Oleh: Rifi Hadju

 

Layo, bal-balan gak tau juara ae ruwet koyok Brazil-Brazilo. Yo lek Brazil wis bolak-balik juara Piala Dunia. Lah iki, musuh ceketer Malaysia ae kalah. Ngisin-ngisini! Rinio po’o nang omahku. Tak gawekno gawang, tendangen sak mblukekmu. Gak usah atek royokan-royokan barang! (Lah iya, sepak bola gak pernah juara aja ribet gayanya kayak Brazil aja. Iya kalau Brazil sudah kerap juara Piala Dunia. Lah ini, musuh remeh Malaysia aja kalah. Bikin malu! Sini aja ke rumahku. Aku buatkan gawang, silakan ditendang sepuasmu. Gak perlu pake rebutan segala!)” ujar tukang cuci motor yang mengomeli selang air yang digenggamnya.

 

Tukang cuci motor di pinggiran jalan menggerutu siaran di radio tempatnya mengais nafkah. Siaran radio menyiarkan bahwa akan ada aksi besar-besaran yang digawangi oleh gawang sebagai bentuk solidaritas atas rekan gawang mereka yang hilang di Surabaya dan tak ada pengusutan yang jelas. Mereka mewakili kebanyakan masyarakat yang menyimpannya rapi di dalam benak.

 

sumber foto https://indopolitika.com/polri-gandeng-polis-diraja-malaysia-usut-kasus-pengeroyokan-suporter-indonesia/

 

Dua bulan tanpa apa-apa. Semenjak kegemparan di Surabaya, praktis tak ada aktivitas sepak bola formal. Setelahnya hanyalah proses tiada akhir. Konpers cuma memuat ujaran-ujaran tak bermakna. Jalan di tempat mengolor-olor waktu yang tersedia. Publik nyatanya cuma dijejali gincu-gincu mereka yang sok memperjuangkan gawang yang hilang.

Nyatanya tak menyelesaikan, malah-malah menggerahkan. Gawang hilang yang berharap dicari oleh insan sepak bola, malah-malah digusarkan. Rekan-rekan gawang yang hilang itu bereaksi, unjuk gigi, berhimpun diri dalam sebuah payung; Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia.

Gawang-gawang baik dari gawang besi, gawang plastik, gawang bambu, gawang kayu bekas dan maupun gawang-gawang usang berkumpul sekian kali. Mereka melakukan koordinasi baik sejak dari ranting, cabang, wilayah hingga menyepakati sebuah sikap nasional yang tak kalah menggemparkan; turun aksi ke jalan berjilid-jilid hingga aspirasi mereka didengarkan.

Masyarakat Indonesia merespon baik sikap tegas para gawang yang berpayung pada Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia itu. Kebanyakan mendukung penuh. Ada yang mengumpulkan donasi sukarela demi kegiatan mereka – para gawang. Bahkan tak segan sekian pengusaha truk maupun angkutan umum ikhlas lillahitaallah menyumbangkan armadanya untuk memudahkan perjalanan mereka menyambut aksi massa yang akan digelar.

Ya, mungkin satu dua yang nyinyir terhadap aksi mereka. Tidak guna, katanya. Memang, tak ada yang absolut di dunia ini. Semua sebar hitam dan putih, promosi dan degradasi, hidup dan mati.

Aparat keamanan dengan segudang dalihnya berusaha menggembosi aksi para gawang se-Indonesia yang telah tersebar di media-media daring maupun konvensional, mereka akan menjalankan aksinya tepat pada Kongres Luar Biasa PSSI. Sasaran aksi mereka selain lokasi kongres, yakni; Kantor Kemenpora, Mabes Polri, Gedung DPR dan Istana Negara.

Dari mengembuskan isu-isu miring di media sosial berbumbu hoaks, radikalisme, pro ini, anti itu, melawan negara, hingga penghadangan armada-armada, mengikat salah satu tiang gawang mereka di pohon kala sedang lengah, memotong jala diam-diam dan sampai-sampai membuat banjir buatan agar mereka hanyut tak tersisa di tengah perjalanan menuju Ibukota.

Kenyataan di lapangan bukannya menyurutkan asa para gawang, nyata-nyatanya hati makin teguh, energi berlipat-lipat ganda untuk menggelorakan aspirasi, berdemokrasi, mendobrak kebebalan pemangku jabatan yang gundhul-gundhul pacul dan miskin diri itu dengan cara sebaik-baiknya.

Hari yang dinanti tiba. Para gawang telah berkumpul di Ibukota sejak dua malam kebelakang dan terus bergelombang jumlahnya di titik kumpul yang telah disepakati. Mereka menginap di lapangan-lapangan sekitar pemukiman warga. Kebanyakan juga membuat tenda darurat di pekarangan rumah warga yang masih memiliki pekarangan.

Korlap berkumpul di belakang mobil komando. Mereka berkoordinasi sejenak sebelum long-march ke lokasi Kongres Luar Biasa PSSI. Mereka sepakat akan menciptakan goro-goro jika seluruh penguasa, tak hanya federasi, acuh terhadap nasib rekan mereka yang hilang secara misterius di Surabaya.

Dalam bahasa intelejen, mereka berpotensi mengganggu stabilitas negara dan pada suatu level tertentu mereka harus ditindak tegas. Dalam bahasa media, mereka mengancam akan bertahan di titik-titik itu hingga aspirasi mereka didengar.

Tuntutan mereka mutlak. “KALAU TIDAK BISA MENEMUKAN KAWAN KAMI YANG HILANG, JANGAN PULA KAU HILANGKAN HARAPAN ANAK-ANAK YANG SEDANG BERGAIRAH”. Begitulah rata-rata yang tertulis di umbul-umbul mereka.

Di sekian puluhan hingga ratusan umbul-umbul yang beragam ukuran dan warna, terselip beberapa spanduk yang berwajahkan Haay dan kutipan-kutipan singkat yang memampangkan bahwa Haay tidak bersalah. Beban tersendiri bagi Haay. Saat ini, ia adalah idola bagi para jurnalis di seluruh mata dunia. Anggapan para jurnalis, Haay adalah saksi kunci dalam peristiwa yang berlarut-larut, yang melelahkan pikiran.

Kausanya, ada salah seorang yang dalam sekian berita disebutkan sebagai anonim, mengaku memergoki Haay yang sedang asyik bermain bola dan menceploskan bola ke gawang yang hilang bersama seseorang bertopi pet putih. Kendati si anonim ini ragu, malah-malah wartawan yang meyakinkannya dan memaksa berkompromi bahwa itu sebuah kenyataan. Demi berita mahal.

Full-time dari aksi 2×420 menit dalam seminggu berturut-turut yang dimulai dari Kongres Luar Biasa PSSI itu berakhir manis. Walaupun sekian waktu dan tempat sempat terjadi friksi dengan aparat, aksi Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia itu berhasil melakukan pertemuan dengan para pemangku jabatan di tiap instansi dan federasi. Kekhawatiran akan terjadinya chaos besar antara gawang dan aparat keamanan yang terdiri dari aparat gabungan itu terbukti tidak terjadi.

Hampir seluruh aksi massa pulang ke lapangan masing-masing dengan penuh harap dan seutas gembira. Presiden turun tangan. Memerintahkan kepada seluruh jajaran untuk seratus persen mencari gawang yang hilang di Surabaya, gawang yang hilang ketika Persebaya tengah tertinggal dua bola di tengah laga. Tenggat waktunya tiga bulan.

Aparat keamanan sempat menyangkal dan menyatakan bahwa ini semua takdir Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa menyelesaikannya. Aparat keamanan juga berdalih jika tak ada barang bukti maupun jumlah saksi yang mencukupi. Padahal, tak kurang apa puluhan ribu pasang mata di stadion yang menyaksikan detik-detik hilangnya gawang itu sebelum melongoh berjamaah.

Aparat keamanan tetap teguh tak bisa berjanji menemukan kendati berjanji setengah mati mencari. Seakan, mereka hendak mencederai surat perjanjian dengan perwakilan gawang yang bertemu dan menghasilkan keputusan yang telah disepakati. Hitam di atas putih, di atas materai, ditanda-tangani.

Seribu satu paranormal dari Banten, Kalimantan, Tulungagung hingga Banyuwangi mengajukan diri untuk membantu mencari. Mereka melakukannya dengan sukarela. Mungkin hanya hitungan jari yang melakukannya karena tendensi ketenaran. Selebihnya karena mereka terharu biru dengan perjuangan Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia atas nasib teman mereka yang menghilang misterius di Surabaya.

Satu yang tak ditanggapi serius oleh penguasa adalah para gawang akan mengancam eksodus dari Indonesia jika negara tak lagi melindungi dan menjamin keamanan mereka di lapangan. Mereka merasa jika sepak bola di Indonesia adalah senda gurau belaka. Mereka tidak serius bersepak bola. Menceploskan bola ke gawang hanyalah bagian dari budaya mereka.

Para gawang ini satu pemahaman dengan para pengamat, pengkritik dan aktivis sepak bola Indonesia. Tujuan sepak bola di Indonesia telah melenceng dari cita-cita awal. Sepak bola dijadikan alat untuk membuncitkan perut. Jadi,ya bukan untuk berprestasi di minimal Asia Tenggara dan kalau bisa ya Dunia.

 

“Sekarang ini di AFF saja kita gak pernah juara. Sudahlah kita gak lagi bahas Persebaya, Persib, PSS, Persija, Arema, Persipura, kita sekarang bahas Indonesia. Lawan Malaysia sebegitunya harus setengah mati biar gak kalah. Ya nyatanya kalah dan kembali kalah.”

“Oleh karena itu, kami juga bersiap diri pergi dari sini jika mereka tetap seperti ini. Kami bukan gawang murahan. Dari lubuk hati yang paling dalam, ingin sekali kami dibobol oleh anak-anak Indonesia di pentas dunia. Bosan sebatas liga yang kami pun tahu siapa juaranya walau liga masih menggulirkan beberapa laga,” sahut seorang korlap dari Serikat Gawang Bambu kepada seorang aktivis sepak bola yang juga berasal dari Surabaya.

 

Suasana sungguh gayeng. Kobaran api unggun yang menjilat-jilat dilingkari oleh mereka hingga berjumpa fajar. Ratusan aktivis dari berbagai pakaian berhimpun bersama para Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia dalam jambore diam-diam di sebuah lapangan. Lapangan di sebuah alas hutan. Alas hutan di sebuah lereng gunung. Salah satu lereng gunung yang berada di Jawa Timur.

Pengamat, pengkritik dan aktivis sepak bola serta Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia melakukan koordinasi diam-diam menyikapi tenggat waktu dari Presiden kepada jajarannya yang tak kurang dari 15 hari lagi. Mereka geram dengan gerak lamban mereka yang masih stagnan pada tahap pengumpulan saksi-saksi dan barang bukti.

Dari luar lapangan, fokus peserta jambore teralih pada sepanjang barisan batu bata bekas yang berjalan satu komando mengarah mereka. Barisan panjang batu bata bekas itu dipimpin oleh sebilah batu bata renta yang berlumut cuaca. Mereka batu bata bekas itu adalah gawang yang biasanya dipakai oleh anak-anak kampung untuk bermain sepak bola di jalanan. Para gawang yang bergantian berjaga berusaha menghadang mereka, namun salah seorang aktivis berlari kencang ke arah mereka untuk menengahi.

 

“Kami mungkin batu bata yang mudah dipatahkan. Tapi asa dan keberpihakan kami kepada kalian tolong jangan disangsi. Kami adalah semut-semut Ibrahim!” tegas seorang pimpinan mereka – tentara batu bata.

 

Penulis Min Turobil Aqdam, Tadabbur Cinta & Gadis Pattani Dalam Hati, bagian dari Cak & Ning Surabaya 2018, Bondo Nekat. Bisa disapa di @rifihadju