Kolom Jamaah

Ia yang Sudah Haji, Namun Baru Berangkat Esok


` Haji itu adalah (wukuf) Arafah ` (Al Hadits)

Sungguh aku menemukan suatu kenyataan itu kawan. Aku akan bercerita bagaimana saudaraku yang satu ini aku yakin sudah haji meski ia belum berangkat!

 

Wukuf

Asal mulanya aku tak sengaja berjumpa lagi dengan hadis itu. Seorang khatib jumat mengantarkan kembali ingatanku pada dawuh kanjeng Nabi tercinta yang direkam sempurna oleh para sahabat, bahwa inti haji adalah wukuf di Padang Arafah. Sang khatib menyampaikan secara syariat kesakralan wukuf di Arafah. Wajib yang paling wajib. Rukun yang paling rukun. Tak bisa ditebus denda atau apapun untuk menggantikan wukuf. Laksanakan wukuf atau tidak sah ibadah hajimu.

Keberangkatan haji saudaraku ini melanglangkan pikiran liarku pada pertanyaan, mengapa wukuf di Arafah sebegitu penting dan sakralnya dalam rangkaian ibadah haji?

 

Tiadakan Diri

Aku mengingat kalam seorang guru dari Sekarjalak – Pati beberapa tahun silam : *belajarlah unuk mati setiap saat*, karena puncak prestasi manusia sang makhluk di hadapan penciptaNya adalah  jika ia kembali ke (jalan pulang) haribaanNya dalam keadaan tidak membawa *diri*nya, melainkan hanya Allah yang tersisa.

Mematikan diri adalah meniadakan kehendak kita untuk pasrah ( islam = pasrah ) kepada kehendak Ilahi. Tidak mengenal kosa kata ego pada langkah kehidupannya. Karena ego adalah saudara manusia bernama nafsu, yang senantiasa ingin menempel rekat segala aktifitas.

Turunan dari ego atau kehendak diri adalah eksistensi. Meneropong kondisi terkini yang sangat memuja eksistensi, sungguh aku sedang menemukan kebenaran jalan yang ditunjukkan Rasulullah dan kesesatan makmumnya Dajjal !

 

Photo Negatif Dajjal

Apakah kita pernah merasakan desir bahagia dihati – yang rasanya mirip-mirip minum air soda bila dipersonifikasi – tatkala selesai berswafoto dengan kamera? Lalu hati kita ada hasrat lain ingin untuk orang lain tahu `betapa betapanya` aku di foto itu? Lalu lanjut senyum-senyum sendiri membayangkan komen pujian dari yang melihat foto itu?

Atau kita sering merasa makan tidak enak tidurpun tidak nyenyak karna sebab kelompok kita, follower kita, atau seluruh isi dunia maya belum satu pun ada yang kasih komentar atas status yang baru kita tulis? Atau malah tak lupa kita copy kalimat nasehat dari seseorang entah siapa, lalu kita kirim ke seluruh teman didunia, sambil membayangkan bahwa sang teman minimal pasti mengira bahwa kita suka sekali dengan nasehat-nasehat kebaikan, atau malah mengira pengarang nasehat itu adalah kita?

Dalam dunia nyata, apakah kita akan beli kulkas 2 pintu karna sebab tetangga beli lemari es yang 1 pintu. Kita usul kenceng-kenceng di rapat tujuh belasan kemarin, supaya dikenang bahwa yang mengusulkan jalan sehat RT adalah kita, padahal sebelumnya memang sudah rutin tiap tahun diadakan.

Hal-hal yang aku ceritakan diatas semisal dipotret dengan kamera khusus, per frame kejadian-kejadian diatas begitu di cuci cetak pastilah hasil klise negatifny phoito Dajjal…

 

Kematian yang Agung

Kembali ke wukuf, aku mencurigai ia adalah desain Allah untuk mengembalikan kondisi manusia sesuai factory reset. Aku hanya berani curiga karena aku hanya berani menduga maksud behind the scene nya, sedang melakukannya sendiri pun aku belum pernah.

Sebegitu banyak manusia, dikumpulkan dalam satu padang lapang, hanya untuk berdiam. Apa maksud disuruh berdiam itu, benar-benar membikin curiga. Berdiam hanya melakukan yang wajib semacam sholat, selainnya tidak ada yang baku anjurannya.

Aku menduga saat wukuf itu adalah saat Allah ingin menengok hambanya di lapangan luas Arafah, siapakah yang sedang dan sudah berhasil meninggalkan kediriannya? Apakah hambaku datang bersimpuh munajat di Arafah ini tidak membawa ego eksistensi dan gelar duniawinya? Apakah benar yang ada hanya Aku, bahkan kamupun sesungguhnya tidak ada, kata Allah?

Berjuta-juta hamba berkain putih – tidak ada model atau warna lain – menyiratkan bahwa Allah hendak menyapa hambanya tanpa embel^embel eksistensi keduniawiannya. Allah seakan ingin berjumpa dengan kesempurnaan manusia yang hakiki, yaitu kesadaran Allah adalah kita di bumi (khalifatullah), minimum kesadaran kita sebagai hamba Allah (Abdullah). Benarkah para hambaku ini setelah sekian lama hidup mau menempuh kematian yang agung, yaitu kematian kehendak diri untuk mengikuti kehendak Tuhan. Tidak mengurusi eksistensi, yang dipikirkan hanya amalan yang dirasa selalu kurang.

 

Ia yang sudah haji, namun baru berangkat esok

Kalau benar dugaan dan kecurigaanku pada behind the scene desain syariat Allah diatas, maka aku kabarkan padamu bahwa aku punya saudara. Yang saudaraku ini aku persaksikan sebenar-benarnya bahwa ia telah `wukuf`. Karena ia telah wukuf, maka kusingkat ia telah haji. Rambut kepalanya baiknya ditutupi kain putih untuk lebih mudah menangkap frekuensi-frekuensi kebaikan.

Ia tidak pernah sekalipun mempertotonkan ke-eksissannya. Ia tidak peduli dengan potret buram fisiknya. Tak berpikiran sedikitpun memancing komentar apalagi pujian. Aku dan saudara-saudaraku yang lain bahkan kerap mempergoki sesungguhnya ia sering pura-pura tidak lelah meski fisiknya menunjukkan sebaliknya. Ia tidak mau dianggap tua karena khawatir yang muda tidak memberinya ruang untuk berjariah tenaga mengurus sana sini.

Ia sangat sangat tidak peduli eksistensi. Ia sangat sangat tidak peduli eksistensi. Kuulangi lagi : Ia sangat sangat tidak peduli eksistensi. Ia adalah antithesis salah satu jurus virus dajjal, yang mengoda seluruh lapisan umur untuk sebisa mungkin dianggap ada. Eksis. Eksistensi. Ia benar benar sudah selesai….

 

Ia, saudaraku ini, aku yakin sudah wukuf sebelum di Arafah. Hidupnya dekat dengan ketenaran namun tak direngkuhnya. Mata minusnya tak lantas membuatnya silau dengan tawaran surganya dajjal. Ia sangat teguh bersama Sang Mahaguru menelaah dan menyelidiki mana neraka yang diiinfokan dajjal sebagai surga.

Ia, saudaraku ini, aku yakin sudah wukuf sebelum di Arafah. Ia menghilangkan dirinya terus menerus. Ia berangkat haji menurutku hanya untuk menerima panggilan rindu penciptaNya. Untuk menerima stempel ridla dari Tuhannya

Aku tak sanggup meneruskan. Sisi lain jiwaku tak kuat menanggung rindu menempuh perjalanan sepertinya….

Selamat menempuh setiap prosesi ibadah haji dengan enjoy Kumendan Dudung !!!

 

 

Oleh : Rachmad Rudianto

Penulis merupakan bagian dari penggiat Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan Jawa Timur .