Surabaya—BangbangWetan edisi Januari (10/1) mengusung tema “Mengapa Harus Mahal?” diselenggarakan di Unesa (Universitas Negeri Surabaya) kampus Ketintang, Surabaya. Maiyahan yang disuguhkan oleh Mbah Nun, Kiai Muzzammil, Pak Suko Widodo, Bu Marhamah, Pak Aljufri, Mas Seno Bagaskoro, dan Pak Zaenal Arif berlangsung ramai. Jamaah tidak kehilangan antusiasmenya untuk ngangsu ilmu meskipun hujan dan dingin ada di antara mereka.

Selang menunggu guru-guru besar mewedar ilmunya, jamaah dihibur oleh band reggae asal Surabaya, Tiga Warna Musik. Para jamaah sangat terhibur, apalagi saat mereka membawakan lagu yang berlirik, “Man, koen digawe Bapak ambek Ibukmu, Man”. Entah sadar atau tidak, MAN juga inisial nama Mbah Nun, Muhammad Ainun Nadjib. Saat Mbah sudah di atas panggung, para jamaah mengekspresikan euforia apresiasinya dengan menyebut-nyebut nama Man berkali-kali. Simbah sempat bingung dan ternyata mempertanyakan, “Kenopo arek-arek iki celuk-celuk jenengku (inisial)?”

 

BangbangWetan Januari 2020

 

Selain Tiga Warna Musik, ada Dik Prabu yang memainkan drum dan membaca puisi serta Dik Damar yang menghibur dengan gesekan biola lembutnya. Anak-anak usia Sekolah Dasar itu menunjukkan bakatnya langsung di hadapan Mbah Nun dan jamaah Maiyah meskipun waktu sudah sangat larut bagi anak-anak.

Tema “Mengapa Harus Mahal?” sangat unik untuk didiskusikan bersama. Pendidikan mahal dan terjangkau dianalogikan langsung oleh subjek yang sangat dekat dengan pendidikan, yakni Pak Suko dan Kiai Muzzammil. Pak Suko yang notabene lulusan dari institusi (buatan orang Barat) diibatkan dengan kemahalan itu sendiri dan Kiai Muzzammil yang merupakan kiai dari pondok pesantren (buatan orang Timur, sebelum Belanda dkk. datang ke Indonesia) diibaratkan dengan keterjangkauan untuk ngangsu ilmu. Diskusi berlangsung sangat seru dalam sahut-menyahuti perspektif. Sementara itu, jamaah tertawa seolah sangat menikmati kegaduhan yang terjadi di atas panggung.

 

“Mbah Nun mengingatkan kepada kita agar selalu mengaktivasi muroja’ah yang maknanya belajar kembali, menghitung kembali, atau memahami kembali. Kita tidak boleh percaya atas apa saja yang sudah kita pahami saat ini karena bisa jadi kebenaran yang kita yakini hari ini berbeda dengan kebenaran yang kita yakini pada esoknya. Sebagai manusia, kita harus terus mencari sampai kita menemukan kebenaran yang sejati.”

 

Tuhan menciptakan Nur (cahaya). Cahaya bertransformasi menjadi malaikat, planet, tata surya dengan asas kepatuhan dan ketaatan. Endapan cahaya yang tertinggal itu dibuat Tuhan untuk menciptakan Jin dan Banujan (keturunan Jin) bersama dengan asas kebebasan dan kemerdekaan. Lalu, Tuhan menyeimbangkan kedua asas tersebut, kepatuhan, dan kebebasan, dengan menciptakan Adam (manusia). Manusia ada di antara kedua asas tersebut. Agar tercapainya keseimbangan, Tuhan membebaskan manusia untuk bertindak dan berlaku apa saja, asal tahu batasannya.

Misal, pada asas kepatuhan. Mbah Nun sering memberi contoh tentang azan. Azan yang dikumandangkan harus sesuai dengan makhraj-nya atau lafaznya dan tajwidnya. Tidak diharuskan pakai lagu. Toh, sebenarnya tidak ada lagu Arab. Yang ada lagu Parsi. Ini pun disebabkan oleh banyaknya transformasi, dari Parsi, Mesir, Turki, bahkan Afrika. Kata Simbah di zaman Sayyidina Umar, banyak pegawai bangunan yang melantunkan lagu daerah masing-masing ketika bekerja. Karena lantunannya terdengar enak, akhirnya diterapkan untuk seruan azan.

Lain lagi dengan asas kebebasan. Contoh yang diberikan Simbah adalah kebebasan berpikir dan berpendapat. Setiap manusia dianugerahi akal oleh Tuhan sehingga suatu anugerah akal difungsikan untuk mengakali (maksudnya mengkreativitasi) sesuatu. Seperti, pohon yang jika dipikirkan secara akal akan bisa dijadikan meja, kursi, triplek, rak buku, kertas, atau tisu.

 

Suasana BangbangWetan Januari 2020

 

Tentang “Mengapa Harus Mahal?”, Mbah Nun menutup dan menyimpulkan bahwa semua saling melengkapi. Sistem pendidikan terbagi menjadi dua generasi, yakni generasi kontinuitas atau generasi adopsi. Generasi Kontinuitas adalah generasi pewaris untuk melanjutkan sistem pendidikan leluhur; Mataram, Majapahit, Sriwijaya, Kesultanan Ternate, Kerajaan Klungkung, Denpasar, dan Kutai. Sekarang kita kenal dengan sistem pondok pesantren.

Generasi adopsi adalah generasi setelah kedatangan Belanda itu, yang mampu membuat nama Indonesia dengan segala kemajuan dan teknologi yang diwariskan. Kita boleh mengadopsi apa-apa yang baik untuk kebaikan bersama. Misalnya, teknologi kereta api, mobil, gawai (hp), bahkan internet yang bisa memudahkan komunikasi antarsesama.

Hendak mewarisi dan melanjutkan generasi kontinuitas atau generasi adopsi atau keduanya, terserah. Intinya, bergantung pada pendayagunaan kita sebagai kholifah di bumi. Pokoknya, jangan sampai merusak dunia yang sudah indah ini.

 

[S. Haryani C. Tim Reportase BangbangWetan]