Oleh: Rifi Hadju

 

Imbas aksi Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia yang berjilid-jilid beberapa pekan lalu membuat Surabaya yang merupakan tonggak bisu sebab akibat dari “kegaduhan” belakangan ini menjadi terisolasi. Atas instruksi, keluar masuk dari dan ke Surabaya kini bagaikan hendak memasuki kawasan ring satu. Pengecekan ketat – berlapis-lapis. Utamanya di Gelora Bung Tomo dan tambak-tambak disekitarnya yang sedang mengendap hening.

Isolasi berdampak pada pintu Mess Persebaya tertutup rapat. Diiringi doa bersama, mengundang anak yatim piatu, tumpengan dan sholawatan, pemain dan staff, termasuk Osvaldo Haay, diputuskan untuk dikembalikan ke orang tua maupun keluarganya masing-masing.

 

“….Tolong jaga anak-anak brilian Persebaya, mereka aset bangsa, masa depan Indonesia….” Tulis Azrul Ananda, Presiden Persebaya, dalam sebuah kalimatnya pada secarik surat yang ia sisipkan di seluruh tas pemain dan staff.

 

Untuk pertama kalinya setelah sempat tak diizinkan, Haay mudik ke tanah nenek moyangnya. Ia disambut sorak sorai warga yang menantinya sejak dari bandara. Haay dikawal ketat oleh empat prajurit pasukan khusus. Pemerintah parno, atau tepatnya disebut khawatir, Haay bakal hilang senasib dengan gawang hilang yang menyusahkan Indonesia, yang diam-diam ditertawakan masyarakat dunia. Pemain Persebaya yang juga penyerang andalan Timnas U-23 ini mengurungi kepalanya dengan jaket, menutupi wajahnya dengan masker sekali pakai, masih menenteng si kulit bundar saksi bisu peristiwa di Gelora Bung Tomo sore lalu.

Di belahan lain, gelagat Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia bersama para aktivis sepak bola mulai menggelombang di media sosial. Upaya siber aparat keamanan untuk meredam agaknya sia-sia. Semangat para gawang membara, pantang takut walau sebilah pedang ataupun gergaji mesin sudah cukup untuk mematahkan tiang-tiang diantara mereka.

Gertakan Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia dengan bermodalkan senjata media sosial mengelabakkan pemerintah dan federasi yang larut dalam janji-janji santuy. Pemerintah dan federasi ditekan betul oleh para gawang dan aktivis sepak bola agar mempertanggung jawabkan tanggung jawabnya.

Pencarian tak lagi hanya melibatkan aparat tampak mata, paranormal maupun profesor-profesor bantuan dari sekian negara. Proses pencarian gawang hilang yang selalu nihil itu juga melibatkan pasukan ghaib dari tanah jawa yang menginisisasi diri. Pencarian terus dicari, bagaimana caranya mencari. Masih dalam tahap ini.

Pemerintah sadar diri tak memanggil mereka ke Istana Negara. Federasi juga angka ikut sadar diri tak memanggil mereka di kantor PSSI. Pemerintah dan federasi memilih jalan sowan langsung ke posko perjuangan mereka yang berpusat di Surabaya. Posko berada di Alas Malang, tak jauh dari Gelora Bung Tomo yang dijaga ketat aparat, kendati ketika wartawan mewancarai aparat yang menjaga, mereka menjawab tak tahu apa yang harus dijaga. “Perintah komandan,” singkatnya.

 

“Bapak Presiden, Bapak Ketua PSSI dan rombongan sekalian. Pertama, terima kasih sudah menyempatkan pagi buta begini datang di posko kami yang jauh dari kata mewah ini. Kedua, terima kasih telah membawakan kami seperangkat alat dan bahan sandang pangan untuk kebutuhan kami sehari-hari. Ketiga, terima kasih telah….”

Sekonyong-konyong korlap gawang kayu memotong pembicaraan gawang besi kepada rombongan Presiden lengkap dengan paspampres yang identik berkaca mata hitam dan berwajah kaku. Pasukan batu bata yang berada di belakang tenda bersiaga, mengantisipasi sewaktu-waktu terjadi apa-apa. “Tapi maaf Bapak. Bukan kami tak hormat. Kami tak butuh ini semua! Yang kami butuhkan adalah temukan rekan kami yang hilang! Kalau bukan karena bapak-bapak sekalian yang mengelola sepak bola dengan bercanda, mana mungkin rekan kami bisa hilang dengan sekelebatan mata!” dakar gawang kayu .

 

Paspampres bergeleser agak sedikit maju menutup ruang gerak Presiden. Antisipasi sewaktu-waktu mendapatkan hal tak mengenakkan. Walau suasana agak menegang, rasa-rasanya hampir tidak mungkin terjadi. Gawang-gawang itu juga memiliki sikap peri kegawangan yang jauh lebih manusia dibandingkan manusia. Mereka juga hormat kepada pengelola negara. Kendati, kejengkelan kadangkalanya muncul tanpa bisa ditebak kapan dan bagaimananya.

Para aktivitis juga tak kalah lantang. Setali tiga uang. Para aktivis yang masing-masing menggenggam dua pengeras suara itu bercuap-cuap agar Presiden segera menuntaskan. Salah seorang aktivis yang masih menempel belek di sela kedua matanya itu tampak lebih lantang daripada lainnya.

 

“Ini kewajiban bapak-bapak sekalian untuk menuntaskan. Waktu kurang sembilan hari terhitung sekarang. Kalau bapak-bapak yang terhormat sekalian tak juga memiliki keseriusan itikad menyelesaikan, maka kami akan…, maka…, maka kami…, kami akan…, akan…,” katanya tergagap. Ia tolah-toleh ke kanan dan kirinya, kebingungan melanjutkan kalimatnya. Tangan kirinya masih mengepal dan meninju angkasa. Seluruh rekannya menepuk jidat, memalang malu.

 

Ringkas kisah, pertemuan antara Presiden beserta rombongan dan Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia beserta aktivis sepak bola berjumpa pertigaan jalan yang sama; mencari gawang hilang bersama-sama. Memutar kaset khas +62.

Para gawang lagi-lagi menemui kenyataan yang tak mengenakkan. Kenyataan yang serba salah bagi pemimpin federasi dan pemerintahan. Namun ini yang harus dihadapi. Semua pihak masih ter-limit pengetahuannya hingga kemampuannya bukannya nggerayangi jithoke dewe malah-malah saling menuding satu sama lain siapa paling bersalah, siapa paling bertanggung jawab.

Ultimatum Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia untuk eksodus dari Indonesia apabila tuntutan mereka tidak terurus bukanlah nonsens belaka. Sebagian dari mereka sudah menyiapkan diri. Beberes. Sebagian lainnya masih menanti kepastian. Dalam tubuh Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia sendiri sebenarnya mulai muncul kerenggangan meskipun skalanya sangat kecil dan masih bisa saling dikondisikan.

 

Para aktivis yang mengawal mereka mencoba memberikan opsi lain. “Wang, Gawang, kenapa kalian, kami, kita, tak memilih menempuh jalan sunyi saja?”

“Maksud bagaimana, Cak?”

“Belajarlah kepada Bonek. Berapa tahun mereka tak bisa melihat Persebaya? Dibunuh paksa federasi. Tapi, apa mereka membelot untuk kasih dukung ke tim lain? Atau ke tim siluman yang menjelma dan mengaku Persebaya itu? Tidak! Mereka memilih jalan yang orang melihatnya saja, tak akan kuat. Apalagi melakukannya. Coba pikirkan lagi.”

“Ini beda konteks lah, Cak!”

“Loh loh loh, beda gimana? Jelas sama.”

“Persebaya ini tim sepak bola, sedangkan kami adalah rahim orgasme bagi mereka yang haus gol. Hajat orang banyak. Kami adalah Pekerja Hasrat Non Komersial.”

“Oh ya tidak begitu. Sama, dong. Kau semua tujuan, Persebaya juga bukan sekadar tim sepak bola. Persebaya adalah pusaka budaya. Sama-sama punya tujuan!”

“Ah, sudahlah, Cak. Apa kata nanti…,” pungkas korlap gawang besi.

 

Indonesia menghitung hari. Dead-line tinggal hitungan jari. Namun atmosfer menyambut hari H dead-line mulai kentara. Di beberapa daerah mulai muncul letupan-letupan kecil. Di beberapa daerah mulai mencuat pergerakan frontal. Sedangkan pusat di Surabaya tak henti-hentinya berkonsolidasi – saling menahan diri. Surabaya berupaya keras untuk mengondisikan berbagai daerah yang juga tak bisa murni disalahkan karena mulai hilang kesabarannya.

Pergerakan sepi dari para gawang ini sungguh merepotkan. Federasi dan pemerintah pasrah. Mereka kehilangan akal. Sukarelawan juga perlahan menjahit bendera putih. Di bawah langit gelap, pemerintah dan federasi berharap agar Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia mengikhlaskan gawang yang hilang itu dan mengurungkan ultimatum mereka untuk eksodus.

 

“Bagaimanapun juga, sepak bola di Indonesia harus terus berjalan, walau, andai, tanpa gawang sekalipun. Atau, mengganti formula gawang. Mungkin dengan batang pohon kelapa. Atau, yasudah tak usah gawang. Yang penting tetap 2×45 menit plus tambahan waktu di setiap babaknya. Hasilnya? Dimusyawarahkan, sebagaimana karakter dari bangsa kita yang mengedepankan bermusyawarah mufakat,” ujar Ratu Tisha dalam sebuah wawancara singkat.

 

Ujaran yang beredar luas di media sosial itu menambah geram para gawang. Puncak kegeraman mereka adalah tak lagi peduli. Mereka fokus pada pergerakan eksodus, meski masih sedikit menimbang usulan dari para aktivis yang menemani pergerakan mereka.

Ini malam terakhir. Aparat keamanan menambah konsentrasi penjagaan di sekitar Alas Malang yang menurut aparat, berpeluang memunculkan gerakan sporadis. Surabaya siaga satu.

Ditengah getir, Azrul Ananda, Presiden Persebaya, yang diam-diam juga menamati keadaan dari stasiun tv dan berita quick-time, tetiba mendapatkan telepon dari Haay. Dengan nada yang memburu, Haay menyuruh Azrul Ananda, bos yang menggajinya, untuk segera menuju ke Gelora Bung Tomo.

 

“Segera bapak. Sebelum terlambat. Sa baru dapat kabar ini.”

“Dapat kabar darimana kamu, Haay?”

“Sudah bapak tak usah banyak cakap. Jalan saja….”

 

Azrul agak menengok gadget yang menempel di daun telinga kirinya, terperanjat dengan Haay, anak buah yang memerintah ia – atasannya. Ia menggentaskan telepon Haay. Tanpa ba-bi-bu, Azrul Ananada bertolak menuju Gelora Bung Tomo dengan lebih dulu berkoordinasi dengan semua yang terlibat.

Gelora Bung Tomo gulita. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Listrik tak segera bisa dinyalakan. Terang hanya bersumber dari pantulan bulan, kelip bintang, lampu senter, hp dan kendaraan taktis yang disorotkan ke arah dalam lapangan.

Yang dicari-cari itu tampak terhuyung-huyung menggeret-geret salah satu tiangnya menuju titik dimana ia berdiri hampir tiga bulan di sore yang lalu. Cara berjalannya tampak acak-kadut. Gawang hilang yang lama dicari oleh makhluk se-Indonesia Raya itu muncul secara misterius tepat di malam terakhir tenggat ultimatum dari Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia.

Ada haru. Ada tangis rindu. Ada air mata syukur. Ada teriakan girang. Ada bahagia lapang. Ada gelak ceria.

Aparat keamanan, Walikota Surabaya, Presiden Persebaya, masyarakat sekitar dan Paguyuban Gawang Seluruh Indonesia serta para aktivis menghimpun di tengah malam Gelora Bung Tomo. Seluruh gawang yang terguyub menyambut dengan pelukan solidaritas kepada gawang yang selama ini telah hilang entah kemana, gawang yang berbulan-bulan ditelan oleh ketidakpahaman.

 

“Kau darimana, sobat? Kami sungguhpun merindukanmu,” seru tiang kayu kepadanya.

“Aku diculik, kawan,” singkatnya.

“Hah? Siapa yang menculikmu? Bilang! Bilang! Bilang!”

Dengan nada gemetaran, gawang yang hilang berujar, “Aku diculik oleh kegagal-totalan pengelolaan, aku dibungkam oleh keegoisan pribadi dan golongan, aku disekap oleh kesembronoan keputusan, aku disandera oleh kefakiran pengurus yang lapar oleh kekenyangan, aku….”

 

Kemudian hening.

 

Penulis Min Turobil Aqdam, Tadabbur Cinta & Gadis Pattani Dalam Hati, bagian dari Cak & Ning Surabaya 2018, Bondo Nekat. Bisa disapa di @rifihadju