Oleh : Mashita Charisma Dewi Eliyas

 

Senin, 7 september 2020 tepat pukul 15.55 WITA saya mendapat kabar bahwa Bunda Cammana dipundhut Gusti Allah. 30 menit sebelum saya mendengar kabar tersebut, Mas Hari mengabarkan di pesan whatsapp untuk kirim doa kepada beliau. Secara bersamaan saya menghubungi Mas Wakijo, di ujung telepon beliau memberi informasi “Bunda sudah ndak respon nduk”. Buliran air mata tidak sengaja terjatuh dari kedua bola mata. 23 November 2019 lalu, saya dan 15 Jamaah Maiyah mendapatkan sebuah keberuntungan tersendiri karena sempat berjumpa dengan beliau di Tanah Mandar. Senyum terukir indah saat menyambut kedatangan kami. Sapa kasih dan cintanya kepada kami yang disebut “cucu” masih tergambar jelas saat kami menatap beliau.

 

Beliau memang tidak pernah berbicara kepada kami secara pribadi karena kendala bahasa namun sorotan mata yang dipancarkannya lebih dari sekedar kata. Kesan yang ditimbulkan sangat menghangatkan. Kami yang hadir merasakan cinta beliau yang teramat besar. Sholawat yang dilantunkan saat itu menjadi semakin syahdu dengan rebana sederhana dan suara merdunya mengiringi kemesraan sore itu. Satu bait sholawat yang dilontarkan beliau dengan bahasa Mandar diterjemahkan oleh pak Hamzah (salah satu anggota Teater Flamboyan) yakni “Jejakmu akan terekam di hati, cintamu akan teringat di hati.” Bunda Cammana tetaplah sosok ibu atau nenek penebar cinta bagi kami, ada atau tidaknya raga beliau tetaplah tertanam cinta dan kasihnya untuk kami. Jamaah yang bersinggungan langsung maupun yang hanya mendapat cerita tentang beliau pasti akan merasakan energi cinta beliau.

 

Bunda Cammana sudah berkumpul bersama kekasihNya disana. Kami menyebutnya wanita kekasih Kanjeng Nabi. Beliau adalah sosok ibu yang sederhana. Seorang pecinta sholawat yang setiap sore masih aktif mengajar ngaji anak-anak di sekitar kediamannya Desa Limboro, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar. Terimakasih bunda, sudah mengijinkan kami singgah di istanamu. Saya akan tetap berbakti kepadamu sebagai cucu dengan bertegur sapa lewat doa.

Saya merasa kehilangan sosok wanita yang menebar cinta dan kasih yang tulus. Saya beruntung pernah bersinggungan langsung dengan beliau. Kami yakin, tempat terbaik untuk Bunda Cammana di haribaanNya.

 

Surabaya, 8 September 2020

Penulis adalah Jamaah Maiyah asal Sidoarjo yang berkecimpung dalam bidang pendidikan anak usia dini serta aktif menulis .Bisa disapa di akun instagram @sitaeliyas