HIJRAH  MASA LALU DAN MASA KINI

Oleh : Ahmad Fuad Effendy

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia. (Al-Anfal 74)

Hijrah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagian besar pengikutnya dari Mekkah ke Madinah pada tahun ke-13 kenabian (622 M) adalah peristiwa yang sangat penting dalam sejarah dakwah Islamiyah. Salah satu indikatornya, adalah disepakatinya momentum hijrah itu oleh umat Islam pada masa khulafa`ur rasyidin sebagai permulaan kalender (taqwim) Islam, yang kemudian dikenal dengan kalender hijriah.

Hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya itu bukan untuk melarikan diri dari medan dakwah di Mekkah, melainkan sebuah pilihan strategi untuk pengembangan dakwah yang lebih luas. Bukan pula sebuah keputusan mendadak dengan mengandalkan tawakkal kepada Allah, tapi sebuah langkah yang sudah disiapkan dan diperhitungkan dengan masak. Kendati demikian, pilihan berhijrah bukanlah pilihan yang mudah bagi kaum mukminin Mekkah, karena mereka harus meninggalkan tanah air, harta kekayaan, bisnis yang sudah mapan, bahkan sebagian harus meninggalkan keluarga.

Dalam hubungannya dengan hijrah ini, kaum muslimin pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dapat dibedakan menjadi empat golongan. Pertama, kaum muslimin penduduk Mekkah yang berhijrah ke Madinah pada gelombang pertama, yaitu sebelum Perjanjian Hudaibiyah. Kedua, kaum muslimin penduduk Madinah, yang menjadi tuan rumah dan menyediakan fasilitas bagi para muhajirin. Yang paling utama dari golongan ini adalah mereka yang membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Aqabah I sebanyak 7 orang dan Aqabah II sebanyak 70 orang laki-laki dan 2 perempuan. Kedua golongan ini disebut As-Sabiqun al-Awwalun sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah 100: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Ketiga, adalah kaum muslimin penduduk Mekkah yang tidak ikut berhijrah karena berbagai alasan. Terhadap kelompok ini, umat Islam di Madinah tidak punya kewajiban untuk melindungi mereka karena mereka berada di wilayah yang dikuasai oleh orang-orang kafir. Kecuali jika mereka meminta bantuan atau pertolongan dalam urusan agama mereka, maka kaum  muslimin wajib menolong mereka. Itu pun jika tidak terdapat perjanjian antara kaum muslimin di Madinah dan kaum di mana orang-orang Islam tadi berada (Al-Anfal 72). Keempat, adalah kaum muslimin penduduk Mekkah yang berhijrah belakangan, yaitu setelah adanya Perjanjian Hudaibiyah. Mereka ini, menurut ayat 75 surat Al-Anfal harus diterima sebagai bagian dari golongan kaum muslimin. Demikianlah, hijrah merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim, sampai dibebaskannya kota Mekkah, sehingga berubah statusnya dari dar al-kufri menjadi dar al-iman.

Hijrah tidak bisa dipisahkan dari iman dan jihad (dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah ….). Iman lah yang menjadi landasan dan sekaligus penggerak hijrah. Hijrah adalah satu bentuk jihad. Untuk berhijrah, seseorang harus berjihad melawan dirinya sendiri, jihadun-nafsi, karena berhijrah berarti meninggalkan banyak hal yang menyenangkan, yang dicintai. Frasa pada jalan Allah (fi sabilillah) yang selalu menyertai kata jihad, harus dimaknai sebagai syarat sahnya sebuah hijrah dan jihad. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan “Barang siapa berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan dapatkan Allah dan Rasul-Nya; tapi barang siapa berhijrah untuk dunia (mungkin) dia akan memperolehnya; atau berhijrah untuk wanita (mungkin) dia akan mengawininya”. Sama-sama berhijrah dan berjihad, bisa berbeda nilainya, tergantung pada niatnya.              

Bagaimana dengan hijrah kita di masa sekarang? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa “Tidak ada hijrah setelah pembebasan Mekkah, yang ada ialah jihad dan niat”. Pintu jihad terbuka sampai hari kiamat. Dalam hadis lain beliau bersabda bahwa “Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala. Dalam hadis ini beliau memberikan makna yang paling mendasar dari hijrah, yakni “meninggalkan larangan Allah”. Inilah hijrah kita sepanjang zaman. Hijrah adalah  niat, tekad, dan perjuangan untuk meninggalkan tempat atau keadaan yang membahayakan iman menuju tempat yang menyuburkan iman. Hijrah adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Berubah dari kekufuran kepada iman. Berubah dari kufr an-ni’mah kepada syukr an-ni’mah.  Berubah dari maksiat kepada taat, dari sami’na wa ‘ashaina kepada sami’na wa atha’na. Berubah dari orientasi hidup duniawi kepada orientasi hidup ukhrawi. Berubah dari menyembah thaghut (idola, pemimpin pujaan, partai, organisasi, ideologi) kepada menyembah Allah yang tiada sesembahan selain Dia.

Karena hijrah adalah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, maka fenomena pindahnya seorang politisi dari satu partai ke partai yang lain bisa juga disebut sebagai “hijrah”. Akan tetap nilai hijrahnya tergantung kepada niatnya. Ketika seorang politisi keluar dari partainya dengan alasan bahwa arah dan kebijaksanaan partainya sudah dinilainya bertentangan dengan prinsip kebenaran dan keadilan, atau prinsip akidah dan syariah pokok agamanya, maka hijrahnya adalah hijrah kepada kebenaran atau kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, jika motivasi pindahnya adalah untuk mengejar jabatan dan harta kekayaan atau keuntungan duniawi lainnya, maka mungkin dia akan memperoleh apa yang diinginkannya, atau tidak memperolehnya sama sekali, dan sangat wajar kalau masyarakat menyebutnya sebagai “kutu loncat”. Wallahu`a’lam.

 

 

 

Ahmad Fuad Effendy atau Cak Fuad, adalah salah satu marja’ (rujukan) Maiyah. Dipercaya sebagai anggota Majelis Ummana ( Board of Trustees) di King Abdullah bin Abdul Azis International Center of Arabic Language.