EPILOG KEBODOHAN

 

NU dan Aku

 

Tidak secara resmi dan keanggotaan, aku menyebut diriku anggota NU. Tetapi tak terlalu berlebihan kalau di Madura, tanah kelahiran dan tumbuh berkembangku, NU menemukanku terlebih dahulu daripada aku menemukan NU. Menjadi bagiannya secara kultural sudah sangat membahagiakan, apalagi kalau saja berkesempatan menjadi anggota atau pengurusnya. Nahdlatul ‘Ulama, kebangkitan para ‘ulama. Sembilan bintang menaungi bola bumi dengan seutas tambang yang menjadi pengikatnya.

 

Dari NU aku berkesempatan mengetahui banyak kisah hidup orang luar biasa yang ikhlas mewakafkan kehidupannya sebagai orang biasa, mengabdikan kesehariannya melebur dan membaur sebagai orang biasa, sebutlah misalnya Hadratus-syaikh Hasyim Asy’ari, Syaikhana Kholil, Kiai As’ad Syamsul Arifin dan yang lainnya. Pergaulan persaudaraan diantara mereka, bahkan yang telah berbeda alam dan dimensi, menyediakan ruang kemesraan yang jembar di dalam ruang budaya dan tradisi NU.

 

Dari pondok-pondok pesantren khas NU, aku menjumpai dan belajar menghormati yang tua dan dituakan, sekaligus di saat yang sama menyayangi dan memberi ruang berkembang bagi yang lebih muda. Kisah-kisah bagaimana seorang murid takdzim dan hormat kepada orang tua (terutama kepada Ibu) dan gurunya adalah mata pelajaran sehari-hari yang kian langka. Bagaimana Syaikhana Khalil sangat tawadhu’ di hadapan orang tuanya, atau kisah seorang putra kiai NU yang menangis sambil mencium tanah bekas tapak kaki ibunya, hanya karena ia terlena bermain kelereng dan tidak melihat kedatangan sang ibu dari pasar sampai masuk ke rumahnya. Dari bilik sunyi zawiyyah surau di pondok pesantren NU, sayup aku mendengar lirih munajat dan tirakat sang pengasuh pondok akan kehidupan santri-santrinya.

 

Pun ketika metode kependidikan modern menyebutkan bahwa potensi dan kecenderungan setiap siswa (baca: santri) berbeda satu sama lain, tradisi tradisional di pondok pesantren “berbau NU”,  pengasuh pondok (baca: Kiai) menentukan kapan seorang santri telah rampung belajar di pondoknya, sekaligus mengutus si santri ke pondok dan kiai lainnya sesuai dengan potensi dan kecenderungan si santri. Dari sinilah kisah Syaikhana Khalil dari mondok di Langitan ke Canga’an, dan dilanjutkannya kelak ketika sang syaikhana mengutus Darwisy dan Hasyim ke Kiai Shaleh Darat di Semarang, sementara di saat yang sama mengutus dua yang lainnya ke Peterongan dan Sumobito. Hingga beberapa puluh tahun terakhir, tradisi sang Kiai yang menentukan kemana dan kepada siapa si santri meneruskan belajarnya masih aku dengar. Meskipun semakin sayup karena mungkin berlimpahnya jumlah santri ataupun telah berasimilasi metode kependidikan di pesantren. Mungkin dari sinilah aku bisa memahami ucapan buyut buyutku yang di masa silam hanya mau “menerima” 10 orang murid saja dibawah kependidikanya, yang beliau menyebut bahwa tirakat dan kemampuannya hanya bisa untuk 10 orang murid saja. waLlahu a’lam.

 

Dari NU pula aku menyadari betapa berharganya cerita dan kisah masa lalu untuk dijadikan ‘ibrah dan sumur menimba hikmah. Misalnya saja, bagaimana dedikasi dan pengabdian seseorang yang rela melakukan perjalanan dari Jombang ke Bogor dan kembali lagi ke Jombang hanya untuk mengambil surat keputusan pembentukan Kabupaten Jombang (yang sebelumnya menjadi bagian dari karesidenan Mojokerto) di awal tahun 1900-an, pun menyempatkan diri membawa tiga bibit pohon mangga yang hingga saat ini tumbuh besar di sisi rel dekat pasar Sumobito. Sebuah perjalanan dari timur ke barat sepanjang Pulau Jawa ketika transportasi dan prasarananya masih sangat terbatas, dan dilakukan oleh seorang “biasa” saja, bukan tokoh ataupun opsir pemerintah saat itu. Atau bagaimana seorang sahabat mbabat alas sebuah daerah, bersabar menunggu sahabatnya sang hadratus-syaikh dari tanah suci dan mempersilahkannya mandegani daerah tersebut. Bahkan ketika sang hadratus-syaikh dipenjara di Kalisosok oleh pihak Jepang, putra sang sahabat menemaninya di dalam sel yang sama karena insiden di pabrik gula ketika peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Roda waktu terus bergulir, dan cucu sang sahabat di suatu pagi sambang Istana Negara silaturahmi dengan sesama cucu sahabatnya yang setelah itu bersamanya pulang ke Ciganjur. Bahkan sebelum itu, ketika Orde Baru mencoba melancarkan intriknya pada Mu’tamar NU tahun 1994 di Cipasung, diplomasi seorang paman dari sang cucu tadi mampu menawarkan intrik rezim Orba saat itu. Nama sang paman yang pada masa mudanya adalah salah satu peserta pada angkatan pertama pelatihan militer Hizbullah se-Jawa dan Madura di Cibarusa, Bogor dan selanjutnya pernah mengemban amanah sebagai Mustasyar PBNU ini ditasbihkan menjadi nama universitas NU di Sidoarjo, dan warisannya di dunia kependidikan NU masih cukup harum hingga saat ini dengan nama YPM di Sidoarjo pula.

 

Dari khazanah NU, aku lebih banyak belajar membaca yang tak tertulis dan melihat yang tersembunyi. Entah apa hubungan NU dengan Naruto, yang di salah satu episode film kartun ini menyebutkan bahwa seorang ninja yang bagus adalah ninja yang bisa membaca yang tak tertulis dan melihat yang tersembunyi. Ataukah ada empu Jawa kuno yang mengajarkan maca tanpa aksara, rasa tanpa pangrasa kepada ninja di Jepang.

 

Perppu, HTI, NU dan satu setengah trilyun

 

Mungkin karena waktuku terlalu banyak menganggur, sehingga punya banyak kesempatan untuk membaca yang tak tersurat, menyelami apa yang ada di balik sesuatu daripada hanya sesuatu itu sendiri. Atau mungkin saja aku sedang kehabisan sinyal wifi, sehingga kesibukan terbesarku riuh di dunia maya gempita di lalu lintas medsos menjadi terhenti. Jadi secara terpaksa akhirnya menyibukkan diri dengan ledakan asosiasi di balik apa yang wadag.

 

Perppu kuledakkan menjadi kebijakan, atau segala piranti kekuasaan dan legitimasi adidaya yang tak jarang dipersiapkan sebagai alat atau sekrup kecil dari sebuah mesin skenario raksasa. HTI dan NU meledakkan dirinya sendiri menjadi ormas-ormas lainnya. Bahkan digerus lebih halus lagi bisa nrithil menjadi misalnya HTI a la IM atau HTI a la London, NU Garis Lurus atau NU Garis Putus-putus. Di sisi lain galaksi, qabail HTI dan NU bisa mengejawantah menjadi Arab Saudi dan Iran, misalnya. Apalagi hanya 1,5 trilyun. Ia bisa dengan sangat mudahnya menjelma menjadi 2,5 trilyun atau menyusut hingga sekedar lima ribu atau sepuluh ribu saja.

 

Maka tidaklah mengherankan apabila Arab Saudi dimanja misalnya, sementara Iran diembargo dengan Perppu, eh maksudku Resolusi. Atau ISIS disebul-sebul masuk Suriah, menjadi bagian dari keterpecahan Suriah, sementara di saat yang sama tangan si penyebul ISIS ini mengelus-elus kepala pengungsi dan menjadi juru selamatnya. Mesir dikatalisasi pada terminal-terminal kudeta. Qatar diproklamirkan sebagai pendukung terorisme global dan di saat yang sama disuplai dengan persenjataan yang mutakhir.

 

Sehingga menjadi tidak lagi penting HTI ataupun NU. Perppu ataupun 1,5 trilyun. Silakan saja HTI dan NU diganti dengan kata lain. Perppu dan 1,5 trilyun diklambeni menjadi ketidakadilan sosial, stigma atau stereotype lainnya. Sebab kata kunci dan pesannya bukanlah apa yang menjadi alat ataupun gejala. Alert-nya ada pada pecah belah dan adu domba. Alarm-nya adalah jangan sampai ada peluang syu’ub-syu’ub dan qabail-qabail tersebut untuk menjalin kebersamaan dan sinergi. Syu’ub dan qabail yang di masa hidup Sang Kinasih Muhammad saw benar-benar lita’arafu dan menyunggi ‘indaLlahi atqakum di atas kebanggaan syu’ub wa qabail. Yang selanjutnya setelah beliau saw wafat, syu’ub dan qabail hanya pause pada lita’allamu saja untuk saling mencari kelemahan dan menjatuhkan satu sama lain.

 

Epilog kebodohan

 

Atau baiklah, aku mengaku saja. Mengaku bahwa semua yang diatas adalah khayalanku saja, mengada-ada, conspiracy theory minded. Mengaku bahwa semua hal-hal besar diatas tadi sebenarnya untuk menutupi kebodohanku. Sebab karena aku bodoh, makanya hanya bisa nebeng di tubuh kultural NU, sebab sesuai namanya, para pengurus NU seyogyanya adalah ‘ulama.

 

Mungkin kebodohanku inilah yang membawaku bersentuhan dengan dunia ide seorang Cak Nun. Muhammad Ainun Nadjib. Hanya orang bodoh yang mau menjadi “murid” seorang bodoh yang lain. Bukankah itu sebuah kebodohan, ketika terbuka lebar kesempatan dan peluang mencapai popularitas namun kemudian diabaikan? Bukankah itu sebuah kebodohan ketika tersedia ruang sangat luas menumpuk kemewahan dan memuaskan egosentrisme, namun malah meneruskan “penderitaan” menghabiskan waktu untuk kesana kemari ke pelosok desa dan kampung-kampung? Apakah bukan kebodohan namanya ketika tersaji jabatan dan pangkat, namun ditepiskannya dan memilih untuk gak pathek’en?  Adakah kemungkinan lain selain kebodohan ketika undangan ke suatu tempat sudah disediakan akomodasi dan perjamuan mewah, namun memilih untuk membaur dengan si pengundang dan berbagi keseharian yang sama?

 

Sebab hanya dalam kesadaran pengetahuan akan kebodohanku inilah, aku menemukan keyakinanku akan ke-Maha Tahu-an Tuhan, al-‘Alîm.

 

Tulisan semacam ini mungkin terlalu menjelas-jelaskan untuk mereka yang terbiasa membaca yang tersirat, sekaligus mungkin terlalu tersirat untuk mereka yang terbiasa menangkap yang tersurat.

 

Sebab orang bodoh sepertiku tak punya apapun, kecuali menyerah pasrah dan membaur lebur pada kenyataan sejati waLlahu al-aghniya’ wa ana al-faqr.

 

 

 

Oleh : Moh Hasanuddin 

Jamaah Maiyah BangbangWetan