Puluhan polisi ditambah tentara anggota kodim datang dari berbagai penjuru. Lengkingan sirine dan kegaduhan motor membangunkan Uwais. Sisa mabuk semalam masih berada di kepala. Reflek bertahan hidupnya menuntun gerak langkahnya. Uwais segera mengendap keluar melalui pintu belakang sebelum polisi dan rombongan masuk rumahnya. Uwais mengendap hingga masuk ke rumah tetangganya yang pintu belakangnya tidak terkunci. Seorang ibu separuh baya pemilik rumah sedikit kaget melihat Uwais masuk kerumahnya. “Enek opo ke,” tanya si ibu. “Mboten wonten nopo-nopo Bu, Kulo tak nunut adus, kalih nyuwun Tulung njenengan pendetaken Yugo Kulo” begitu kata Uwais lirih, sambil memberi kode isyarat menempelkan jari telunjuk dibibir sebagai tanda agar ibu itu tidak ramai-ramai.

Si ibu tahu maksud Uwais, bergegas demi menyelamatkan bayi dilakukanlah permohonan Uwais. Anak Uwais yang masih bayi menangis keras. Si ibu tetangga Uwais datang tergopoh dengan tenang masuk ke rumah Uwais. Puluhan polisi memandang dengan mata penuh selidik. “Ibu siapa” kata salah seorang polisi. “Saya tetangganya, saya memang yang biasa mengasuh Thole” kata ibu setengah berbohong. Beruntung begitu digendongnya si ibu, bayi putri Uwais itu diam. “Ibu tahu dimana Uwais” selidik polisi lagi. “Tidak tau pak, saya Ndak pernah tahu pak Uwais pergi kemana, kerjanya apa!”. Jawab si ibu terbata. Kemudian si polisi menyuruh si ibu pergi. Si ibu pun kembali kerumahnya yang hanya selisih 3 rumah dari rumah kontrakan Uwais tersebut.

Uwais sudah selesai mandi. Si ibu datang menggendong putri Uwais. Uwais segera mengambil putrinya dari gendongan si ibu tetangganya itu. “Maturnuwun, pangeran sing mbales” begitu kata Uwais singkat. “Yo wes le, ati-ati Yo” jawab si ibu meski dalam hatinya ingin banyak bertanya. Si ibu terus memandang Uwais dengan rasa penasaran yang tinggi. Uwais tahu itu, tapi belum saatnya untuk menjelaskan.
Dengan mengenakan topi untuk sedikit menutup wajahnya Uwais melangkah setenang mungkin melewati puluhan polisi yang jelas sedang mencarinya. Didekapnya putri kecilnya erat-erat.

Setelah lolos berjalan ditengah polisi yang sedang mencari, Uwais segera numpang angkot yang lewat. Selanjutnya Uwais pergi ke Surabaya untuk hidup dengan Ibu Kandungnya. Hari itu menjadi penanda yang besar bagi Uwais untuk menutup masa lalunya yang Hitam.
——–

Semenjak usia empat tahun Uwais sudah mengenal Narkoba. Bapak Uwais setiap hari selalu menenggak Vodka dan menyimpannya di atas angin-angin pintu rumahnya. Uwais kecil selalu mengawasi hari demi hari. Hingga rasa penasarannya yang kuat membuat Uwais kecil tidak kuat diri untuk mencoba nyicipi minuman seperti apa yang selalu ditenggak bapaknya. Satu dua kali tenggorokan Uwais seperti terbakar, rasa pait-getir bercampur. Tapi ada sensasi rasa yang aneh. Begitulah seterusnya walaupun ada rasa tidak enak tapi dorongan sensasi rasa yang lain membuat Uwais terus mencoba. Sang bapak mulai tersadar, setiap kali mau minum isi botolnya tinggal sedikit. Bahkan beberapa kali botolnya kosong. Hingga akhirnya sak Bapak mengetahui sendiri bahwa Uwaislah yang telah menghabiskan minumannya.
Sang bapak menghukum dengan Keras, kaki Uwais dipukul dengan sapu, menyebabkan Uwais tidak bisa jalan beberapa hari. “Bapak tidak suka kamu mencuri dan berbohong. Dua hal itu jangan pernah kau lakukan” begitu peringatan yang dikeluarkan sang Bapak dan kemudian menjadi ilmu yang diingat Uwais sepanjang hidupnya.

Uwais tumbuh dengan memegang dua ilmu yang ditanamkan bapaknya. Dia terus minum mengikuti budaya yang berkembang di keluarga dan masyarakat sekitar. Uwais harus jujur seperti pesan sang bapak, maka Uwais tidak pernah menyembunyikan Minuman dari hadapan sang Bapak. Uwais kecil juga menjadi semacam maskot setiap kali ada kalangan perjamuan minum orang dewasa. “Lek aku lek” pinta Uwais kecil sambil ikut duduk dipinggir kalangan perjamuan minum. Diusia masih belia Uwais sudah ketagihan Vodka. Hingga memasuki remaja sehari minimal minum 3 botol Vodka, kalau tidak Uwais akan meriang.

Ketika ada undangan acara, Uwais selalu menjadi dermawan. Uang tidak ada hitungan untuk perusahaan dan kesenangan.
Demi menjaga tidak mencuri Uwais begitu kreatif. Puluhan motor pemberian sang ayah digadaikan bahkan dijualnya. Belum lagi perhiasan dan surat rumah.
Sehari Uwais bisa menghabiskan ratusan ribu bahkan puluhan juta. Tanpa bekerja dan tanpa mencuri. Rekor Uwais dalam sehari Mobil Avansa 1 habis dijual untuk pesta minuman dilokalisasi.

 

Oleh : Santrine Ndut

Penulis adalah penggiat maiyah serta seorang yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan