Oleh : J.Rosyidi

Hukuman adalah sebuah keniscayaan adanya. Neraka pun disediakan Allah sebagai bentuk hukuman bagi hambanya. Begitupun dalam konteks pendidikan anak, saya sama sekali tidak sependapat dengan arus yang menuntut dihapuskannya hukuman sama sekali.

“Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya’” (HR. Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688).

Demikian Rasulullah mengajari kita tentang adanya hukuman sebagai sebuah konsekuensi perbuatan yang salah. Tapi apakah pernah Rasulullah menghukum anaknya? Sepanjang ingatan saya yang pendek ini, tidak.

Beda dengan kita. Sedikit-sedikit menghukum anak. Minimal kalau ada perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan kita, kalau bukan hukuman fisik, ya kemarahan kita luapkan. Padahal baik hukuman fisik maupun kemarahan itu tak ada bedanya. Keduanya akan membekas dalam memori anak dan tentunya memberi efek yang buruk. Bahkan sebuah kemarahan -menurut sebuah penelitian-  terhadap ananda akan memutus jutaan sinapsis yang sudah terbentuk di otak.

Terlebih seringkali hukuman yang kita berikan  atau kemarahan kita meluap itu hanya gara-gara masalah yang sepele. Masalah yang bukan prinsip.  Air tumpah. Mainan berantakan. Gelas pecah. Masalahnya seringkali kita tidak benar-benar tahu mana yang prinsip dan mana yang bukan. Atau kalaupun tahu, kadang antara ayah dan ibu tidak sama menilai mana yang dinilai sebagai sesuatu yang prinsip ataupun bukan. Sehingga yang terjadi adalah ketidak-konsistenan.

Lantas harusnya bagaimana? Perlu kita ketahui bahwa setiap perilaku melahirkan konsekuensi tersendiri. Pun demikian juga dengan tindakan anak-anak kita yang kemudian kita berikan hukuman -karena kita anggap sebuah kesalahan. Sehingga bukanlah sebuah hukuman yang harus diberikan kepada anak, melainkan sebuah tanggungjawab atas “kesalahan” yang mereka lakukan.

Bila anak lupa merapikan mainananya, maka ajaklah anak-anak untuk merapikannya. Bukan malah mengomel ngomel tidak jelas. Bila anak menumpahkan air, ajarilah anak untuk mengeringkannya.

Bila anak memecahkan gelas, maka periksalah tangan -atau anggota tubuh ananda- terlebih dahulu. Pastikan tidak ada yang terluka dulu. Bukan malah membentak-bentak ananda. Sehingga ananda tahu bahwa prioritas ayah bunda adalah ananda hingga bonding akan semakin erat. Setelah dipastikan “aman”, ayah-bunda bisa mengajak anak untuk membersihkan serpihan serpihan kaca. Ajari dia bagaimana meletakkan gelas di tengah meja, sehingga tidak rawan untuk jatuh.

Pemahaman akan konsekuensi atau tanggungjawab terhadap sebuah kesalahan akan membentuk logika anak secara baik. Logika yang baik pada gilirannya membuat anak mampu memicu kedewasaan anak lebih baik.

Sekali lagi teori ini mudah untuk dikatakan. Namun sumbu kesabaran kita tidak cukup panjang hingga mudah tersulut. Maka dibutuhkan ketrampilan untuk sabar. Caranya sederhana sebenarnya, yakini bahwa semua yang terjadi pada anak -termasuk hal yang kita anggap sebagai kesalahan – adalah proses belajar anak yang akan bermanfaat untuk kehidapannya kelak. Dan ingat bahwa anak adalah investasi terbaik dari orang tua. Masak sih kita akan merusak investasi terbaik kita?

Pada sisi sebaliknya, kita juga seringkali memberikan hadiah yang sejatinya itu adalah sebuah sogokan buat anak. Yang apabila kita teruskan dalam waktu yang lama, maka akan merusak anal kita. Loh kok bisa? Silahkan tunggu tulisan edisi selanjutnya.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi