Oleh: Rio NS

 

Assalamualaikum, Aksana…

 

Tak terasa, Januari sudah sampai di pekan terakhirnya. Sementara hujan masih enggan datang dan panas lebih rajin menyapa. Berita cuaca macam ini terasa klise karena laju waktu lebih sering tak seiring dengan kinerja dan perwujudan rencana-rencana.

 

Namun begitu, kupastikan bahwa irama masa tak perlu lagi kita keluhkan. Tidak seperti Mick Jagger yang sempat merintih dalam “Hard Woman” dengan pernyataan pilu “…time go so fast and new love come so slow”.. Hehehe…itu lagu memang ia gubah untuk seseorang yang membuatnya sedih berkepanjangan. Satu lagi kenyataan betapa si mulut dower pun sesekali merasa tak dihiraukan oleh cewek idaman.

 

Padi mulai ditanami. Beberapa di antara kami memang masih memilih jagung karena keyakinan bahwa hujan tak kan sederas kebiasaan. Satu hal, musim memang dinamis ternyata. Sehingga ilmu titen terkait Pranata Mangsa memerlukan bukan hanya hafalan tetapi juga pemahaman dan informasi menyeluruh tentang gejala alam.

 

Kandang ayamku belum juga diisi. Chick in terus mengalami penjadwalan ulang karena pihak inti mesti mengatur secermat mungkin jumlah sebaran DOC mereka sebagai efek dari regulasi kementerian Pertanian dan Tanaman Pangan. Pembatasan jumlah produksi DOC dari perusahaan pemilik breeding farm diterapkan menyusul harga ayam dari peternak yang secara mengejutkan mengalami fluktuasi. Masih terekam rasa pahit ketika Idul Fitri tahun lalu panenku disambut jatuhnya harga hingga level yang mirip cerita fiksi.

 

Kedudukanku sebagai plasma hanya bisa mengikuti apapun program kerja pihak inti. Disinilah sebenarnya kelihaian memanfaatkan waktu luang mesti kita miliki. Tentu saja, bukan hanya lihai bermanuver di waktu senggang namun juga ketersediaan sarana dan alat-alat produksi. Sehingga ide dan kreasi bisa diantarkan menjadi solusi.

 

Di tengah kesibukanku melawan sepi, aku mendapat semacam protes dari seorang melalui WA bahwa usaha ternak ayam yang kini jadi sandaranku dan keluarga adalah penyumbang kadar asam di udara sekitar. Dia menjelaskan betapa hujan asam adalah ancaman bagi terpenuhinya kebutuhan udara segar. Dan peternakan adalah kontributor utamanya.

 

Tidak sampai menimbulkan radang, cuitan temanku itu aku olah kembali bersama pengetahuan yang aku punya. Seingatku, budidaya peternakan memang merupakan penyumbang penting terjadinya efek rumah kaca dan hujan asam. Tapi tidak sesederhana itu, Rudolfo !. Meningkatnya nitrat dioksid dan carbon dioksida lebih disebabkan produk metana yang dihasilkan oleh binatang golongan memamah biak/ruminansia . Dari kotoran tinja sampai kentut dan sendawanya mengotori udara bersih yang kita konsumsi tiada henti.

 

Artinya, budidaya sapi, kambing, dan domba secara massif adalah penyumbang utama emisi Gas Rumah Kaca. Pada giliran berikutnya, dampak langsung yang bisa kita rasakan adalah pemanasan global dengan mana kekacauan musim dan carut marut iklim semakin nyata gejala dan transparansi akibatnya.

 

Meski demikian, tidak berarti peternakan  unggas tidak menyebabkan pencemaran. Zat utama yang dihasilkan dari peternakan ini adalah amoniak.  Amoniak yang kadarnya berlebihan bisa menyebabkan gangguan serius terhadap produktivitas hewan ternak itu sendiri. Selanjutnya, bila kadarnya melampaui ambang batas minimal, zat ini akan mengotori tanah, air dan udara.

 

Gas Metana dan amoniak sebagai efek samping pemeliharaan ternak adalah sebagian dari keseluruhan penyebab semakin terseoknya kinerja bumi. Jangan lupa, masih ada polusi yang berasal dari pemakaian bahan bakar fosil untuk kebutuhan transportasi dan terus ngebulnya asap dari cerobong panjang industri.

 

Lebih jauh, seruan untuk mulai mengurangi konsumsi daging dan telur bahkan mencoba menjalani hidup vegetarian tidak akan berhasil meremajakan bumi. Gerakan global terpadu atasnya mestilah kita jalankan bersama-sama. Meski masih bersifat utopis, gerakan kembali ke alam, menggalakkan budaya “merdesa” dan urip sakmadya nampaknya menjadi jawaban jitu atas permasalahan lingkungan.

 

Kepada temanku itu, kusampaikan terima kasih atas peringatan dini yang telah ia dengungkan. Secara guyon maton kusampaikan kepadanya bahwa sepakterjangku kini di seputaran “LB” sementara yang sempat membuatnya panik adalah budidaya “LS”. Satu huruf yang menjadi pembeda serta makna ikutannya.

 

Kuakhiri sampai di sini, Aksana. Cepatnya waktu dan musim nan tak menentu sedikit saja memberikan usikan bagi keyakinan, cinta dan harapan yang terus menerus kita jaga.

 

000ooo—ooo000

 

Sekilas tentang penulis : Karena miilleu di sekitarnya lebih banyak millenials, Penulis terbawa rasa untuk selalu muda. Walau rambut perak di kepala kian membuncah, sebanyak ide yang belum tuntas dituangkannya.
Komunukasi bisa dijalin melalui FB N. Prio Sanyoto

 

Catatan:

Chick in: hari masuknya bibit anak ayam, dari sinilah umur produktif ayam dimulai

DOC: Day One Chick, bibit anak ayam berumur 1 hari

LB: Livebird, istilah yang merujuk pada ayam hidup yang diambil/dipanen dari peternak

LS: Livestock, ternak, budidaya hewan ternak baik unggas maupun ruminansia