Oleh : J.Rosyidi

 

“Kalau nanti Adek selesai hafalan Juz Amma , Nanti ayah belikan sepeda.”

“Kalau Kakak nanti rangking lagi, nanti Bunda belikan handphone baru.”

Ayah bunda pernah melakukan hal semisal? Terdengar seperti memberikan hadiah pada anak bukan? Lagian, apa salahnya bukan memberi barang karena anak anak berprestasi?

Benar! Tidak ada yang salah ketika orang tua memberikan hadiah kepada anak. Bahkan nabi berpesan, “Tahaadu Tahaabu.” Saling memberikanlah hadiah, sehingga saling timbul rasa sayang. Terlebih rasa sayang antara anak dan orang tua adalah sesuatu yang terpuji bukan? Sehingga dengan adanya saling sayang itulah diharapkan terwujudnya baiti jannati. Rumahku adalah surgaku.

Tapi sebentar, kita -sebagai orang tua- seringkali tidak bisa membedakan apakah pemberian kita itu adalah benar benar hadiah atau malah sogokan bagi anak -yang tentu saja malah berakibat buruk buat tumbuh kembang anak.

Pemberian yang kita lakukan adalah sogokan -bukan hadiah- apabila kita mengharapkan adanya perilaku tertentu dari anak-anak kita. Baik itu sebelum ataupun sesudah pemberian barang. Pemberian (sogokan) itu bertujuan untuk memanipulasi perilaku anak. Agar kita bisa mengontrol perilaku anak. Bukan karena pemberian yang merupakan tanda cinta.

Sogokan seringkali dilakukan dengan prasyarat tertentu. Prasyarat itu bisa berupa pencapaian-pencapaian akademik. Atau bahkan sekedar kepatuhan atau perilaku perilaku tertentu. Coba dipikirkan kembali, sebenarnya yang kita lakukan selama ini merupakan hadiah atau sogokan?

Disisi lainnya, hadiah sifatnya tanpa prasyarat. Hadiah pun tidak melulu berupa barang. Bisa dengan kata kata dukungan ataupun perhatian perhatian. Atau bisa berupa pelukan atau sentuhan sentuhan yang bermakna. Keberadaan kita yang “selalu ada” ketika anak anak membutuhkan adalah hadiah yang istimewa buat anak.

Kalau toh kemudian kita memberikan hadiah berupa barang kepada anak. Pasti kan bahwa barang tersebut memang kebutuhan anak. Bukan semata yang diinginkan anak. Meski adakalanya keinginan anak sesuai yang dibutuhkan.

Membedakan keinginan dan kebutuhan ini menjadi penting untuk diajarkan dan dibiasakan sehingga kedepan anak bisa melakukan klasifikasi yang baik terhadap apa yang dibutuhkannya. Masalahnya orang tua seringkali tidak mencontohkan demikian. Betapa banyak barang barang di rumah yang sebenarnya tidak kita butuhkan? Mubadzir bukan?

Sogokan akan memberikan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Anak akan kehilangan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab. Karena anak akan melihat sebuah perilaku bukan pada fungsi atau esensinya. Misal ketika anak terbiasa diberikan sogokan karena membersihkan mainannya, maka ia tidak melihat betapa esensi rapi dan bersih itu akan berguna buat kehidupannya.

Sogokan akan membuat anak tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Sogokan akan melahirkan anak-anak yang tidak disiplin. Dan seterusnya.

Yuk, mulai belajar memberikan hadiah yang sebenarnya buat ananda tercinta. Bukanlagi sebagai sogokan.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi