Sinau Wayang #4

Oleh : Rahadian Asparagus

 

 

Ini cerita tentang seorang pemuda bernama Wisangkantha. Pemuda yang lahir dan tumbuh di negeri berratus nusa. Ia adalah saudara kembar Wisanggeni, putra dari Arjuna dengan Dewi Dresnala. Berbeda dengan saudara kembarnya, yang sangat senang berpetualang, bersenda gurau dan punya hobi beradu jotos, Wisangkantha lebih memilih hidup seorang diri. Dia tinggal di sebuah pulau tak bertuan, sebatang kara, namun bahagia. Kebahagiaannya, bukan tanpa sebab. Wisangkantha merasa nyaman saat tiada orang lain disisinya. Dia alergi dengan hiruk pikuk manusia yang saling membenci, nyinyir, dan menumpahkan kesombongan serta keegoisan diri layaknya membalikkan telapak tangan.

 

Wisangkantha adalah pemuda yang terhitung lugu. Awalnya dia tergolong ringan tangan, menebar kebaikan dan murah senyum terhadap sesama, hampir mirip dengan saudara kembarnya, Wisanggeni. Namun, lambat laun, dia menyadari bahwa hati malaikatnya tergerus oleh kezaliman, kemunafikan, kebencian yang dilakukan orang lain, bukan kepada dirinya, namun kepada khalayak.

 

Wisangkantha memperhatikan bahwa zaman telah berubah. Dulu raja dan ratu di elu-elukan, sekarang disindir dan dimaki. Sebelumnya, bangsawan dan cendekiawan disegani, sekarang ditelanjangi. Pernah ada masa dimana penjaga istana ditakuti dan dihormati, saat ini mereka sudah terbeli. Saat yang sama, rakyat berdikari membangun nagari, sekarang senang sekali bernyanyi dan menari tak tahu diri.

 

Atmosfir kebencian menyelimuti. Sulit membedakan mana sia-sia dengan hal yang berarti.  Yang lebih parah lagi dengki, iri dan benci merasuk dalam ke bagian inti orang per orang. Mereka yang seharusnya dipenuhi cinta karena ikatan darah dan saudara, justru saling memaki. Inilah sakit hati yang hakiki. Hidup yang diselimuti warna khianat berbalut benci.

 

Wisangkantha lelah, melihat kedamaian rusak oleh kata-kata. Ya, cuma “kata-kata“, senjata paling ampuh dan mandraguna untuk menyebarkan kebencian dan kemunafikan. Kebaikan sesekali muncul sesaat. Itupun karena tenaga  kepentingan dibaliknya. Kemurnian tinggal hanya ilusi. Bahasa yang disepakati hanya satu, bahasa tendensi.

 

Wisangkantha tidak membenci manusia lain, dia percaya pada dasarnya manusia baik dan berbudi luhur. Dia hanya tidak percaya iblis yang ada di dalam diri. Wisangkantha sadar sebesar apapun perjuangannya, akan sulit mengembalikan kedamaian yang hakiki. Bahkan terasa mustahil menghapus kebencian disetiap pribadi.

 

Wisangkantha yang naif ini bukannya tidak peduli, dia hanya ingin melihat sejauh mana negeri dongeng para pembenci ini bertahan. Memandang kosong dan bergumam seorang diri meski pada akhirnya semua khalayak menjauhinya. Anak ksatria Pandawa yang sungguh introvert dan terbiasa di ruang sunyi yang ia bangun sendiri itu kian jauh terdampar ke palung dalam samudera tiada berkawan.

 

 

—tancep kayon—

 

Penulis adalah lulusan teknik informatika yang lebih asyik dengan pencarian makna di jagad pakeliran. Hari-harinya banyak dihabiskan bersama keluarga dan kawan-kawan di Majelis Maiyah Balitar. Bisa dihubungi melalui akun FB: aspaholic rahadian dan IG @aspaholic.