Prolog

Higher Order Logic – Prolog Majelis Ilmu BangbangWetan Juni 2022

Oleh: Tim Tema BangbangWetan

““La’allakum tatafakkarun” [1] (Al-Baqarah: 219, 266). “Afala tatafakkarun” [2] (Al-An’am: 50). “Afala ta’qilun” [3] (Al-Baqarah: 44, 76. Ali ‘Imron: 65. Al-An’am: 32). “La’allakum ta’qilun” [4] (Al-Baqarah: 73, 242. Al-An’am: 151). “In kuntum ta’qilun” [5] (Ali ‘Imron: 118). Dan banyak lagi Allah menekan-nekankan penggunaan akal dan logika berpikir. Jangankan menafsirkan Al-Qur`an, menyeberang jembatan sebatang bambu saja tidak logis kalau tidak hati-hati. Jadi jangan terburu menyalahkan orang yang bertanya: kenapa kehati-hatian tafsir harus memberikan ancaman terhadap logika?” [Daur-II.098, Tafsir Logika Kehati-hatian]

Pada salah satu tayangan di kanal youtube official “Damar Panuluh”, Mas Sabrang bersama Mbah Sujiwo Tedjo membahas empat tingkatan logika. Ada empat formal klasifikasi logika: Pertama, Zero Order Logic. Logika level nol berbentuk pernyataan, entah benar atau salah, yang dibangun seseorang. Misalnya aku NKRI, aku pancasilais, dsb. Kedua, First Order Logic atau satu pemikiran yang sudah ada variabelnya. Misalnya kalau si A makan, bisa sakit perut. Si A itu bisa siapa saja. Kalimat itu bisa diterjemahkan dalam banyak kemungkinan. Berikutnya, Second Order Logic, pada tingkatan ini, pernyataan yang muncul sudah memiliki struktur atau setting tertentu. Selain variabel-variabel yang dinamis, logika pada tataran ini memiliki parameter. Contoh konkretnya adalah ketika berbicara tentang Indonesia, seharusnya sudah termasuk Second Order Logic karena harus dibangun dari kenyataan bahwa Indonesia terdiri dari kumpulan manusia sehingga kita tidak bisa menuduh orang Indonesia banyak yang bodoh.

Terakhir adalah Higher Order Logic, satu bangunan logis dari himpunan format-format pemikiran yang ditata ulang menjadi satu format dengan mana Mas Sabrang menyebutnya sebagai “super set”. Logika pada level ini memang tidak mudah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Pernyataannya akan menemukan kesulitan bila harus menggunakan bahasa sehari-hari karena dalam rangkaian kalimatnya telah terselip anak kalimat atau pada penafsiran tertentu bisa dianggap sebagai kalimat bersayap.  Logika level teratas ini akan lebih mudah dinyatakan dengan bahasa matematika atau Number Theory tentang set. Misalnya bilangan ganjil bertemu dengan bilangan prima, bertemunya ketika apa dan dari nol sampai tak terhingga. Sudah ngomong set bilangan ganjil, bilangan prima, disatukan pada set lebih besar pertemuannya sampai batas tak terhingga.

Selanjutnya, Mas Sabrang mengatakan bahwa output dari logika tidak harus sama. Meski sama-sama memakai logika, hasilnya berbeda sangat mungkin berbeda. Pada situasi ini kita tidak punya otoritas untuk mengklaim bahwa pernyataan orang lain tidak logis karena set data kita tidak sama—yang akan menghasilkan perbedaan output. Pastikan dulu penggunaan data yang sama sebelum berharap muncul output yang senada dan seirama.

Dewasa ini, kita banyak bertengkar karena pernyataan-pernyataan yang kita yakini kebenarannya. Misalnya statement “Aku pancasilais” berhadap-hadapan dengan “Aku khilafah”. Juga pertentangan antara cebong, kampret, kadrun. Pertengkaran-pertengkaran itu semkain tidak bisa diterima nalar sehat karena sejatinya masih banyak kegiatan lain yang bisa kita lakukan dengan kebermanfaatan lebih luas.

Kenapa tidak kita tingkatkan saja level logika kita untuk belajar memahami diri sendiri sebagai manusia seutuhnya sekaligus sebagai hamba Tuhan. Misalnya kalau kita ngomong tentang Indonesia, set SARA itu bisa kita jadikan keberangkatan kita untuk Bhinneka Tunggal Ika, salah satunya bisa menggunakan pendekatan logika dari Tuhan: fastabiqul khairat. Jadi kita dari latar belakang apapun mencoba berkumpul, menyatukan gerak dengan berlomba-lomba berbuat kebaikan pada dimensi kapan pun dan di mana pun.

Mengenai hal ini, Mbah Nun sering mengatakan bahwa “Tidak penting kita siapa dan berasal dari mana, yang penting kehadiran kita bermanfaat atau tidak bagi sekitar.”

Jadi, pertengkaran-pertengkaran karena argumentasi yang ditenagai oleh keyakinan merasa paling benar itu seharusnya sudah tidak terjadi lagi jika kita mau belajar meningkatkan level logika kita. Salah satu cara meningkatkan level logika kita adalah dengan belajar melalui agama. Kita semestinya terus belajar dan mendalami Al-Qur’an sebagai bahasa logika yang diajarkan oleh Allah kepada seluruh umat manusia agar terjadi peningkatan level logika.

Sinau Bareng pada Majelis Ilmu BangbangWetan edisi Juni 2022 ini, setidaknya bisa kita harapkan ada kenaikan level logika kita dari sekadar pernyataan atau statement biasa-biasa saja menjadi satu set atau struktur pemikiran yang lebih luas sampai tak terhingga. Mari datang dan semarakkan Sinau Bareng di Majelis Ilmu BangbangWetan sedulur semua, sudah saatnya terjadi level logika kita terus meninggi.

Lau anzalnā hāżal-qur`āna ‘alā jabalil lara`aitahụ khāsyi’am mutaṣaddi’am min khasy-yatillāh, wa tilkal-amṡālu naḍribuhā lin-nāsi la’allahum yatafakkarụn. Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.

—oOo—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *