Berangkat dari keprihatinan terhadap semakin rusaknya alam di sekitar kita yang ditandai dengan semakin banyaknya banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, pembalakan liar, sampah yang semakin menggunung, dll, Tim Tema BangbangWetan merasa perlu untuk untuk mengangkat fenomena tersebut ke forum sebagai pangeling apakah sudah benarkah sikap kita kepada saudara tua (alam) selama ini. Atau jangan-jangan selama ini kita hanya menganggap dan memperlakukan alam sebagai objek keserakahan belaka.

Maka, pada Minggu, 9 Februari 2020, Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan diadakan di halaman TVRI Jawa Timur, Surabaya, dengan mengangkat tema “Jalma Mara Jalma Cidra”. Tema tersebut dipilih dengan harapan bahwa hadirnya manusia (jalma) di muka bumi ini (mara) benar-benar membawa rahmat bagi semesta alam, bukan justru mencederai saudara tua kita. Toh, ketidakseimbangan dan kerusakan alam pada akhirnya justru akan membuat manusia sendiri yang menderita.

Mbak Resti, mahasiswi Unair, malam itu turut serta menyapa jamaah dengan membawakan nomor “Sugeng Dalu” sebelum Mas Yasin dan Mbak Tama menyapa jamaah untuk mengawali diskusi tentang tema. Mas Yasin mengutip surat Ar-Rum ayat 41 tentang terjadinya kerusakan di darat dan laut yang disebabkan oleh ulah tangan manusia. Mas Yasin mengingatkan bahwa pentingnya kepedulian kita terhadap tata kelola sampah. Kebanyakan dari kita kurang perhatian kepada sampah. Sehingga sampah yang kita anggap remeh dalam kesadaran hidup, malah menjadi salah satu sebab utama terjadinya banjir, yang menggenangi di beberapa tempat di Surabaya beberapa waktu yang lalu.

 

Jamaah Maiyah

Mas Imam Muttaqin, salah satu jamaah yang berasal dari Madura, mengungkapkan rasa syukur karena dipertemukan dengan Mbah Nun melalui salah satu channel Maiyahan di youtube. Malam itu, dia datang langsung untuk pertama kalinya dan merasakan kegembiraan di BangbangWetan karena diterima dengan baik oleh jamaah Maiyah yang lain. Dari pertemuannya dengan Maiyah, ia menemukan tujuan serta ketenangan hidup serta tidak mudah menyalahkan orang lain.

Mbak Vena, jamaah asal Malang yang juga datang pertama kali di BangbangWetan, membagikan pengetahuannya tentang plastik. Menurutnya tekonologi tas kresek plastik pada mulanya diciptakan agar kita menyelamatkan bumi dengan cukup menggunakan satu plastik yang bisa dipergunakan terus-menerus ketimbang kantong kertas yang mudah rusak. Namun, kini dampak yang dirasakan justru sebaliknya. Jadi, kita perlu mengoreksi kembali perspektif mengenai tas kresek selama ini, sehingga lebik bijak bersikap dalam pengelolaan tas kresek dalam kehidupan sehari-hari.

 

Suasana Bangbangwetan Februari 2020

 

Selanjutnya Mbak Resti menyambut rawuh-nya Mbah Nun, Mas Sabrang, Kyai Muzzammil, Mas Karim dan Pak Zainal (PENS) malam itu dengan membawakan beberapa nomor yakni Hanya Rindu, Celengan Rindu, serta dipungkasi dengan syair Abu Nawas, Ilahilas. Mewakili suara hati jamaah yang selalu rindu akan kehadiran Mbah Nun, Mas Sabrang, dan narasumber lain untuk membersamai kita pada malam itu.

Mas Karim, jamaah Maiyah dari simpul Maiyah Mafaza (Eropa), menyampaikan salam mutahabbina fillah dari simpul Maiyah Mafaza kepada semua jamaah Maiyah BangbangWetan yang hadir. Beliau menceritakan bahwa anaknya sedang melakukan sebuah penelitian dengan memasukkan nasi ke dalam tiga stoples. Masing-masing stoples disertai tiga emotikon yakni marah, sedih, dan bahagia, serta disimpan selama tiga hari. Setelah tiga hari, nasi yang disertai emotikon marah menghasilkan nasi yang busuk, bau, dan menghitam. Nasi yang disertai emotikon sedih menghasilkan nasi yang berubah menjadi busuk dan bau. Nasi ketiga yang disertai emotikon bahagia hanya menghasilkan nasi yang berubah menjadi busuk saja. Dalam penelitian tersebut Mas Karim menyimpulkan bahwa jika kita berperilaku baik kepada siapapun (termasuk alam) akan berdampak baik juga terhadap alam dan sekitarnya.

 

Mbah Nun

Mbah Nun memantik pembahasan dengan menyampaikan bahwa sebenarnya kita tidak pernah mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan, karena kita kualat kepada Kanjeng Nabi. Salah satu cara untuk mengurangi kualat adalah berdamai kepada Rasulullah. Maka, mari kita membawa Islam kepada siapapun dengan cara yang bijaksana. Yang kita cari selama ini adalah supaya aman, agar aman kita harus menjadi mukmin dan amanah.

Mbah Nun–yang diimbuhi oleh Kyai Muzammil–menjelaskan bahwa amirul mukminin artinya “yang memimpin proses pengamanan”. Yang disebut iman kepada Allah adalah mengamankan diri di hadapan Allah. Dan maksud Allah menciptakan manusia adalah karena fungsinya sebagai khalifah yang mengamankan. Saat ini umat Islam sedang terhalangi karena perilaku orang Islam sendiri, dan kita di Maiyah sendiri sedang terasing oleh umat kita (Islam) sendiri. Mbah Nun kembali mengingatkan kita bahwa hidup itu harus saling mengamankan, karena Islam sejak pasal pertama sudah mengamankan. Beliau menjelaskan bahwa arti dari cidra sendiri yakni terluka. Jalma berarti ciptaan yang berupa makhluk. Islam sendiri datang dengan asing dan akan kembali dengan asing (ghuroba). Maka beruntunglah orang-orang yang sedang terasingkan.

 

Mbah Nun saat membersamai Bangbangwetan Februari 2020

 

Mbah Nun menegaskan bahwa beliau tidak pernah mencita-citakan apapun kepada anaknya. Yang penting baik kepada Allah dan baik kepada sesama manusia. Nanti tinggal Allah yang menuntun putra-putrinya untuk menentukan yang terbaik dalam diri anak beliau. Malam itu jamaah Maiyah dibekali Mbah Nun bahwa jika kita mengawali tidur dengan surah Al-Fatihah, maka akan ditemani oleh Al-Fatihah-Nya Allah. Sehingga tidurmu adalah Al-Fatihah-Nya Allah.

Beliau mengingatkan kembali bahwa apa yang kita lakukan dalam bermaiyah malam itu, merupakan akibat masa depan. Maka jangan melakukan sesuatu yang berakibat kemudaratan untuk masa depan. Maka lakukan segala sesuatu yang bermanfaat untuk masa depan. Perlu menyimulasi dari belakang dan ke depan untuk menentukan deklarasi kita dalam baik dan buruk.

 

Mas Sabrang

Kenapa orang terasing bisa menguntungkan, karena yang minoritas lebih mempunyai naluri persaudaraan yang lebih kuat. Beruntunglah orang gharib, sebab lebih waspada dan mempunyai disiplin jarak dalam menilai sesuatu. Saat ini kebanyakan manusia memandang orang lain dari replikanya. Jika yang dinilai adalah manfaatnya orang-orang akan berlomba untuk menjadi manfaat satu sama lain.

 

Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh

 

Mas Sabrang menambahkan bahwa kita harus memelihara kenakalan. Sebab kenakalan membawa kita kepada kecerdasan. Kecerdasan adalah kenakalan yang positif. Kecerdasan adalah cara untuk menjadi mujtahid. Mujtahid bertugas menguak rahasia. Kalau kita konsentrasi pada satu generasi saja, kita tidak akan memecahkan masalah. Karena masalah datang dari berbagai generasi. Cara menyelesaikan masalah adalah menstrukturkan regenerasi untuk menemukan cara yang terbaik dalam memecahkan masalah. Kita harus menemukan cara untuk menemukan generasi terbaik untuk memecahkan masalah. Agar kita mnemukan kualitas yang terbaik untuk mengaplikasi asas manfaat pada diri kita masing-masing.

 

Mbah Nun memungkasi sinau malam ini dengan menceritakan proses produksi film yang berjudul TETA (Terima kasih Emak, Terima kasih Abah) yang salah satu pemeran serta produsernya adalah Bu Novia. Film TETA sendiri akan tayang pada akhir Maret. Tugas kita bersama adalah menonton hasil karya ibu kita. Sebab film tersebut menceritakan tentang keluarga sehari-hari, tidak ada kemewahan atau selebritas di dalamnya.

Dipungkasi dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Kyai Muzzammil. Wujud penyerahan diri kita kepada Allah agar bersedia menghidayahi kami kemantapan dalam menemukan pedoman hidup yang output-nya adalah kebermanfaatan untuk satu sama lain.

 

[SDE. Tim Reportase BangbangWetan]