Sebagian dari yang terus teringat dari perhelatan “Hati Matahari” beberapa tahun lalu adalah upaya mendapatkan venue. Kami dan beberapa elemen jamaah BangbangWetan pada waktu itu bekerja sama agar segera mendapat kepastian karena ini menyangkut banyak hal. Di antaranya publikasi, formasi dan kapasitas kursi, setting panggung, dan tentu saja besaran angka finansial yang sesuai dengan pagu. Beberapa tempat coba dijajaki. Bermula dari Balai Pemuda, Taman Budaya Cak Durasim, DBL Arena, hingga JX, dan Gramedia Expo. Pilihan jatuh pada Grand City Convention Hall.

 

Grand City, adalah salah satu mall papan atas dan super mewah di Surabaya. Satu pusat perbelanjaan modern yang sebagian besar teman-teman panitia belum pernah menjamahnya. “Kaum emperan ngambah gedong” begitu seloroh salah satu panitia. Ini tentu tidak mudah dan serasa tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah komunitas “umat protolan” bisa menyelenggarakan satu acara di sebuah Mall terpadu dimana harga produk yang dijual didalamnya tergolong fantastis. Belum lagi harga sewa Convention Hall-nya yang 3 x lebih mahal dibanding gedung-gedung pertemuan lainnya.

Namun seperti itulah apa yang terjadi. Di rentang waktu 12 tahun penyelenggaraannya, Bangbang Wetan tak jarang dipertemukan dengan “kenekatan-kenekatan”. Menoleh lebih jauh ke belakang, cerita tentang bondo nekat ini dijalani pula oleh cak Rahmad–salah satu penggiat fase awal hingga  pelaksanaan terkini BangbangWetan. Cerita nekatnya ini terkait juga pada sejarah pertemuannya  dengan Mbah Nun dan Kiai Kanjeng.

 

Namun dengan niatan nggayuh berkah ilmu dan nandur wohing pakarti,  BangbangWetan–alhamdulillah– bisa terus berlangsung. Sekali lagi, ini bukan hanya  besarnya nama, bukan pula karena ukuran waktu sebagai parameternya.

 

Bukan bermaksud membandingkan dengan simpul manapun–yang punya romantika hidupnya sendiri, lika-liku perjalanan Majelis Maiyah BangbangWetan yang penuh dengan “kenekatan”, menjadi catatan yang tersimpan rapi di kalbu dan ingatan “para penghuninya”.

 

Demikian pula untuk peringatan 12 tahun Bangbangwetan kali ini. Rapat pertama yang digelar di minggu terakhir bulan Agustus dibuka dengan sedikit rasa “frustasi” karena minimnya penggiat yang hadir. Seminggu kemudian, pada rapat kedua, dengan nekat diputuskan untuk ngunduh rawuhe  Mbah Nun dan Kiai Kanjeng. Alih-alih bergeming, di rapat ke 3, antusias semakin membuncah dengan kehadiran berbagai padatan diseputaran BangbangWetan. Berbagai usulan “cinta” bermunculan. Meskipun hingga tulisan ini dibuat, sandaran utamanya masih min haisu laa yahtasib.

 

Masih ada waktu sekian hari menuju Jum’at 28 September 2018. Sekuat apapun keyakinan manusia, masih tersisa hitungan kalkulatif tentang diri dan keterbatasannya. Sebagai makhluk komunal, ia tetap berharap  munculnya  sapa dan uluran tangan dari sesama. Sebelum, bila tiba waktunya, benar-benar hanya mengandalkan pinaringanipun Gusti.

 

Nuwun

#12ThnBangbangwetan