Oleh: Moh. Husen

(Untuk 12 tahun BangbangWetan)

Salah satu tempat saya mencari ilmu, selain lingkungan sekolah atau kehidupan kampus adalah Bangbang Wetan. Tahun 2008 adalah pertama kali saya menjejakkan kaki di majelis ilmu Bangbang Wetan. Terakhir saya kesana, diikuti perasaan bungah karena Cak Nun hadir bersama Kiai Kanjeng, Novia Kolopaking, Noe Letto, Cak Fuad, dan Syekh Nursamad Kamba dalam perhelatan Nggayuh Welasan pada bulan September 2017. Cak Nun, sang penabur ilmu di Bangbang Wetan bagai tak sudah-sudah menaburkan ilmu dan cahaya kepada kami. Meskipun demikian, Beliau tak akan pernah mau disebut guru, kiai, ataupun sebutan muluk lain, cukup ‘cak’ atau ‘mbah’..

 

Ingatan saya bergelayut hingga ke tahun 2009 saat Bangbang Wetan berulang tahun. Ketika itu Cak Nun menuturkan tentang ilmu glepung dan butiran atau jasad. “Nek aku butiran rek, aku nagih nang Indonesia. Nek aku Ainun aku nagih nang Indonesia. Jasaku akeh nang Indonesia. Tapi aku gak nagih opo-opo, aku iki glepung. Ainun iku gak onok, seniman iku gak onok, penyair iku gak onok, kiai iku gak onok. Aku glepung.” Tandas Cak Nun saat itu.

 

Sebuah konsep tauhid yang luar biasa. Sebuah kesadaran diri mengenai la ilaha illallah. Hanya Allah yang Maha Ada. Selain Allah, hakikatnya tiada. Begitulah ilmu glepung yang saya dapatkan di Bangbang Wetan sebelas tahun yang lalu. Kini, di bulan September tahun 2018 Bangbang Wetan genap berusia 12. Semoga Bangbang Wetan dan kami semua–khususnya diri saya sendiri–mampu untuk tidak hanya berguru atau menggantungkan dirinya kepada butiran-butiran apapun saja, melainkan bersama-sama bermuwajjaha kepada Sang Maha Glepung Ruhani Allah Subhanahu Wata’ala.

Banyuwangi, 30 Agustus 2018

Moh. Husen. Penulis merupakan JM padhangmbulan dan BangbangWetan asli Rogojampi, Banyuwangi. Bisa ditemui melalui akun facebook Moh Husen