilmu dan kebijaksanaan, sedangkan punakawan adalah seseorang yang menemani dengan cinta dan kasih sayang.

“Kita harus berusaha mempunyai teman yang punakawan, menemani dengan cinta dan kasih sayang, dan juga ponokawan, mememani dengan ilmu dan kebijaksanaan. Kalau mencari pasangan, harus yang punakawan. Syukur-syukur yang punokawan dan mau diajak bersama-sama mencari ilmu dan kebijaksanaan.” Dawuh Cak Nun.

[Tim Reportase BangbangWetan]