Oleh: Amin Ungsaka

 

“Dalam hidup saya selalu stand by: bersiap melakukan apa saja, urun kesetiaan dan urun kerajinan. Hidup kalau tidak sregep, lebih baik mati saja.”, begitulah kira-kira cerita pengalaman Mbah Nun yang menancap dalam ingatan sekaligus menjadi bekal perjalanan pulang saya dari rutinan Sastra Liman.

Sastra Liman yang diselenggarakan Minggu, 5 Januari 2020 kemarin, menjadi momentum launching Majalah Sabana edisi ke-11 yang sangat ditunggu-tunggu oleh pecinta dan penikmat sastra. Selain Mbah Nun, turut membersamai hadirin para sepuh yang juga alumni Persada Studi Klub. Diantaranya  Pak Imam Budhi Santoso, Pak Mustofa W Hasyiem, Pak Budi Sarjono. Hadir pula beberapa pegiat sastra Jogja.

Suasana sastra liman di Kadipiro, Yogyakarta

 

Kutipan cerita pengalaman dari Mbah Nun di awal  menurut saya, bak air telaga  yang mengobati haus berkepanjangan. Satu penyebabnya adalah arena pada hari-hari ini, saya sedang diliputi kegelisahan  dalam menggali fadilah diri. Di samping itu ada kesadaran bahwa yang paling berat menurut saya untuk diperangi adalah rasa malas.

Mbah Nun langsung cespleng menyodorkan jawaban atas kegelisahan saya untuk memerangi rasa malas itu dengan selalu memposisikan diri stand by. Bersedia rajin dan setia melakukan apa saja jika suatu saat dibutuhkan.

Sampai detik ini saya masih meraba bahwa, menulis adalah salah satu fadilah yang paling mungkin untuk saya gali terus-menerus. Didalam proses menggali potensi tersebut, rasa malas menulislah yang mejadi batu sandungan terbesar. Dari yang semestinya dapat saya ceritakan dalam tulisan malah tertunda dan bahkan sampai lupa.

Mbah Nun seakan menggertak jiwa saya untuk bangun memerangi rasa malas yang meliputi diri  untuk bangkit dan sregep menulis. Cara sederhananya dengan mencoba istiqomah menuliskan segala sesuatu sebelum tidur dan ketika bangun tidur. Kebiasaan itu akan membentuk pola intensitas hidup kita untuk lebih giat selain juga dapat meningkatkan ragam khasanah tulisan dan perbendaharaan kata.

Secara teknis kita sedang membiasakan diri untuk lebih kuat kalau ukurannya ketahanan tubuh dan mental, atau siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan perannya untuk melakukan tugas karena sudah terpola mentalitasnya. Mentalitas ini penting agar tetap seimbang dalam menjalani peran dan tugas sesuai apa yang kebutuhan zaman.

Menurut saya idiom hidup sregep itu bukan sekedar guyonan untuk menurunkan tingkat ketegangan kita. Sebaliknya, hidup sregep  benar-benar akan membentuk pola keseimbangan agar selalu siap menjalani tugas apa, kapan dan dimanapun. Secara sarkastik,  lawan kata dari hidup tidak sregep adalah mati saja.

Bila dipikir lebih jauh, menjalani hidup dengan rasa malas sama halnya  dengan menabung kematian sejak dini. Kematian itu tidak hanya berarti jasad, melainkan mental, jiwa, akal, dan nurani. Mereka perlahan akan mati karena tidak bekerja sebagai mana mestinya. Bagaikan mesin mobil yang lebih sering dibiarkan diam tak digunakan atau sekedar dipanasi tanpa pernah digunakan untuk jalan sama saja nyicil kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan kerusakan karena rutin pemakaian.

Hal ini terkait juga dengan apa yang diutamakan dalam Islam yakni mentalitas sregep  dan menjalankan hal baik apa saja yang akan menjadikan kita bermanfaat. Salah satu yang dihamparkan dalam Islam adalah menjalani rukun Islam dengan beban sifat wajib. Wajib dalam Islam tidak berarti mengekang kemerdekaan manusia dalam memilih, melainkan dengan sengaja ‘memaksa’ manusia untuk mempekerjakan diri secara utuh dalam menjalani ritme kehidupan.

Misalnya pada rukun sholat. Dalam sehari terdapat lima waktu dimana kita harus mampu mengusir rasa malas. Keberhasilan menegakkan  rutinitas itu akan menumbuhkan banyak manfaat terhadap utamanya diri kita sendiri.  Perilaku sregep akan sangat bermanfaat bagi hidup kita, diantaranya: kesigapan mengatasi masalah, ketepatan  menjalani tugas, rajin, dan setia pada setiap apa yang telah diikrarkan.

Mau mencoba ? Bersama saya, ayo kita laksanakan !

 

Giwangan-Surabaya, 6 Januari 2020