Metaforatma

Guyub Rukun dan Keikhlasan Bersama di BangbangWetan

Oleh: Galih Indra Pratama

(Untuk 12 tahun BangbangWetan)

Alhamdulillah hirabbil ‘alamin, berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, pada bulan September 2018 ini merupakan momentum yang spesial bagi Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan. Di bulan ini, forum Maiyah BangbangWetan terbentuk dan sudah berlangsung selama 12 tahun. Bukan perjalanan yang mudah dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Tentunya sangat membutuhkan perjuangan, kerja sama, dan guyub rukun antara penggiat maupun jamaah Maiyah BangbangWetan untuk nyengkuyung acara setiap bulannya.

 

Forum BangbangWetan setiap bulan tidak selalu dilaksanakan di Balai Pemuda Surabaya, namun terkadang di Pendopo Cak Durasim yang berada di Genteng Kali, Surabaya. Memang belum tentu setiap bulan saya bisa hadir di BangbangWetan. Dahulu pertama kali saya bisa hadir di BangbangWetan saat 11 Tahun BangbangWetan. Saat itu acara dilaksanakan di Halaman TVRI Surabaya. Malam itu acara penuh kegembiraan, selain ada Mbah Nun dan KiaiKanjeng, para Marja’ Maiyah juga hadir di sana. Suatu rezeki besar bagi saya saat itu, bisa bertemu langsung dan bertatap muka dengan para Marja’ Maiyah, yaitu Mbah Nun, Cak Fuad, dan Syaikh Kamba. Apalagi saya juga bisa bersilaturahmi dengan penggiat BangbangWetan dan jamaah Maiyah dari berbagai wilayah.

 

Setelah acara Milad ke-11 BangbangWetan, saya kembali diperjalankan ke forum tersebut pada bulan Juli  2017 saat milad Cak Fuad, bulan November 2017, dan bulan Mei 2018 saat milad 65 Tahun Cak Nun. Pada saat itu forum BangbangWetan digabung bersama Majelis Ilmu Padhangmbulan. Suasana kegembiraan para Jamaah Maiyah sangat jelas sekali, selain mereka datang dari berbagai wilayah, mereka juga tidak datang sebagai suatu golongan atau kelompok. Duduk mereka menyebar, ada yang berada di dekat panggung, ada yang di dekat layar lebar, dan ada juga yang memilih dekat sound atau paling belakang sendiri. Sangat terasa sekali militansi mereka para penggiat dari berbagai simpul Maiyah dan Jamaah Maiyah, meski setelah selesai acara mereka semua akan kembali menempuh perjalanan berkilo-kilometer untuk sampai ke tempat tinggal masing-masing.

 

Bagi saya sebagai Jamaah Maiyah Gambang Syafaat dan berbagai tempat, saat melihat di berbagai forum, yang dilakukan para penggiat tentu bukan perjalanan dan pengorbanan waktu yang mudah untuk selalu istiqomah dalam mempersiapkan semuanya–seperti mempersiapkan mukadimah dan berita reportase untuk dipersembahkan bagi JM lain–. Belum lagi membuat poster (pamflet), menyiapkan sound system, karpet, peralatan, dan lain sebagainya. Mungkin bagi saya sendiri dan penggiat lain tidak mungkin kalau hanya mengandalkan kemampuan seseorang saja, semua harus membutuhkan guyub rukun dan kerja sama antara penggiat dengan yang lain untuk menyiapkan semuanya.

 

Semua jamaah ataupun penggiat saling bantu-membantu mempersiapkan semuanya di forum Maiyahan, tidak ada perintah atau paksaan dari salah seseorang atau yang lain, semua diakukan atas dasar keikhlasan bersama membantu menyiapkan peralatan dan lain-lain. Kerja sama yang mereka lakukan memang begitu terlihat sekali, dari bakda Ashar hingga acara berakhir. Tentu niat keikhlasan kita juga selalu menghadirkan Allah dan Rasulallah Saw di dalam hati kita masing-masing, atas keikhlasan niat baik kita sudah pasti Allah akan menolong. Dengan niat keihklasan kepada Allah kita semua, yang tadinya terasa berat melakukan suatu hal, insyaallah semua akan menjadi ringan. Pekerjaan yang tadinya terasa berat dan melelahkan tentu akan berubah menjadi kegembiraan.

 

Yang saya lihat dari lokasi penyelenggaraan forum BangbangWetan adalah adanya kesamaan dengan Gambang Syafaat dan Kenduri Cinta. Selain kita mendengarkan suara kebisingan kota di malam hari, kita juga menikmati suara sirine, klakson, dan kebisingan lainnya. Namun, hal tersebut tidak menjadikan penghalang bagi para narasumber, penggiat, dan Jamaah Maiyah. Hal tersebut hanya dijadikan sebagai iklan di telinga mereka semua. Bisa jadi mereka melakukannya karena niat keikhlasannya masing-masing, sehingga hal itu tidak dijadikan sebagai masalah.

 

Tidak perlu bukti dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, karena para penggiat tetap istiqomah sampai saat ini. Di forum manapun setahu saya para penggiat dan Jamaah Maiyah, mereka menggunakan Maiyahan tidak hanya untuk menimba ilmu, namun juga menggunakan dan meluangkan waktu untuk silaturahmi. Mereka pun juga langsung akrab, seperti layaknya saudara yang sudah bertahun-tahun. Memang setiap simpul Maiyah ataupun lingkar Maiyah punya keistimewaan sendiri, yang pasti mereka semua melakukannya untuk mempersaudarakan jamaah satu dengan yang lain. Tidak untuk berdebat antar jamaah, namun kita semua diajak untuk Sinau Bareng.

 

Guyub rukun mereka selalu hadir di saat forum tersebut akan dimulai. Mereka semua bertauhid, manunggal, nyawiji dalam rasa cinta kepada Allah dan berhimpun menjadi Al-Mutahabbina Fillah, hamba-hamba Allah yang saling mencintai karena Allah, meski tidak ada hubungan darah sekalipun. Padahal dahulu domisili mereka berbeda-beda, ada yang di Jombang, Mojokerto, Lamongan, Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya. Namun, saat forum akan dilaksanakan mereka semua berkumpul menyatu di BangbangWetan.

 

BangbangWetan adalah Majelis Masyarakat Maiyah yang berada di Surabaya. Forum ini dilaksanakan setelah Majelis Ilmu Padhangmbulan berlangsung. Setiap bulan mereka berkumpul dan bekerja sama seperti halnya yang sudah dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya yang sudah berjalan 12 tahun lamanya. Setelah selesai acara, mereka semua juga membersihkan dan mengembalikan peralatannya lagi seperti sedia kala. Peristiwa dan kejadian seperti tadi memang murni keikhlasan mereka hanya dipersembahkan untuk Jamaah Maiyah yang hadir, tidak untuk unjuk gigi satu sama yang lain, tapi memang mereka semua diperjalankan oleh Allah Swt.

 

Pada 28 September nanti, forum BangbangWetan akan melaksanakan Milad ke-12. Pada momentum yang spesial ini, sebagai Jamaah Maiyah kita bukannya memberi bingkisan atau kado pada seseorang yang sedang merayakan ulang tahun. Namun malah sebaliknya, kita malah diberi kado berupa ilmu-ilmu yang tentunya akan kita peroleh saat hadir di Majelis Masyarakat Maiyah Bangbangwetan. Setiap hadir kita selalu mendapatkan ilmu yang belum tentu kita dapatkan di forum-forum majelis lain.

 

Narasumber yang hadir selalu orang yang tidak kita duga-duga. Memang Mbah Nun tidak selalu hadir di forum tersebut, namun selalu hadir di dalam hati mereka masing-masing. Kadang setiap Mbah Nun hadir di sana bukan semata-mata karena dihadirkan oleh para penggiat, melainkan kerinduan Mbah Nun sendiri untuk untuk hadir dan bertemu para kekasih Allah yang berada di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

 

Semoga para jamaah dan penggiat bukan hanya menggunakan forum ini untuk menimba ilmu, namun juga untuk menjalin persaudaraan Maiyah sampai kapanpun. Semoga setelah menempuh perjalanan selama 12 tahun, BangbangWetan tetap selalu istiqomah dalam menjalankan perannya dan guyub rukun ini selalu terjaga di bulan dan tahun berikutnya. Amin amin ya rabbal ‘alamin.

 

Jepara, 15 September 2018

 

Galih Indra Pratama. Penulis merupakan Jamaah Maiyah Gambang Syafaat dan berbagai tempat. Beraktivitas sehari-hari di bidang audio mobil. Bisa disapa melalui akun twitter @gipGalih_Indra