Kolom Jamaah

Ibnu Al-Sabil – Bukan Anak Jalanan (4)

Kemlagen #28

Oleh: Samsul Huda

Surat At-Taubah ayat 60:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Anak jalanan, secara denotatif bermakna anak jalan, anaknya jalan. Anak yang waktunya lebih banyak di jalan atau jalanan. Secara konotatif, anak jalanan bermakna negatif. Anak mbambung, anak nakal, anak résék yang hidupnya suka keluyuran.

Demikian halnya ibnu al-sabil. Secara etimologis berarti anak jalan, anaknya jalan. Secara sosiologis, ibnu al-sabil bisa bermakna orang yang hidupnya di jalanan. Hari- harinya ada di jalan, penghasilan atau nafkahnya didapat dari jalanan. Dari pandangan syar’i, ibnu al-sabil bermakna orang Islam yang melakukan perjalanan mubah, perjalanan yang diperbolehkan secara agama (bukan perjalanan untuk maksiat) namun kehabisan biaya sehingga tidak bisa melanjutkan atau untuk pulang kembali ke rumah.

Dari berbagai pemaknaan itu jelas bahwa saya bukan ibnu al-sabil yang berhak mendapatkan zakat. Karena hari-hari hidup saya ada di jalanan dalam rangka bekerja, berjualan untuk mengais rezeki. Naik turun bus jurusan Surabaya–Malang dan keluar masuk gang-gang di sebagian kawasan Kota Malang adalah keseharian hidup saya. Jadi saya adalah ibnu al-sabil yang bukan mustahiq (penerima zakat) dari para muzakky (orang yang wajib zakat).

Untuk menghindari pangsa pasar yang sama dengan teman-teman seprofesi di halte bus dan SPBU Singosari dan Lawang serta untuk memudahkan dan menyesuaikan jadwal perkuliahan, maka saya harus berani mencari pangsa pasar baru. Tidak bersama mereka lagi di dalam menjajakan kue onde-onde. Tidak mudah, tapi harus dimulai. Gelap gulita perjalanannya, namun harus dilewati. Maka saya harus memulai menelusuri dan keluar masuk gang-gang di Kota Malang dengan berjalan kaki.

Karena saya kuliah sambil berjualan kue di jalanan, maka saya harus mencari rute perjalanan yang mengarah dan mendekat ke kampus. Rute itu tidak langsung bisa ditemukan tetapi harus melalui beberapa kali perjalanan try and error sampai akhirnya ketemu rute yang pas.

Kalau di kawasan Wonokromo Tengah, Surabaya, tahun 1984 saat kelas dua MA, saya menyediakan aneka macam kue basah tradisional dengan cara nyunggi lengser sebagaimana yang saya tuliskan di Kemlagen #15, (Nyunggi Lêngsêr-Amul Huzni 3) maka saat di Malang saya berkalung “blek” yang terbuat dari kaleng bekas tempat minyak goreng 25 kg. Kaleng tersebut dimodifikasi dengan membuat katup buka tutup di bagian atas dan kaca transparan di bagian depan. Bagian kanan kiri dikasih tempat pengikat tali plastik yang dikalungkan ke leher. Tali plastik tersebut kemudian dimasukkan ke dalam selang plastik agar saat dipakai tidak terasa sakit di pundak/leher.

Akhirnya, rute yang bisa mendekatkan tempat tinggal yang disediakan ke Kampus IKIP di Jl. Surabaya ketemu. Dimulai dari Jl. Polowijen, saya berjalan kaki sambil berjualan menuju perempatan dan Pasar Blimbing. Terkadang, di dua kawasan ini saya berjualan juga. Dari sana, saya naik bemo arah Kota Malang dan turun di depan RSU Saiful Anwar.

Di rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu, saya jajakan lagi dagangan. Lalu berjalan menuju pertigaan Polresta Malang (sekarang berubah menjadi bangunan hotel). Dari pertigaan Polres, saya berjalan kaki ke arah kampus sambil keluar masuk gang-gang di sepanjang jalan  Oro-oro Dowo sampai perempatan jalan Bandung. Melalui jalan Bogor, saya masuk kampus lewat pintu gerbang belakang. Irama dan tempo perjalanan jualan selalu saya sesuaikan dengan jadwal perkuliahan. Saya tidak mau terlambat masuk kuliah apalagi bolos. Sebelum memasuki kampus, kue dagangan saya titipkan di rumah kost seorang teman satu kelas atau di warung langganan saya.

Setelah jadwal kuliah hari itu selesai, saya melanjutkan jualan kue onde-onde keliling lagi sampai habis sambil melanjutkan perjalanan pulang ke rumah juragan di Polowijen. Untuk itu, saya harus naik bemo dua kali oper untuk pulang. Pertama, naik bemo turun di depan Polresta (sebelum pertigaan). Kemudian ganti bemo jurusan Blimbing.

Begitulah rutinitas kehidupan selama ikut juragan onde-onde sambil tetap melaksanakan semua kewajiban sebagai mahasiswa IKIP Malang. Ketika tidak ada jadwal kegiatan di kampus atau hari libur, saya bergabung dengan teman-teman berjualan bersama di SPBU Lawang dan Singosari serta naik turun dan keluar masuk bus jurusan Surabaya– Malang.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *